Tinggalkan Mangkuk, Rajin Belajar Mengaji
Tiada satu pun anak yang terlahir ke dunia ingin hidup berkeliaran di jalan. Mencari sesuap nasi dari mengharap belas kasih manusia lainnya, dan tidur beralas koran di emperan pertokoan.
KENYATAAN hidup terkadang tak seindah yang dibayangkan. Impitan ekonomi serta permasalahan rumah tangga yang menerpa ibu dan bapaknya, membuat para generasi penerus bangsa ini terpaksa harus akrab dengan panasnya aspal jalanan.
Masa-masa indah bermain dengan teman-temannya, belajar membaca dan berhitung di sekolah formal, tak dapat mereka rasakan. Mau tak mau anak-anak ini harus turun ke jalan untuk mencari lembaran rupiah demi membantu kedua orangtuanya, atau untuk kehidupan mereka sendiri.
Realita anak jalanan (anjal) cukup mudah ditemui di sejumlah kota besar di Indonesia, begitu juga di Kota Lubuklinggau. Keberadaan mereka berbaur dengan deru bising kendaraan dan puluhan gedung pertokoan.
Lampu merah, pasar, warung makanan, pertokoan dan stasiun kereta api menjadi lokasi strategis bagi mereka mengais rezeki dari para dermawan. Mirisnya, selain untuk beli makanan, ada beberapa anjal yang menggunakan uang yang didapat untuk membeli lem.
Sehingga wajar jika pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) setempat melakukan razia dan menyerahkan mereka kepada Dinas Sosial karena disinyalir sudah meresahkan masyarakat. Alhasil, sebagian besar di antara anjal tersebut kini tinggal di rumah singgah, yang disediakan Pemerintah Kota Lubuklinggau.
Dalam gedung permanen di Jalan Patimura, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Lubuklinggau Barat II ini dihuni 15 anjal, dan sekitar 7 anak di antaranya menginap di rumah singgah.
“Jumlahnya 15 anak. Mereka terkena razia pemerintah. Kita tampung di sini untuk dibina. Kadang-kadang tidak ada uang untuk beli makan mereka. Makanya kita patungan sambil mencari donatur yang mau membantu,” tutur Dwi, pemilik rumah singgah.
Setiap hari anak-anak tersebut belajar bersama. Saban Senin hingga Jumat, mereka diajari sukarelawan bernama Selvi mengaji. Lalu Senin hingga Minggu, anak-anak ini belajar membaca menulis dan berhitung. Kemudian belajar bahasa Inggris dengan guru berasal dari komunitas Linggau Belajar.
“Alhamdulilah, masih ada yang mau peduli. Mereka mengajar di sini tanpa meminta imbalan. Kami sangat berterima kasih dengan kepedulian mereka,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, anak-anak tersebut kini bersekolah di sekolah dasar untuk menjalani pendidikan formal. Pulang sekolah mereka kembali lagi ke rumah singgah.
“Bisa dikatakan mereka sekarang meninggalkan mangkuk ajaib dan rajin belajar ngaji, baca dan berhitung,” ungkapnya.
Ustadzah Silvi, relawan tanpa pamrih yang setiap hari mengajarkan anak-anak di rumah singgah mengaji, berdoa, dan surat-surat pendek mengatakan, hatinya merasa terpanggil untuk mengajari anak-anak tersebut.
“Saya mengajar ngaji dari Senin sampai Jumat tanpa mengharapkan apapun. Semoga Allah SWT membawa keberkahan bagi kita semua,” katanya singkat.
Sementara itu, Danu, salah seorang anak jalanan dari Kabupaten Kepahyang, Provinsi Bengkulu, mengaku betah tinggal di rumah singgah. Dia tak ingin pulang ke rumah orangtuanya dan turun ke jalan untuk minta-minta lagi.
“Saya takut pulang ke rumah. Enak, di sini bisa belajar mengaji, menulis, baca, dan kumpul-kumpul sama teman-teman. Saya mau pintar baca alquran,” harapnya. # frans kurniawan