RI Hibahkan Rp19,5 M Per Tahun Untuk Palestina
Jakarta, BP
Pemerintah Indonesia berjanji akan menghibahkan bantuan finansial sebesar USD1,5 juta atau setara Rp19,5 miliar per tahun untuk beberapa waktu ke depan kepada Palestina. Ini sebagai bukti kepedulian Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina untuk kemerdekaan.
“Mempertimbangkan persatuan sebagai kunci rekonsiliasi konfik antara Israel dan Palestina, sudah selayaknya kita tidak meremehkan betapa pentingnya pembangunan kapasitas di Palestina,” kata Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi.
Ia menjelaskan alasan Indonesia mengirimkan bantuan sejumlah itu, saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (KTT LB OKI) 2016 di JCC Senayan, Jakarta pada Minggu (6/3) dilansir dari okezone.
Dana bantuan kemanusiaan juga disalurkan Indonesia melalui badan PBB yang berkonsentrasi mengurusi Hak Asasi Manusia (UNOCHA). Kontribusi Indonesia pada kesempatan ini, yakni sejumlah USD1 juta atau Rp13 miliar.
Selama dua hari ini (6-7 Maret 2016), Indonesia dipercayakan Presiden Mahmoud Abbas untuk menjadi tuan rumah KTT LB OKI, yang berfokus pada penetapan status Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, serta pembagian wilayah kekuasaan di Yerusalem atau Al Quds Al Sharif.
Indonesia optimis dengan dilaksanakannya forum internasional semacam ini dapat mengukuhkan kembali solidaritas dan komitmen negara-negara Islam dalam membantu menyelesaikan kisruh Palestina.
Kekuatan Untuk Palestina
Indonesia juga mengimbau seluruh negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk menggandakan kekuatan untuk menyelesaikan konflik di Palestina.
“Sebab Indonesia percaya bahwa tidak ada satupun negara di dunia yang bisa menyelesaikan masalah di Palestina jika ia hanya berdiri sendiri. Kita harus bersatu di bawah bendera OKI, menggandakan kekuatan mencapai tujuan yang sama untuk Palestina,” seru Retno.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda itu berharap, KTT LB OKI kelima ini dapat mempererat solidaritas negara-negara Islam di dunia dalam membantu proses rekonsiliasi atau perdamaian di Palestina.
Kondisi Palestina sejauh ini menurutnya semakin mengkhawatirkan. Lebih dari 70 tahun sejak berdirinya organisasi nirlaba internasional PBB dan lebih sudah enam dekade berlalu sejak Konferensi Bandung, rakyat Palestina masih hidup dalam penjajahan dan agresi militer Israel.
Gelombang kekerasan yang paling serius dimulai ketika tempat beribadah umat Islam Palestina di Masjid Al Aqsa dibakar habis pada 1969. Israel bahkan mengokupasi Al Quds Al Sharif hingga saat ini.
Segala upaya perundingan damai telah dilakukan, namun Israel terus bergeming. Seolah tidak peduli dengan penderitaan tetangganya. Lebih dari lima juta warga Palestina hidup layaknya pengungsi di tanah airnya sendiri.
“Untuk itu, kita harus menghentikan invasi Israel. Semakin lama kita menunggu, semakin terabaikan hak asasi manusia serta kemerdekaan yang fundamental. Semakin lama kita menunggu, semakin besar rintangan untuk mereka untuk memutuskan nasibnya sendiri,” tegas Menlu Retno. #rda