Banyuasin Kebagian Investasi Limbah Sabut Kelapa di Kawasan TAA

14

Palembang, BP

Tahun 2016, Kabupaten Banyuasin akan kebagian investasi limbah sabut kelapa di kawasan Tanjung Api-Api (TAA) yang nilainya Rp5 miliar.

Hal tersebut terungkap setelah Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian bertemu Ketua Umum Asosiasi Sabut Kelapa Indonesia (ASKIi), Efli Ramli didampingi Ketua Umum Kadin Indonesia, H Eddy Ganefo di ruang kerja Bupati Banyuasin, Rabu (24/2).

Turut hadir Kepala Badan Perizinan Terpadu Pemkab Banyuasin, Ali Imron, Asisten II Pemkab Banyuasin, Rislani.

Menurut Yan, kalau pihaknya sangat menyambut baik investasi ini dan setuju, bahkan mereka memiliki lokasi untuk industri tersebut di TAA. “Kami mendukung rencana tersebut,” kata Yan.

Yan berjanji akan memberikan kemudahan dalam berinvestasi di Banyuasin termasuk perizinan, infrastruktur juga dan Banyuasin akan mendapatkan pendapatan asli daerah dari investasi ini.

Baca Juga:  Dedemit Pulau Rimau Hancurkan Aula Kecamatan?

Ketua Umum Asosiasi Sabut Kelapa Indonesia (Aski), Efli Ramli mengatakan kalau pihaknya akan mengembangkan sabut kelapa di pesisir Banyuasin sehingga bisa mengurangi pengangguran, kemiskinan meningkatkan ekonomi rakyat dan pemberdayaan limbah menjadi peluang.

“Kami sendiri sudah ada lokasi untuk pengembangan sabut kelapa di TAA deket sungai untuk pencucian dan sarana transportasi yang luasnya sepuluh hektar,” katanya.

Selain itu pihaknya mulai penghitungan dan membuat pabrik kecil untuk UKM dan pelatihan tenaga kerja, karena dari UKM sabut kelapa ini maka akan terbentuk UKM bisa di buat keset kaki, tali tambang, fiber, coco peat (media tanam).
“Habis lebaran kita sudah ekspor,” katanya.

Baca Juga:  Dekatkan Pelayanan, Kemenkumham Sumsel Gelar Legal Expo

Menurutnya, Sumsel tepatnya kawasan Tanjung Api-api merupakan kawasan yang paling berpeluang sebagai lokasi percontohan industri sabut kelapa.

Dilanjutkannya, tiga alasan yang membuat pihaknya intens mengelola limbah sabut kelapa yakni dilatari banyaknya permintaan pasar, peluang tenaga kerja serta menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA).

“Khusunya MEA ini ancaman terbesar. Karena Indonesia ini penghasil kelapa terbesar di dunia. Sekarang ini negara Asia lagi melirik karena potensi bahan baku kita terbesar, sedangkan Srilangka , Pilipina, Vietnam, India daerahnya terbatas sedangkan pasarnya besar,” katanya.

Dari limbah sabut kelapa ini, kata dia dapat diolah menjadi matras, tali tambang, coco pit (media tanam) dan sebagainya.

Baca Juga:  Gerindra Sumsel Optimis  Menangkan Pemilu  Tahun 2024

“Kemampuan Indonesia saat ini baru bisa menutup 15 persen kebutuhan dunia, sementara produksi sabut kelapa ini bisa mencapai 15 triliun rupiah pertahun seluruh Indonesia,” katanya

Selain itu, Kadin Indonesia telah menyiapkan lima mesin pengolah sabut kelapa untuk menjadikan kawasan Tanjung Api-api sebagai kawasan industri percontohan sabut kelapa.

Sedangkan Ketua Umum Kadin Indonesia, H Eddy Ganefo menambahkan berdasarkan hasil survey pihaknya kalau Banyuasin terutama di TAA layak dikembangkan usaha kara (santan kelapa) .

“Kalau ini dibuat maka kelapa tidak perlu di ekspor bulat-bulat namun bisa di olah lagi menjadi kara dan untuk investasi kara Rp50 miliar untuk pabrik, pengemasannya dan kita sedang carikan investornya,” katanya. osk

Komentar Anda
Loading...