Pengusaha Karet Kurangi Ekspor

14
hariansib_Harga-Turun--Tiga-Negara-Sepakat-Kurangi-Ekspor-KaretPalembang, BP
Sejumlah pengusaha karet di Sumatera Selatan mulai mengurangi jumlah produksi hingga enam bulan ke depan. Hal tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan dari hasil pertemuan dengan pihak Kementerian terkait dan negara pengekspor karet seperti Thailand, Indonesia, dan Malaysia.
Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Alex K Eddy mengatakan, Indonesia harus mengurangi 238 ribu MT produksi karet kurun waktu enam bulan ke depan.
“Upaya ini diambil untuk menjaga sekaligus mendongkrak harga karet di pasar ekspor global. Sementara untuk Sumsel penguranganya sekitar 85 ribu MT, untuk enam bulan ke depan,” katanya, baru-baru ini.
Disinggung mengenai dampak pemberlakuan kebijakan tersebut, dia menjelaskan saat ini sudah mulai dilakukan, terliha harga karet sejak sepekan terakhir mulai menunjukan grafik perbaikan meski belum mampu menyentuh 2 dolar AS per kilogram.
Meski mengurangi produksi, dikatakan Alex, pihaknya tetap tidak mengurangi pasokan dari petani. “Artinya, ada dua pilihan pertama kita setok di pabrik dan meminta pemerintah mendanainya dengan bunga murah, atau dijual kembali untuk pemakaian dalam negeri seperti campuran aspal dan sebagainya,” terangnya.
Sementara itu ekonom Sumsel Prof Dr Sulbahri Madjir mengatakan, seharusnya dengan sumber daya alam yang melimpah Indonesia bisa memanfaatkan untuk dikelolah menjadi barang jadi dan didistribusikan di dalam negeri.
Semua hasil komoditas Indonesia langsung di ekspor dalam bentuk mentah. Membuat saat permintaan global turun harga langsung jeblok. Sementara Indonesia harus tetap mengekspor barang mentah karena tidak bisa mengelolah sendiri. “Inilah yang saya katakan Indonesia masih bergantung pada negara luar. Tidak ada kemandirian ekonomi nasional,” kata dia
Dikatakan, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh pemerintah untukmemperbaiki hal ini, yaitu membangun pabrik hilirisasi untuk mengelolah hasil komoditas atau meningkatkan industri manufactur dari hasil alam dengan memperbanyak local content.
Untuk jangka pendek lanjutnya memfasilitasi industri manufactur dinilai sangat efektif sebab bisa mengekspor barang jadi. Namun, tidak boleh terlena dan harus mempercepat pembangunan pabrik hilirisasi. “Intinya kita butuh hilirisasi, supaya bisa mengelolah bahan baku yang melimpah supaya bisa mendapat nilai lebih tinggi saat diekspor keluar negeri,” tukasnya.
Menurut dia, jika tidak ada pabrik hilirisasi dia pesimis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan segera membaik. Karena selamanya indonesia akan ditekan oleh negara pengimpor. “Kita harus memutar haluan menjadi pengekspor barang jadi, kalau tidak selamanya kita akan alami krisis,” jelasnya. #ren
Baca Juga:  Atasi Harga di Petani, Ekspor Karet Dikurangi
Komentar Anda
Loading...