Saatnya Industri Digital Melejit
Palembang, BP
Tahun ini sejumlah sektor usaha masih dalam tekanan, namun industri digital dinilai mulai bergairah bahkan akan melejit, seriring mulai tingginya pengguna gadget. Bahkan pengusaha e-commerce berani memasang target tiga kali lipat dari tahun lalu.
Tidak hanya itu, pengusaha sektor ini juga menawarkan teknologi yang kian canggih, hingga ekspansinya brand internasional di pasar domestik. Fasilitas hingga aplikasi yang ditawarkan kepada customer semakin memanjakan dan murah.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Tridinanti Palembang Sulbahri Madjir mengatakan tahun ini diperkirakan penjualan gedget akan makin tinggi, seriring dengan tingginya kebutuhan penggunanya. Orang mau cari apa saja dan mau melakukan apa saja sudah terbiasa dengan aplikasi.
“Tahun ini diprediksi industri digital akan melejit, tidak hanya internet shopping, namun juga sektor jasa pengiriman dengan media aplikasi digital yang kian beragam,” kata Sulbahri, Kamis (18/2).
Sulbahri mengemukakan, alasan yang paling mendasar dalam transaksi digital adalah karena masyarakat sudah mulai terbiasa dengan aktivitas yang memanjakan, murah dan efisien waktu.
Sehingga, yang tadinya menggunakan biaya yang besar, kini sudah bisa dipangkas dengan teknologi transaksi yang benar-benar memberikan tawaran yang menggiurkan.
Menurutnya, wajar kalau pertokoan pinggir jalan yang tidak berkecimpung di pasar digital bahkan tanpa menggunakan aplikasi digital tidak bisa berkembang pesat. Sebab, aktivitas dan kebutuhan masyarakat sudah sebagian besar menggunakan gadget.
“Mau pesan nasi saja, sekarang sudah bisa pakai aplikasi Gojek, bahkan mau kirim undangan saja pakai aplikasi jasa pengiriman yang canggih. Apalagi sekarang ada yang namanya layanan Cash on Delivery (COD), bahkan departement store sudah menerapkan sistem pelayanan digital ini,” katanya.
Sulbahri tidak menampik, cara dan gaya kehidupan masyarakat saat ini sudah mulai beralih. Kendati masih belum sepenuhnya, namun sudah menunjukan tanda-tanda adanya perkembangan yang pesat pada tahun ini.
“Teknologi ini tidak bisa kita hindari, namun harus kita pilah-pilah, jangan sampai terjerumus di dalamnya. Bagaimanapun Indonesia memiliki undang undang ITE, sehingga perlu juga kehati-hatian dalam penggunaan media internet saat ini,” tuturnya.
Public Relation Alfa Online Maria Endah mengatakan, sektor bisnis Alfamat saat juga sudah mulai dipermudah dengan aplikasi Alfaonline. Pengguna gadget pun bisa melakukan download aplikasi gratis. Pemesanan pun bisa langsung dianter gerai terdekat, sehingga sangat mempermudah konsumen dalam berbelanja.
“Tahun ini kami makin optimis dengan hadirnya Alfaonline. Bahkan kami mencatat transaksi di Kota Palembang paling besar di Sumatera. Bahkan paling tinggi ke empat se Indonesia. Peluang pasar digital ini akan dimanfaatkan perusahaan dan tengah dikembangkan,” jelas dia.
Maria bahkan tidak menepis, jika perusahaan saat ini memasang taget dua kali lipat di semester pertama tahun ini untuk ketersediaan produk yang saat ini sudah mencapai 5.000 item lebih. “Target perusahaan tahun ini bisa mencapai 1 juta item produk, dan ini tidak hanya produk yang di jual di alfamart, namun juga produk elektronik, fashion, yang selama ini tidak dijual di Alfamart,” tukas dia.
CEO blanja.com Aulia Ersyah Marinto mengatakan, pihaknya juga sangat optimis tahun ini. Kendati baru berdiri sejak akhir 2014, namun di 2016 perusahaan berani memasang target tiga kali lipat. “Tahun lalu transaksi mencapai Rp500 miliar, tahun ini dengan segala prosefek dan sosialisasi lebih gencar, kami optimis bisa sampai tiga kali lipat,” tuturnya.
Dia mengatakan, blanja.com memiliki cord bisnis yang profesional di bidangnya. Makin banyak member yang bergabung, pihaknya optimis makin tingginya ketersediaan produk akan mendorong transaksi makin melejit. “Kami optimis di tahun ini, bahkan bisa dikatakan dibanding kompetitor kami berani memberikan yang termurah,” tutur dia. #ren