Prasasti Kerajaan Sriwijaya Bertambah

112

IMG-20160128-03547Palembang, BP
Sriwijaya adalah nama kerajaan yang tentu sudah tidak asing bagi Anda, karena Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada waktu itu (abad 7-15 M).
Dari sejumlah peninggalannya berupa prasasti yang sudah ada selama ini ternyata di tahun 2015 , satu prasasti kerajaan Sriwijaya ditemukan oleh pihak  Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi  di Sungai Lumpur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
“Tahun lalu ditemukan satu prasasti Sriwijaya di Sungai Lumpur, OKI, temuan penduduk  disana sebelumnya juga banyak benda- benda seperti emas cincin, ada satu batu bertuliskan seperti prasasti Sriwijaya tulisan Palawa, kini diamankan BPCB Jambi,” katanya Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang,  Nurhadi Rangkuti , Minggu (31/1).
Menurut Nurhadi dalam prasasti yang hanya segenggaman tangan orang dewasa ini menyebutkan sidayatra.
“Itu sudah jelas Sriwijaya diperkirakan abad 7 atau 8 , batunya kecil segenggaman tangan , jadi memang di Palembang itu ditemukan puluhan prasasti pendek, jadi cuma nulis sidayatra prasasti pendek , itu menunjukkan hasil perjalanan suci yang berhasil itu, yang kecil ini ditemukan sungai lumpur itu tahun kemarin 2015, saya di kontak pemerhati budaya di sana namanya Ari, saya belum ketemu, untuk prasasti ini coba kita kaitkan perjalanan Dapunta Hyang apakah ke Minangga,” katanya.
Sedangkan menurut Nurhadi Sidayatra artinya perjalanan yang berhasil, “Arti harfiahnya saya lupa, itu sangat penting untuk  melacak  karena Sriwijaya di kenal abad 7 di Palembang sampai pantai timur nah apakah itu ada hubungannya dengan perjalanannya raja Sriwijaya Dapunta Hyang di prasasti Kedukan bukit,” katanya.
Untuk itu mulai tahun 2016 ini penelitian di Karang Agung, Muba di pindahkan ke Sungai Lumpur OKI dipimpin Budi Wiyata karena tahun kemarin Budi Wiyata sudah melakukan survey di sana dan menemukan perahu kuno.
“Untuk itu perlu di cari ahlinya untuk membaca prasasti tersebut,” katanya.
Sebelumnya peninggalan Kerajaan Sriwijaya Sejumlah manuskrip dan prasasti tentang kerajaan yang berkembang abad ke-7 sampai dengan 13 Masehi di wilayah Sumatera itu banyak yang telah rusak, hilang, atau masih terkubur dalam tanah.
Sejarah Sriwijaya justru banyak disusun berdasarkan berita-berita dari pengelana asing, seperti dari China, India, atau Arab. Sumber dari dalam negeri berupa prasasti yang berjumlah 6 buah yang menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa, serta telah menggunakan angka tahun Saka seperti :
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Kedukan Bukit, di tepi sungai Talang dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Isi prasasti tersebut menceritakan perjalanan suci/Sidayatra yang dilakukan Dapunta Hyang, berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara sebanyak 20.000 orang. Dari perjalanan tersebut berhasil menaklukkan beberapa daerah. .
Prasasti Talang Tuo: pada 17 November 1920 ditemukan prasasti Talangtuo di Desa Gandus, Palembang. Prasasti berisi tulisan huruf pallawa berbahasa Melayu kuno bertarikh 684 Masehi itu menyebutkan tentang pembangunan Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa.
Pada akhir Desember 1920, ditemukan prasasti Kedukan Bukit di tepi Sungai Kedukan Bukit, Palembang. Prasasti bertarikh 682 Masehi yang dipahat di batu kali itu menceritakan perjalanan Dapunta Hyang bersama balatentaranya untuk mendirikan wanua (tempat tinggal) Sriwijaya.
Prasasti Telaga Batu: prasasti Telaga Batu ditemukan di daerah Telaga Batu, Sabokingking, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, tahun 1918. Prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi ini berbentuk unik, yaitu lempengan batu selebar 1,4 meter yang bagian atasnya dihiasi tujuh kepala ular kobra. Bagian bawah lempengan dilengkapi cerat untuk mengalirkan air saat berlangsung upacara. Selain berisi kutukan, prasasti ini mencantumkan perangkat birokrasi Kerajaan Sriwijaya secara lengkap.
Prasasti Kota Kapur: data arkeologis tentang Sriwijaya yang mula-mula muncul adalah prasasti Kota Kapur yang ditemukan JK van der Meulen di dekat Sungai Mendo, Dusun Kota Kapur, Desa Pernagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Desember 1892. Prasasti di atas tunggul batu itu berisi kutukan bagi mereka yang tidak taat kepada Raja Sriwijaya.
Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi tidak berangka tahun. f. Prasasti Palas Pasemah ditemukan di Lampung Selatan tidak berangka tahun.
prasasti Boom Baru yang ditemukan di daerah Boom Baru, Palembang, pada tahun 1992. Ada juga prasasti dari daerah lain, seperti prasasti Palas Pasemah dan prasasti Bungkuk dari Lampung.
Selain itu, ditemukan potongan-potongan prasasti, arca, manik- manik, mata uang, struktur bangunan, potongan kapal, dan lebih dari 16 situs di Palembang. Empat situs di antaranya memiliki penanggalan pasti sekitar abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 Masehi, yaitu situs Candi Angsoka, prasasti Kedukan Bukit, situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa.
Peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di Riau, Jambi, dan Thailand. BUKU Panduan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya menyebutkan, berbagai prasasti dan peninggalan itu menggambarkan Sriwijaya telah berkembang sebagai kerajaan maritim yang besar, yang melakukan ekspansi hingga menguasai wilayah Malayu, Pulau Bangka, dan Lampung.

     Kebesaran Sriwijaya justru terlacak dari peninggalan di India dan Jawa. Prasasti Dewapaladewa dari Nalanda, India, abad ke-9 Masehi menyebutkan, Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa (Sriwijaya) membuat sebuah biara. Prasasti Rajaraja I tahun 1046 Masehi mengisahkan pula, Raja Kataha dan Sriwiyasa Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya menghibahkan satu wilayah desa pembangunan biara Cudamaniwarna di kota Nagipattana, India. #osk
Baca Juga:  Pembangunan Jalan Tol Palindra Tetap Diteruskan
Komentar Anda
Loading...