Lumbung Pangan Banyuasin Belum Mampu Lindungi Petani dari Tengkulak

20

petani-panen-padi-beras_20150227_153145Banyuasin, BP

Keberadaan lumbung pangan di Banyuasin, dinilai oleh  Ketua Kontak Tani dan Nelayan (KTNA) Andalan Banyuasin, belum bisa menyelamatkan petani dari belitan lintah darat atau tengkulak.

Ketua (KTNA) Banyuasin Suhardi mengatakan, lumbung pangan gagal menjadi proteksi bagi petani untuk menghalau serangan tengkulak ketika petani panen raya. Karena jumlah lumbang di desa tidak sebanding dengan hasil gabah yang didapatkan petani.

“Bukannya tidak berguna, tapi saya lihat kurang maksimal dengan lumbang pangan yang ada saat ini. Lumbung pangan itu tidak bisa menampung hasil panen petani sehingga mereka (petani) terburu-buru menjualnya kepada  tengkulak,” katanya.

Baca Juga:  Kebakaran di Sungsang Telan Total Kerugian Rp 3,5 Miliar

Tidak maksimalnya lumbung pangan tersebut dikatakan Sukardi sangat beralasan. Dia mengasumsikan setiap lumbung maksimal mampu menampung 10.000 ton gabah milik petani. Namun nyatanya, panen padi setiap desa itu mencapai ratusan ribu ton.

“Lah jadi apa gunanya lumbung pangan yang banyak dibangun di Banyuasin tersebut jika tengkulak masih merajalela dan membeli hasil panen milik petani dengan harga yang sangat murah,” sambung dia.

Lumbung pangan yang menjadi program Badan Ketahanan Pangan (Baketpan) Banyuasin tersebut tegas dikatakan Sukardi sangat tidak tepat menjadi senjata melindungi petani dari para tengkulak yang marak di Kabupaten Banyuasin.

Baca Juga:  Program SMART di Sungsang Sukses Pulihkan Ekosistem Mangrove dan Dorong Ekonomi Warga

“Saya kira lumbung pangan bukan alternatif bagi petani untuk bertahan dengan harga jual yang tinggi,” kata dia.

Dikatakan dia, ada cara agar petani tidak dirugikan ketika panen karena ulah tengkulak tersebut. Seperti program pemerintah yang membeli gabah dengan harga khusus.

“Namun program tersebut terbatas anggarannya. Satu-satunya harapan yakni Pemkab Banyuasin harus kerjasama dengan Bulog untuk membeli gabah sesuai harga tertinggi gabah kering,” tegas dia.

Sementara, Kepala Baketpan Ir Ana Suzana saat menghadiri panen raya di Desa Ganesha, Kecamatan Muara Sugihan,  mengatakan pihaknya telah berupaya memutus hubungan petani dengan tengkulak. Salah satunya dengan dibuatnya lumbung pangan. “Kami berharap agar petani tidak menjual hasil panen kepada para tengkulak,” katanya.

Baca Juga:  BBM Melambung, Transportasi Air Lumpuh

Pihak Baketpan berencana menyiapkan motor kaisar untuk para petani sehingga petani tidak susah membawa hasil panennya.

“Agar petani dapat terbantu kita juga berencana menyediakan 40 unit motor kaisar untuk sembilan kecamatan yang menghasilkan sentra produksi padi, agar para petani degan mudah dapat membawa hasil panennya ke tempat lumbung padi, tidak menjualnya kepada tengkulak,” katanya. #mew

Komentar Anda
Loading...