Fenomena Calon Independen Merembet ke Daerah

13
# Buntut Gagalnya Parpol Ciptakan Pemimpin dan Kader
DSCN4406
FGD ‘Pakar-Pers, Independen Mania Vs Phobia Deparpolisasi’ yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Fisip Unsri, Sabtu (19/3).

Palembang, BP
Fokus Group Discussion ‘Pakar-Pers, Independen Mania Vs Phobia Deparpolisasi’, diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sriwijaya (Unsri), Sabtu (19/3).
Pengamat politik dari Fisip Unsri yang juga moderator acara, Drs Joko Siswanto, Msi, melihat bertolak dari majunya Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama alias Ahok melalui jalur independen yang notabene berasal dari kaum minoritas menjadi fenomena baru yang bisa merembet ke daerah.
“Hal ini perlu dikritisi apakah parpol yang mengusung Ahok ini yang pendukungnya muslim apakah ini tidak menjadi masalah,” katanya.
Tim Pemeriksa Daerah (TPD) Sumsel Dr Zulfikri Sulaeman menilai tidak masalah Ahok maju dalam pilkada walaupun dalam memimpin Jakarta dia banyak cacat sosial.
Sedangkan Anggota KPU Sumsel Ahmad Naafi melihat dalam pencalonan pilkada bisa melalui jalur partai politik dan independen dengan aturan yang sudah ditetapkan. “KPU sudah mengusulkan agar syarat dukungan dari 10 persen menjadi 3 persen sampai 6 persen karena dukungan 10 persen itu sangat memberatkan,” katanya.
Pengamat politik Unsri, Ardiyan Saptawan, melihat gagalnya parpol menciptakan pemimpin karena tidak mau diatur secara organisasi oleh negara. “Apalagi sistem kader parpol tidak jalan,” katanya.
Dia melihat kini parpol tidak peduli dengan aspirasi masyarakat dan fenomena independen karena reaksi parpol kurang peka dengan aspirasi masyarakat.
“Akibatnya kemarin parpol kekurangan calon saat pilkada,” katanya. #osk

Baca Juga:  Penutupan TMMD Ke 104 Kodim 0418 Palembang, Sejumlah Persiapan dilakukan
Komentar Anda
Loading...