Pemprov-BI Perkuat Perekonomian Sumsel
Palembang, BP
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Bank Indonesia Region VII Sumsel terus bersinergi memperkuat perekonomian Sumsel, khususnya harga komoditi yang masih dalam tekanan, sehingga berpotensi perlambatan ekonomi dapat diatasi.
Kepala Bank Indonesia Regional VII, Hamid Ponco Wibowo mengatakan Bank Indonesia membantu pemerintah dan masyarakat mengatasi permasalahan yang menyebabkan perlambatan ekonomi di Sumsel. Permasalahan dasar yang menyebabkan perlambatan ekonomi Sumsel adalah rendahnya harga karet sebagai komoditas utama Sumsel.
“Hari ini kami mencoba memberikan solusi untuk memperbaiki sektor perkebunan, terutama perkebunan karet,” katanya usai kegiatan Kajian Regional Perekonomian Sumsel di Ballroom Novotel Hotel, Kamis (14/4).
Dalam kegiatan ini, pihaknya menghadirkan petani karet dari Jambi yang sudah berhasil melakukan hilirisasi sendiri. Dengan adanya kegiatan ini kami mengharapkan agar petani karet di Sumsel dapat meningkatkan nilai jual karet yang dihasilkan.
Dia menjelaskan, BI membantu petani karet untuk meningkatkan harga jual karet yang dihasilkan, melakukan hilirisasi, mengubah barang mentah menjadi barang setengah jadi. Sektor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sumsel masih sama seperti sektor perkebunan, pertanian, dan pertambangan.
“Salah satunya karena penurunan yang terjadi di komoditas karet yang menjadi penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi Sumsel. Namun perekonomian Sumsel relatif lebih tinggi dibandingkan Sumatera secara keseluruhan ” jelas dia.
Dia menuturkan, dalam kajian ekonomi regional Sumsel pada triwulan ke empat tahun 2015, perekonomian Sumsel masih mengalami perlambatan dibandingkan tahun 2014. Meskipun demikian, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Sumsel di tahun 2016 bisa mencapai 5,4 persen sampai dengan 6 persen.
“Untuk triwulan pertama tahun 2016, hasil kajiannya belum keluar. Hasil kajiannya bisa dilihat pada Mei mendatang,” ujarnya.
Ketua UPPB Maju Bersama Desa Taja Mulia Betung, Kabupaten Banyuasin, Supandi, mengatakan permasalahan yang dihadapi oleh petani karet saat ini adalah adanya petani karet yang menjual karet kotor dan harga karet kotor tidak jauh berbeda dengan harga karet bersih.
“Jadi kami meminta kepada pemerintah agar tegas dengan petani karet yang memproduksi karet kotor. Dan kami juga meminta kepada pabrik agar tidak membeli karet yang seperti ini, kasihan petani karet yang menjual karet bersih,” ujarnya.
Supandi mengatakan, petani karet kotor ini bukan petani yang tergabung dalam kelompok tani. “Ada sekitar 70 persen masyarakat petani karet yang belum tergabung dalam kelompok tani,” jelas dia. #ren