70 Persen Pasien DBD Anak-anak

Palembang, BP
Sejumlah rumah sakit di kota Palembang terus didatangi pasien demam berdarah dengue (DBD). Sebanyak 70 persen di antaranya adalah anak-anak dari berbagai kabupaten/kota.
Rumah Sakit dr Moehammad Hoesen misalnya, sembilan hari memasuki bulan Februari 2016 ini saja tercatat 16 pasien terbaring rawat inap dengan penyakit DBD. Secara rinci berdasarkan catatan rekam medis sejak Januari 2016 tercatat mencapai 42 pasien. Yaitu 26 pasien di bulan Januari dan 16 pasien dari tanggal 1-9 Februari.
Dirut RSMH Palembang dr Muhammad Syahril menyatakan, DBD memang penyakit musiman terutama pada musim penghujan. Dan sebagai rumah sakit rujukan, RSMH siap jika ada pembengkakan pasien akibat wabah DBD ini.
“Ya, kita sudah mendengar bahwa pasien DBD mulai banyak, pada prinsipnya kita siap jika pasien penyakit ini semakin banyak,” terangnya.
Untuk penanganan DBD, RSMH memiliki 35 dokter anak dan 35 dokter penyakit dalam. Namun, untuk menghindari membeludaknya pasien, jika hanya gejala maka cukup dirawat atau berobat ke RS dibawah tipe RSMH, kecuali memang gawat darurat.
“Memang BPJS sudah mengatur itu. Jadi memang harus berjenjang, kecuali darurat. Kalau memang wabah ini semakin banyak, maka tentu kita akan menjadikan ruangan jika isi dua kita tambah menjadi tiga, itu jika kemungkinan nantinya,” urainya.
Lain halnya dengan RS Pelabuhan Palembang yang menyatakan bahwa hanya 2 orang pasien per Januari hingga Februari 2016. “Kalau catatan Rumah Sakit kita masih belum banyak, hanya ada dua dari Januari sampai sekarang (kemarin-red) yang rawat inap, 1 anak-anak dan satunya dewasa,” ujar Kabid Humas RS Pelabuhan Palembang, Abdul Hamid.
Sambung Hamid, catatan ini malah lebih sedikit ketimbang tahun lalu di bulan yang sama dengan angka 10 pasien rawat inap akibat DBD di bulan Januari-Februari 2015. Sementara itu sebelumnya Dinas Kesehatan Sumsel mencatat total 873 terjangkit DBD di seluruh kabupaten/kota dari 1-31 Januari. Sebanyak 11 di antaranya tercatat menderita hingga meninggal. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari tahun lalu yang 725 penderita.
Pihaknya telah mengirimkan surat edaran Gubernur Sumsel ke kabupaten/kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan adanya peningkatan kasus DBD sejak Oktober tahun lalu.
Sementara itu menurut Dr dr Zulkhair Ali, SpPD, K-GH, FINASIM pengaruh cuaca di musim hujan menyebabkan munculnya virus, bakteri, parasit yang punya media air sebagai perantara dan utamanya DBD dari jentik-jentik nyamuk.
“Contohnya, demam berdarah. Nyamuk gampang bertelur karena banyak air tergenang. Saat musim kemarau, genangan air hampir tidak ada. Otomatis yang kena sakit pun sedikit,” jelasnya.
Hal utama mencegah penyakit musim hujan, lanjut Zulkhair, harus menjaga kebersihan dalam segala hal. Mulai dari mencuci tangan setiap usai melakukan kegiatan, terutama bagi ibu rumah tangga yang memasak di dapur. Bukan hanya saat makan saja, tapi juga ketika menyuapi anak. Yang paling penting cuci tangan menggunakan sabun setelah buang air besar atau kecil.
Menurut dokter yang juga ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Sumsel ini, meski penyakit musim hujan berupa influenza sulit dicegah, tapi bisa disiasati dengan daya tahan tubuh yang baik, makan dan minum sesuai prinsip gizi seimbang, serta cukup tidur.
“Pada saat terjadi banjir dan harus melewati genangan air, segera mencuci kaki agar tidak mudah kena penyakit. Memang yang terkena penyakit adalah pasien yang kontak dengan hal-hal kotor, misalnya petugas sampah. Jadi, jika sudah tahu paparannya lebih banyak, harus benar-benar ekstra bersih,” lanjutnya.
Zulkhair mengakui, belakangan ini banyak pasien yang datang ke rumah sakit karena demam berdarah. “Pencegahannya sama seperti DBD, yaitu dengan penerapan 3M, menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk tersebut,” ujar Zulkhair. #sug