Jalan Merdeka Padat Merayap
Dampak BKB Ditutup

Pasca ditutupnya Benteng Kuto Besak, arus lalulintas di kawasan Monpera mengalami kepadatan kendaraan umum dan pribadi, Rabu (13/7).
Palembang, BP
Ditutupnya akses kendaraan ke kawasan Benteng Kuto Besar (BKB) berdampak pada padatnya arus lalulintas di Jalan Merdeka, Rabu (13/7).
Penumpukan ini disebabkan arus kendaraan dari Masjid Agung dan Pasar Sekanak bertemu di Simpang Sekanak, tepatnya di depan Pasar 26 Ilir dekat Kantor Walikota Palembang. Para pengendara yang belum mengetahui kawasan BKB ditutup, banyak yang langsung balik arah sehingga memperparah kondisi lalulintas.
Tingginya volume kendaraan yang tidak seimbang dengan kondisi jalan membuat terjadi penumpukan. Guna mengatur jalan agar tetap lancar, beberapa anggota Dishub Palembang diterjunkan. “BKB tutup, macet Palembang bertambah lagi,” kata seorang pengendara.
Sedangkan bagi mereka yang sudah telanjur masuk melewati kantor Walikota Palembang, harus memutar arah karena jalan telah ditutup pagar seng dan dijaga petugas Dishub.
Minimnya spanduk pemberitahuan di jalan menuju BKB, membuat pengendara kebingungan. Bahkan penempatan petugas dirasa perlu di depan Kantor Walikota agar pengendara yang hendak menuju Jembatan Ampera tahu.
Dampak dari penutupan akses kendaraan ke BKB, ikon wisata Kota Palembang itu kini terlihat lengang dari kendaraan yang pakir dan pedagang kakilima. Hanya satu dua kendaraan roda dua yang masuk.
Kendaraan yang tidak boleh melintas lagi serta pedagang kaki lima yang direlokasi ke kawasan Nusa Indah dan Pasar 16 Ilir membuat pemandangan kawasan BKB lebih nyaman.
Terlihat aktivitas para wisatawan dan masyarakat Palembang menikmati pemandangan tepian Sungai Musi dengan sangat nyaman dan menyenangkan.
Salah satu warga Palembang Wiwik, warga Kelurahan Talang Kelapa mengungkapkan, dirinya sangat senang dengan suasana baru di BKB. “BKB sekarang tidak ada lagi PKL, kendaraan yang parkir sembarangan maupun angkot yang melintas. Wah asyik kalo begini. Bisa bebas jalan-jalan ke BKB,” ujar Wiwik.
Hal senada diungkapkan Retno, warga Banyuasin, yang sedang berlibur ke Palembang. Ia menilai BKB sangat indah dan nyaman untuk wisata.
Lain halnya dengan pengamat transportasi Kota Palembang Syadina Ali. Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang ini berpendapat, penutupan Jalan Darussalam hanya menimbulkan titik kemacaten baru.
“BKB itu jalur urat nadi ke Ampera, kenapa harus ditutup,” katanya, kemarin.
Belum lagi, menurutnya, pemberlakukan penutupan BKB ini, tidak melibatkan pakar-pakar transportasi yang ahli di bidangnya. Ataupun melakukan seminar terbuka yang turut menjadi bagian terpenting dengan pemberlakuan penutupan jalan tersebut.
Syaidina Ali sangat mendukung jika Pemko Palembang ingin mempercantik kawasan BKB. Hanya saja banyak faktor yang harus diperhatikan. Mulai dari alasan mengapa jalan tersebut harus ditutup, juga harus memperhatikan sistem lalulintas yang telah ada, mengingat tingginya lonjakan jumlah kendaraan saat ini.
“Itu rekayasa jalan yang nantinya akan digunakan untuk angkutan umum, bagaimana dengan kendaraan pribadi? Itulah dibutuhkannya sosialisasi serta seminar- seminar yang melibatkan pakar transportasi di dalamnya,” katanya.
Seminar terbuka ini, dinilai Syaidina, sangat penting, mengingat opini masyarakat dan kebijakan yang diambil Pemko Palembang mesti bersinergi. “Dampak yang ditimbulkan akan ada di parkir, Ampera, dan Jalan Merdeka. Akan ada banyak sistem yang terganggu dari penutupan jalan BKB,” katanya.
Kalau memang komitmen Pemko Palembang untuk mengurai kemacetan, mestinya yang dikedepankan pelayanan jasa transportasi.
“Untuk mengurai kemacetan di bawah Jembatan Ampera, seharusnya sejak dulu angkutan umum untuk jurusan Plaju-Ampera dihilangkan. Apalagi saat ini sudah ada moda transportasi yang lebih nyaman seperti Transmusi. Menghilangkan rute ini dinilai tepat mengingat jumlah layak jalan angkutan umum ini sudah kedaluarsa,” katanya. #osk