7 Warga Sumsel Eks Gafatar Ternyata 1 Keluarga

Palembang, BP
Tujuh dari sepuluh warga eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Sumatera Selatan yang akan dipulangkan ke daerah asalnya, merupakan satu keluarga.
Ketujuh orang tersebut adalah pasangan suami istri inisial ZA (49) dan SK (46) serta kelima anaknya, FH (16), AH (18), AHM (14), ANH (9) serta SH (5) yang semuanya merupakan warga Jalan Tanjungsari II Kelurahan Tanjung Beringin Kecamatan Kalidoni, Palembang.
“Dari kesepuluh warga tersebut, indikasinya memang ada satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang. Selain itu, kesepuluh warga tersebut juga merupakan laporan dari Polresta Palembang. Artinya mereka berasal dari Palembang saja, bukan dari daerah lain,” kata Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Syaiful Zachri saat ditemui di Masjid Assa’adah Polda Sumsel, Kamis (28/1).
Sepuluh warga Sumsel eks Gafatar dijadwalkan tiba di Kota Palembang dari Boyolali, Jawa Tengah pada Jumat (29/1) hari ini. Mereka tidak akan mendapatkan pengawalan khusus dari kepolisian.
Polda Sumsel melakukan pengawalan biasa saja tanpa ada penjagaan ketat. Hal tersebut dilakukan agar tidak menambah beban psikologis bagi warga Sumsel setelah dipulangkan dari Kalimantan Barat.
“Ya, di bandara nanti biasa saja, tidak ada pengawalan ketat. Jumlah personel juga seadanya, karena mereka terbilang sedikit,” ujar Syaiful.
Ditambahkan jenderal bintang satu ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel dan Kesbangpol Sumsel serta Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam agenda pemulangan.
Selain melakukan pengawalan, masih dikatakan Syaiful, Polri juga akan memberikan bimbingan terhadap eks anggota Gafatar. Tujuannya, agar mereka tidak terpengaruh lagi dengan ajakan oknum-oknum tertentu untuk masuk ke gerakan atau aliran yang bertentangan dengan agama dan Pancasila.
“Untuk waktu pembinaan belum tahu berapa lama, tapi mereka harus dibina dulu, baru dipulangkan ke rumah masing-masing,” kata Syaiful.
Ia berharap pihak keluarga, termasuk warga tempat tinggal asal yang bersangkutan, bersedia menerima warga eks Gafatar.
“Harus diterima, mereka juga ingin berubah. Ini harus ada support dari keluarga dan masyarakat,” pungkasnya. # rio