Mencegah Karhutlah Dengan Tradisi Kekas

12
DSCN4178
Lokasi karhutlah di Desa Toman, Kecamatan Tulung Selapan, OKI, Minggu (6/3).

Masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)  terutama Desa Toman, Kecamatan Tulung Selapan sudah diajarkan oleh leluhur mereka  untuk menjaga lingkungannya dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) dengan tradisi kekas, inilah bukti bagaimana sejak ratusan yang lalu leluhur kita sudah mengajarkan kita makna menjaga lingkungan.

Perjalanan hampir dua jam lebih kami lakukan dari Palembang ke Desa Toman, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten OKI dalam rangka kegiatan jurnalistik  yang di gelar Mongabay situs informasi tentang lingkungan hidup, UNDP REDD+, Kedubes Norwegia serta KLHK dan Pemprov Sumsel bertajuk  workshop bagi jurnalis untuk media se-Palembang, Minggu (6/3).
Awalnya sebanyak 25 jurnalis di ajak turun langsung ke daerah lahan gambut yakni di Desa Tulung Seluang dan Desa Toman, Kecamatan Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel) pada Minggu (6/3).
Kami kebagian kunjungan ke Desa Toman yang merupakan kawasan yang mempunyai hamparan lahan gambut sekitar 5000 Ha yang tahun lalu terbakar hebat.
Tidak mudah memasuki kawasan gambut Desa Toman, harus berjuang melewati hutan karet, hutan bambu dan jalan tanah yang tidak rata dan becek, namun akhirnya kami bisa melihat kawasan 500 hektar kamparan lahan gambut yang dulu terbakar yang kini sudah menghijau.
Menurut tokoh pemuda desa setempat, Ahmad Yani yang mendampingi kami ke lokasi tersebut menjelaskan kalau selama ini lahan gambut di desanya tersebut masih di katakan alami karena belum tersentuh aktivitas warga namun akhirnya terbakar hebat tahun 2015 silam.
Rencananya lahan gambut tersebut akan digunakan warga untuk menanam padi namun baru akan diusulkan ke pemerintah setempat.
Gambut di desanya kini hanya sebagai pasokan air dan cadangan ikan-ikan untuk makan warga desanya.
“Permasalahan mendasar kami warga tidak tahu asal terbakar, mungkin karena ada yang membuang puntung rokok sehingga api mudah membakar lahan yang kering karena kemarau panjang, karena areal luas di tambah minimnya peralatan adalah kesulitan terutama untuk segera memadamkan api,” jelasnya.
Pria 38 tahun asli kelahiran Desa Toman ini menuturkan warga hanya bisa melakukan pemadaman dengan melakukan tindakan seperti yang di lakukan leluhurnya di sebut “Ngekas atau kekas” yakni memberikan jarak dengan menjauhkan segala benda seperti daun dan ranting pohon dari areal yang akan di lahap api.
Itu jika lahan karet terbakar maka diberlakukan Kekas namun jika lahan gambut terbakar maka langkah yang dilakukan dengan membuat pemisah antara lahan gambut dengan lahan karet milik warga agar api tidak menjalar.
“Ketika kebakaran lahan gambut saat kemarau panjang, persediaan air mengering, peralatan pemadam tidak tersedia, jadi semampu warga melakukan tindakan untuk menjinakan api untuk menyelamatkan lahan gambut dan areal perkebunan warga di desa toman,” jelas Yani.
Dia mengakui kalau selama ini yang membakar lahan bukan warga seperti tuduhan pemerintah namun pihak perusahaan besarlah yang sering membakar.
” Kalau kami kemarau warga sering bakar di lahan karet namun apinya kami jaga tidak mungkin kami bakar lalu tidak membiarkan begitu saja,” katanya.
Diakui Yani dengan tradisi Kekas membuat masyarakat desanya menghargai arti lingkungan hidup dan keberlanjutannya untuk anak cucunya.
Sedangkan Sol seorang ibu rumah tangga yang ditemui di tengah kebun karetnya mengaku sudah terbiasa tinggal di tengah kebun karet dengan suaminya.
” Kami menanam cabe, semanangka disini dari lahan yang kami bakar dari tananam karet sudah tua, karena lahannya kami sewa dengan warga sini,” katanya.
Semangka-semangka yang sudah dipetik menurut Sol dijual anaknya di pasar desa.
Memang ketika berada di lapangan, para jurnalis memang dihadapkan secara langsung pada sisa Karhutla berupa pohon yang masih hitam tanda bekas pernah terbakar, setelah menempuh perjalanan dengan jalan kaki sejauh 6 km dari pemukiman penduduk. Dipandu oleh Ahmad Yani, rombongan jurnalis di ajak mengelilingi lahan perkebunan karet milik warga untuk bisa sampai di batas lahan gambut alami yang saat ini kembali normal karena musim hujan.
Warga setempat lainya Mulyadi yang rumahnya kami jadikan lokasi istitahat berharap tidak ada lagi kebakaran hutan dan lahan di desanya.
” Untuk sekali jangan ada lagi kebakaran, sekarang kami sudah siap atasi kebakaran hutan dan lahan ini , ” katanya.
Hal senada dikemukakan isti Mulyadi, Bulawati mengaku lahan di desanya tiap tahun kebakaran hutan dan warga memadamkannya dengan menggunakan alat seadanya.
“Itu  terbakar kadang oleh  puntung rokok oleh warga tidak sengaja, tapi kalau di sengaja tidak ada warga sengaja bakar lahan, yang pasti kalau kebakaran hutan kami susah, banyak asap , air jadi kering,” katanya.
Sementara itu, Alan Manager lapangan dari Sarekat Hijau Indonesia (SHI) yang turut terjun ke lapangan mengungkapkan pihaknya sudah mendapatkan arahan dari UNDP untuk memberikan bantuan berupa beberapa fasilitas yang bisa di gunakan untuk penganggulangan jika kembali terjadi Karhutla.
Dia menjelaskan tiga desa yang akan dibantu yakni Tulung Seluang, Desa Riding serta Desa Toman dengan berencana membuat embung (kolam,red) berukuran 6×8 meter, sumur bor dan di batu mesin pompa untuk menjaga tersedianya air di musim kemarau.
“Semuanya akan kita kerjakan mulai awal maret 2016 ini dan rencananya tiga bulan kedepan semua sudah bisa siap, diharapkan fasilitas ini bisa di gunakan warga untuk membantu jika terjadi lagi karhutla,” katanya. #dudy oskandar

Komentar Anda
Loading...