PKB Prihatin Dengan Film Indonesia

23
Ida_FauziahJakarta, BP
Ketua Fraksi PKB DPR RI  Ida Fauziyah mengaku prihatin terhadap perkembangan film Indonesia yang hingga sekarang  belum mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Saya berharap  dengan regulasi perfilman nanti diharapkan film Indonesia bisa bangkit dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri  mengingat   budaya dan kearifan lokal menjadi inspirasi bagi insan film,” ujar Ida Fauziyah  di Sekretariat FPKB DPR RI, Jakarta, Rabu (27/4).
Keprihatinan serupa dikemukakan aktor Roy Marten yang  menyatakan  dunia perfilman sekarang  tidak mendapat tempat di bioskop besar di    Indonesia. Padahal, kalau diputar di kampung-kampung  masih banyak yang menonton. “Pemerintah jangan hanya mengambil pajaknya, tapi harus membantu membangun infrastruktur untuk   membangkitkan film Indonesia,” ujarnya.
Banyaknya film impor seperti  India, China, Amerika Serikat dan Turki diputar di Indonesia, kata Roy,  karena penulis, sutradara dan pemodalnya  mereka sendiri sehingga Indonesia tidak bisa berbuat banyak untuk negeri sendiri. Sedangkan artis Indonesia hanya menjadi pemain. “Wajarlah  kalau mereka membuat film dengan budaya Indonesia tapi tidak terasa Indonesia, karena mereka   bukan warga Indonesia,” jelas Roy.
Bangsa Indonesia lanjut Roy masih   ikut-ikutan  India, Korea, Amerika dan  asing   lain. Tidak membuat film yang ditulis, disutradarai, dimodali, dan dibintangi   warga Indonesia sendiri yang   memahami kearifan lokal. “Inilah salah satu problemnya,” kata Roy.
Roy menambahkan di era 80-an film kita laris manis di tanah air, karena diangkat dari novel  Indonesia dan ditulis orang Indonesia. Dan harus diakui saat ini kita kekurangan penulis yang baik da menarik.
Namun demikian sambung Roy,  dia tidak takut dengan liberalisasi film. Artis, aktor, dan pemodal asing boleh berbondong-bondong ke Indonesia untuk investasi film, namun jangan sampai mereka   melarang film kita masuk ke bioskop-bioskop, akibat  monopoli perfilman. “Jangan sampai film kita kalah dengan uang, karena film kita memiliki pasar sendiri, dan terbukti di kampung-kampung masih  diminati masarakat,” paparnya. #duk

 

Komentar Anda
Loading...