Diam-diam LGBT Tumbuh di Palembang

259

Diam-diam LGBT Tumbuh di PalembangISU munculnya komunitas lesbian, gay, biseks, dan transgender –familiar disebut dengan singkatannya, LGBT— tengah marak di beberapa provinsi di Indonesia. Komunitas ini pun sebenarnya sudah ada di Sumatera Selatan sejak lama, tapi memang tersembunyi.

BeritaPagi yang coba menelusuri keberadaan mereka, berhasil menemukan satu wanita yang menyukai sesama jenis atau lesbian.

Dibincangi di sebuah kafe di bilangan Kampus, Palembang, wanita yang berusia 22 tahun ini meminta namanya dirahasiakan. Untuk penandaan dalam tulisan ini sebut saja dia Bunga. Dia mengatakan, awal mula dia sampai tertarik kepada wanita saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Saat usianya beranjak dewasa dan mulai mengenal rasa cinta, dia malah merasa nyaman berada di antara teman wanita. Itulah yang menjadi awal mula muncul ketertarikan pada sesama jenis.

“Awalnya sih karena kita merasa sesama wanita ini bisa saling mengerti terkait perasaan, jadi kita merasa nyaman. Seiring waktu dari kenyamanan itu, muncul rasa suka, bisa dibilang juga rasa cinta,” ujar wanita yang berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Palembang ini.

Dalam hubungan asmara terlarang ini, Bunga memosisikan dirinya sebagai wanita. Itu artinya, dia tetap feminin layaknya wanita. Sementara wanita yang disukai dan menjadi pacarnya, berposisi sebagai pria. Meskipun dari fisik sebenarnya pasangannya itu tetaplah wanita seperti dirinya.

Baca Juga:  DPR Akan Inisiasi RUU LGBT

Lantaran posisi pasangan sebagai pria, tentu ciri-ciri fisik sang pasangan beda jauh dengannya yang feminin. Pasangan Bunga coba membuat dirinya menjadi macho dengan rambut pendek, berpakaian seperti pria dan coba membuat tubuhnya rata seperti pria.

“Tapi dia tetap sosok yang lembut bila sudah bersamanya. Saya pun sangat nyaman berada di dekatnya,” kata Bunga dengan nada sedikit malu-malu.

Dalam bahasa lesbian, Bunga dan perkumpulan mereka menyebut pasangan mereka yang bertindak pria itu sebagai Buci.

“Saya ada pasangan, namanya tidak bisa saya sebutkan, dalam bahasa lesbian disebut Buci. Kalau Buci ini biasanya datang dari keluarga yang retak,” jelasnya.

Pasangan Bunga, misalnya, menjadi lesbian karena kedua orangtuanya bercerai. Dia kemudian menjadi sosok pria dalam kehidupan ibunya, sehingga perlahan membuatnya lebih suka berposisi seperti itu.

 

Tapi ada juga teman Bunga yang menyukai sesama wanita karena sakit hati kepada pria. Dalam pandangannya, pria menjadi sosok yang kasar dan menakutkan, sehingga membuatnya sangat alergi.

Sebagai pelarian, wanita dengan perilaku menyimpang ini kemudian mencari sosok bak pria tapi tetap lembut dan lebih menghargai wanita.

 

“Dalam hubungan lesbi kita ada sebutan atau inisial sendiri seperti Buci (B), Femy (F), dan Andro (A). Buci berperan sebagai pria, Femi berperan sebagai wanita, Andro sendiri memosisikan dirinya penyuka Buci ataupun Femi,” jelasnya.

Baca Juga:  Festival Kapal Hias Nelayan Sungsang, SMB IV  Berharap Jadi Even Nasional

Menyikapi fenomena Komunitas LGBT ini, psikolog dari Rumah Sakit Bunda, Palembang, Sri Agustini, mengatakan, komunitas LGBT patut diwaspadai, terutama lesbi dan gay. Ini karena keduanya bisa menular dari lingkungan yang salah.

“Tertular oleh lingkungan pergaulan yang ‘tidak sehat’, hal ini sangat riskan terjadi pada remaja, terutama di masa itu mereka tengah mencari jatidirinya,” katanya.

Untuk gay ataupun lesbian, biasanya memiliki kelompok sendiri. Dengan kasatmata seseorang sulit untuk menentukan siapa mereka, apakah bagian dari LGBT atau bukan. Tetapi, dalam prinsip mereka, lesbi memiliki peran Butch dan Femme.

Butch adalah perempuan maskulin yang berhasrat meniru laki-laki (tipe ini mengambil peran sebagai laki-laki dalam hubungan lesbiannya). Femme adalah seorang feminin yang takut terhadap laki-laki (tipe ini mengambil peran wanita dalam hubungan lesbiannya).

Sedangkan gay mempunyai dua tipe juga yaitu Top dan Bot. Top adalah laki-laki yang berpenampilan rapi dan macho (tipe yang mengambil peran sebagai laki-laki dalam hubungan gaynya). Bot adalah laki-laki yang feminin (tipe yang mengambil peran sebagai wanita dalam hubungan gaynya).

“Sementara bisexual adalah mereka penyuka keduanya baik wanita maupun pria. Sikap mendua ini dijalani karena si gay ataupun lesbi memiliki perasaan sosial dan rasa bersalah pada dirinya, sehingga menutupi dengan menyukai lawan jenis,” katanya.

Baca Juga:  Lihat Aku, Pergelaran Disabilitas oleh Dinda Bestari

Lesbian ataupun gay tidak sampai pada melakukan transgender. Transgender dialami seseorang saat mulai merasa ada yang beda pada dirinya yang bertentangan dengan kondisi fisiknya.

“Misalkan dia wanita, tetapi merasa sebagai pria, maka melakukan operasi dan upaya lainnya untuk memperlihatkan bahwa dia adalah pria,” jelasnya.

Menurut Sri Agustini, hal ini di luar sepengetahuan orangtua karena masih ada saja orangtua yang tidak peka terhadap anaknya. Banyak orangtua yang masih suka sibuk sendiri dengan pekerjaannya.

“Orangtua harus peka terhadap segala tingkah anak, gunakan feeling sebagai orangtua untuk melihat perilaku yang berbeda, lebih terbuka, dan menjadi teman untuk anaknya. Menjadi tempat kembali untuk anak, saat anak punya masalah akan cerita ke orangtua, dan membangun komunikasi dua arah, seperti diskusi,” terangnya.

Penyandang LGBT lebih banyak datang kepada psikolog saat sudah ketahuan oleh keluarganya. Sementara yang datang sendiri cukup sedikit. Hal ini bisa saja disembuhkan namun mesti berdasarkan keinginan sendiri selain didukung oleh keluarga dan lingkungan.

“Jika dipaksa itu akan sulit dan lama, karena itu sudah melekat dalam jiwanya bahwa dia LGBT,” ujarnya. #ndi/pit

Komentar Anda
Loading...