Pangkas 60 Persen Biaya Transport Batubara

6

#Waterlock Sungai Musi Selesai 2018

428148_05113505032015_batubara_kapalPalembang, BP
Pemprov Sumatera Selatan terus menggenjot pembangunan jalur angkutan batubara melalui Sungai Musi (waterlock) dengan menggandeng PT Pelindo II. Optimalisasi pemanfaatan Sungai Musi dalam bisnis batubara dapat memangkas biaya transportasi hingga 60 persen. Hal ini dianggap mampu mengangkat bisnis batubara di Sumsel yang tengah meredup.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel Robert Heri mengatakan, saat ini PT Pelindo II tengah melakukan kajian langsung studi kelayakan (feasibility studi) pembangunan jalur sungai pengangkutan batubara ini.

Menurutnya, bisnis batubara di Sumsel masih lesu terlihat dari tipisnya pertumbuhan produksi. Hal ini juga didorong dari merosotnya harga batubara selama ini. Pihaknya menilai Sungai Musi bisa menjadi jalan agar jalur pengangkutan batubara itu bisa lebih efisien.

“Kami juga berharap optimalisasi ini juga bisa menggeliatkan kembali bisnis batubara di Sumatra Selatan ini,” katanya.

Robert menilai, pemanfaatan Sungai Musi sebagai jalur distribusi batubara lebih efektif dibandingkan dengan jalur distribusi lainnya, baik melalui darat maupun kereta api. Oleh karena itu, rencana optimalisasi pemanfaatan Sungai Musi itu terus digodok.

Ia mengungkapkan progres dari rencana tersebut kini masih dalam studi kelayakan oleh PT Pelindo II (Persero). Dalam studi kelayakan tersebut, PT Pelindo didampingi dinas teknis terkait lainnya, seperti Balai Besar Sungai, Bappeda, Dinas PU Pengairan dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Ir H Eddy Santana Putra MT Anggota Komisi V DPR RI Kunjungi SMKN 5 Palembang

“Pelindo II berencana mengucurkan dana hingga 350 juta dolar AS atau setara kurang lebih Rp4,2 triliun dalam proyek optimalisasi pemanfaatan Sungai Musi sebagai jalur pengangkutan batubara di Sumsel ini,’ terang dia.

Ditambahkan Kepala Bidang Pertambangan Umum Distamben Sumsel Izromaita mengatakan, saat ini bisnis batubara di Sumsel memang sedang terpuruk. Harga jual batubara saat ini hanya 35 dolar AS per ton dari standarnya 80 dolar AS per ton untuk batubara kalori tinggi.

“Ini harga yang ditawarkan di tengah laut. Kalau harga dari penambang atau dibeli di sungai lebih rendah lagi. Untuk yang kalori rendah dijual ditengah laut dengan harga 20 dolar AS per ton. Kalau kalori tinggi masih bisa tutupi biaya, tapi kalau kalori rendah sudah tak terkendali lagi. Merugi jika diteruskan,” ungkapnya.

Akibat anjloknya harga tersebut, dari 20 perusahaan produksi batubara berkalori di Sumsel, 10 diantaranya tutup sejak 2015 hingga sekarang. Mereka masih menunggu bisnis batubara Sumsel bisa berjalan lancar kembali.

Kepala UPTB Penataan Ruang Bappeda Provinsi Sumsel Regina Ariyanti mengatakan, pihaknya telah mengadakan beberapa kali rapat pertemuan dengan PT Pelindo II dan beberapa instansi terkait. Pihaknya membahas mengenai rencana pengelolaan alur sungai musi, sesuai dengan MoU tahun lalu.

Baca Juga:  Angbara Masih Kucing-kucingan di Jalan Nasional, DPRD  Sumsel Minta Ketegasan Gubernur 

Saat ini PT Pelindo II sedang dalam tahap proses persiapan FS, DED, dan Amdal untuk rencana tersebut dan ditargetkan tahap perencanaan selesai tahun ini. “Kami yakin tahun depan sudah mulai pengerjaan karena target penyelesaian total 2018 mendatang,” ujarnya.

Rencananya, PT Pelindo II akan membuat 32 sodetan di beberapa titik sepanjang Sungai Lematang menuju Sungai Musi hingga mencapai ke Tanjung Api-api.

Diungkapkan Regina, Sungai Lematang memiliki banyak lekungan. Sodetan itu berfungsi untuk meluruskan lengkungan itu. Pelindo pun akan membuat beberapa pintu air agar menjaga kuantitas air disepanjang sungai Lematang hingga KEK. Pintu air akan membuat air menjadi seimbang baik dari hulu ataupun dari hilir.

Sebelumnya, dalam rencana pembangunan jalur transportasi batubara di perairan sungai, Pemprov Sumsel bersama PT Pelindo akan membangun waterlock (pintu air) dari Muara Lematang ke Pelabuhan Tanjung Api-api (TAA).

Waterlock digunakan untuk mengatur ketinggian air agar kapal tongkang raksasa yang memuat batubara tersebut bisa melintasi sungai tanpa harus berbenturan dengan dasar sungai.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan PT Pelindo II Persero untuk membicarakan pembangunan wate lock di sepanjang Sungai Lematang hingga ke Pelabuhan Tanjung Api-api.

Baca Juga:  Double Track Bisa Jadi Solusi Angkutan Batubara

Alex menjelaskan, ketinggian air di sepanjang sungai yang mengalir di Sumsel ini berbeda-beda tergantung kondisinya. Ketinggian air sungai di hulu dan muara sangatlah berbeda.

Pembangunan waterlock dibutuhkan untuk mengatur ketinggian air, sehingga bisa dilalui oleh kapal bermuatan batubara tersebut dari hulu, yakni Muara Lematang menuju Sungai Lematang lalu ke Sungai Musi, dan bermuara di Pelabuhan Tanjung Api-api.

“Nanti ada pintu-pintu air yang bisa mengatur ketinggian air. Di ujung jalan khusus batubara Muara Lematang, dibuat terminal batubaranya. Dari terminal tersebut, batubara akan dibawa kapal bermuatan besar hingga ke TAA,” paparnya.

Pemprov Sumsel dan PT Pelindo II Persero akan menggunakan jasa konsultan asal Negeri Kincir Angin, Belanda untuk menyusun Detail Engineering Designnya nanti.

Saat ditanyakan terkait hal ini, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Sumsel Nasrun Umar mengatakan, Sungai Musi memang akan dimanfaatkan lebih jauh lagi daripada sekarang. Karena pada akhirnya, angkutan batubara akan diarahkan semuanya melalui jalur sungai.

“Nanti semuanya terkonsentrasi ke arah Muara Lematang. Setelah jalur khusus batubara rampung, ujungnya ada terminal batubara. Batubara akan lanjut didistribusikan lewat moda transportasi perairan. Jadi jalan raya tidak dipakai lagi untuk angkutan batubara,” tegasnya. #idz

 

Komentar Anda
Loading...