Ketika Omzet Dodol Tak Lagi Manis
Lemahnya perekonomian disertai naiknya bahan baku berakibat omzet anjlok. Pembuat dodol pun gigit jari.
KEPULAN ASAP dan aroma wangi menyeruak ke permukaan. Gelembung–gelembung udara secara bergantian keluar dari adonan tepung ketan dalam kuali besar, yang terpanggang api ketika BeritaPagi menyambangi usaha rumahan pembuatan dodol di Desa Tebing Gerinting, Kampung 1 Kecamatan Inderalaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir (OI).
Usaha rumahan itu milik Maysuroh (60). Dalam menjalankan bisnis, ia dibantu adik iparnya, Neneng Awaliyah (36) dan 15 pekerja.
Hari Raya Idul Fitri benar-benar membawa berkah bagi ibu paruh baya ini. Permintaan pada momen besar umat Islam itu, sangat tinggi. Tahun lalu saja, pesanan bisa mencapai 15 ton dodol durian dan dodol ketan.
Namun menjelang Lebaran tahun ini, ia tak lagi sumringah. Gara-gara harga bahan baku naik, Maysuroh hanya mampu memroduksi delapan ton dodol saja. Itupun harganya terpaksa dinaikkan, dari biasanya Rp32 ribu per kilogram untuk dodol durian, menjadi Rp35 ribu per kilonya.
Diakuinya, untuk membuat 8 ton dodol dibutuhkan durian sebanyak 1 ton. Sementara harga durian Rp100 ribu per kg, ketan 200 kaleng, gula merah 2 ton dengan harga Rp16 ribu per kg, gula pasir 50 karung dengan harga Rp16ribu per kg, dan beras ketan 200 kaleng.
“Ya, sepi memang, harga bahan baku naik. Pembeli tidak mau beli harga baru, sementara saya tidak mau jual murah karena rugi. Akibatnya permintaan jadi sepi. Kalau soal upah untuk mengaduk dodol setiap orang per hari Rp 225 ribu, untuk memeras dan memasak kelapa upahnya Rp150 ribu per kuali. Modal buat dodol durian Rp150 jutaan, kalau sudah dijual hasilnya bisa dapat Rp250 jutaan,” katanya, Kamis (23/6).
Dodol-dodol ini dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Lubuklinggau, Palembang, Prabumulih, hingga Jambi dan Lampung.
Irawan, pedagang dodol lainnya, warga Desa Tebing Gerinting mengatakan, tahun lalu dirinya membuat 1 ton dodol durian. Namun tahun ini hanya 600kg lantaran sepinya permintaan. “Ya harga naik ekonomi sulit. Orang mengutamakan membeli pakaian Lebaran atau baju sekolah dibandingkan beli dodol. Jadi kami gigit jarilah karena sepi pembeli,” keluhnya. # henny primasari