Kambang Iwak: Kini Multifungsi

166
PERNAK-PERIK-Sambil berolahraga warga dapat melakukan transaksi jual beli beragam dagangan yang ditawarkan di kawasan Iwak yang dipadati para pedagang, Palembang, Minggu (21/12). BP/SYAIRUL
Sambil berolahraga warga dapat melakukan transaksi jual beli beragam dagangan  di Iwak Palembang, Minggu (21/12).
BP/SYAIRUL

Sebagian besar masyarakat Palembang telah menjadikan Kambang Iwak sebagai tempat yang multifungsi. Selain sebagai sarana olahraga, KI pun menjadi tempat sarapan pagi hingga cemilan sore hari.

 

KI merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi masyarakat Palembang. Tempat yang luas dan sejuk itu kerap ramai dikunjungi pada hari Sabtu dan Minggu pagi, bahkan setiap harinya pada hari kerja, KI didatangi masyarakat Palembang untuk menghirup udara segar, sarapan, ngemil sore, hingga berburu jajanan dan berbagai barang yang dijual di tempat itu.

Berbagai jajanan menjadi pilihan. Mulai dari makanan ringan hingga berat, tradisional bahkan modern. Selain itu, Sabtu dan Minggu, jasa pemeriksaan kesehatan pun hadir dari berbagai instansi di kota ini. Para pedagang dan jasa pelayanan kesehatan hadir memberi warna lain bagi KI yang dominan sebagai arena olahraga.

Setiap hari, para pedagang datang memenuhi rongga jalan di sekitar area KI. Pedagang makanan, fashion, peralatan rumah tangga dan olahraga, juga penyewaan sepeda gandeng. Semua menjadi satu di tempat itu menawarkan sisi lain selain olahraga, yakni kuliner dan belanja.

Baca Juga:  Kolam Retensi di Talang Banten Segera Dibangun

Selain untuk senam dan jogging, tempat tersebut dalam kurun waktu beberapa dekade ini menjadi tempat transaksi berbelanja dan berkuliner. Setelah lelah berolah raga, tersedia minuman sehat seperti susu kedelai dan ada juga yogurt berbagai varian.

Tak hanya itu, makanan pun banyak dijual. Bakso, mie ayam, bubur kacang dan ayam, nasi kuning, nasi uduk, mie tek-tek dan juga jajanan pasar seperti getuk dan lupis. Beragam jualan dihargai mulai Rp1.000 untuk makanan.

Sementara itu, fashion (pakaian, jilbab, dan aksesoris), alat rumah tangga seperti berbagai macam barang pecah belah hingga alat memasak, mulai Rp20.000 hingga ratusan ribu. Harga yang tak berbeda jauh, bahkan terkadang lebih murah ini pun disukai terutama ibu rumah tangga.

Setelah senam atau jogging, kebanyakan masyarakat berkeliling KI untuk melihat-lihat makanan apa yang harus mereka cicipi, atau benda apa yang ingin di beli. Selain itu juga, tidak jarang para orang tua yang membawa anaknya mengajaknya naik odong-odong, skuter, mobil-mobilan, dan mainan lainnya.

Baca Juga:  Plastik Berbayar, Tambah Beban Konsumen

Pengunjung yang datang tampaknya suka mencoba kuliner baru di kawasan ini. Getuk dan lupis, misalnya. Panganan yang sudah tenar di zamannya ini sempat terlupakan, karena hadirnya makanan serba instan seperti junk food. Namun, kini hadir di KI setiap Sabtu dan Minggu, menarik perhatian pengunjung.

Karla, salah seorang pengunjung KI, mencoba makanan khas dari Jawa ini merupakan hal baru menurutnya. “Selama ini kan yang kita tahu jajanan itu yang lebih modern, meskipun tradisional hanya tahu nama tapi tidak pernah tahu rasanya,” katanya, usai membeli getuk.

Selain bisa dibawa pulang, bisa juga makan di tempat. Para pedagang menyiapkan tempat duduk khusus agar pembeli merasa nyaman saat bertransaksi. Sejuknya udara di kawasan ini, membuat pengunjung merasa betah berlama-lama. Bahkan ada yang sengaja memesan mie tek-tek, bubur ayam dan juga martabah har, dengan memakannya di pinggir kolam besar KI. Padahal, pedagang sudah menyiapkan tempat duduk.

Baca Juga:  Kementerian PU Uji Duplikasi Jembatan Musi II

Pemandangan ini dilihat tak hanya Sabtu dan Minggu, tetapi juga hari biasa. KI yang menawarkan banya pilihan sarapan dan cemilan ini, dimanfaatkan untuk mereka yang hanya datang untuk jajan saja.

Salah seorang pengunjung yang datang untuk jajan saja ini yakni Dimas. Ia bersama rekannya sengaja datang untuk mengisi perut dan memanfaatkan waktu luang untuk melihat-lihat berbagai barang yang dijual.

“Tidak hanya sore seperti ini, biasanya sebelum ke kantor kita mampir untuk sarapan, banyak pilihan, terutama Sabtu dan Minggu itu waktunya window shopping, kalau ada yang suka dan budget cukup, kita beli,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pengunjung hari Sabtu tidak seramai hari Minggu, begitu juga dengan para pedagangnya. “Pedagang ini ramainya di hari Minggu, karena masyarakat yang datang ke KI juga paling ramai di hari Minggu, sehingga ini menjadi kesempatan bagi para pedagang, terlebih karena jika di perhatikan warga Palembang ini sangat konsumtif, sehingga menjadi peluang bagi pedagang,” jelasnya. #pit

Komentar Anda
Loading...