4 Warga Sumsel Gabung Gafatar di Kalbar
Polda Sumsel Koordinasi Dengan Polda Kalbar
Palembang, BPPolda Sumsel terus melakukan koordinasi dengan Polda Kalimantan Barat untuk mengidentifikasi warga Sumsel yang bergabung dengan organisasi Gafatar.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova menduga saat ini ada empat warga Sumsel yang teridentifikasi bergabung dengan organisasi Gafatar. Namun untuk lebih memastikannya, hingga kini pihaknya masih akan berkoordinasi untuk mengetahui kebenarannya sehingga nantinya bisa dengan jelas diketahui berapa banyak warga Sumsel yang berada di sana.
“Saat ini masih terus berkoordinasi, sehingga bila memang benar ada warga Sumsel di Evakuasi Gafatar akan Genjah Bisa dipulangkan. Namun, untuk saat ini masih terus berkoordinasi,” katanya kemarin.
Wakapolda Sumsel, Brigjen Pol Syaiful Zachri jelaskan, Polda Sumsel masih terus menjalankan penyelidikan dan berkoordinasi dengan beberapa Polda yang ada di Kalimantan untuk memastikan warga Palembang yang hilang dan diduga bergabung dengan Gafatar.
”Kami masih berkoordinasi dengan Polda Kalbar dan polda lainnya di Kalimantan untuk memastikan apakah benar keberadaan warga Palembang yang hilang ada di sana,” jelasnya.
Sedangkan Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Pol Djoko Prastowo meminta kepada masyarakat Sumsel untuk tetap bisa menerima kembali warga yang tergabung dalam kelompok Gafatar.
Dirinya menyatakan, sebagai kepala kepolisian daerah akan menerima dengan tangan terbuka jika nantinya warga Sumsel yang tergabung dalam kelompok Gafatar yang dipulang kembali ke tempat asalnya, seiring usaha pemerintah untuk memulangkan anggota Gafatar dari Kalimantan Barat. Djoko menyebutkan, warga yang tergabung mengikuti kelompok Gafatar, hanya salah mencari arah.
“Anggota Gafatar yang dipulangkan kita terima, jangan dipanas-panasin, kita terima Gafatar, itu warga kita, saudara kita yang lupa, ingatkan saja, kita anggap dia lupa kemaren, maka kita ingatkan lagi. Jangan dimusuhin, kayak kejadian di Mempawa dengan membakar, itu gak bener,” katanya.
Djoko menjanjikan, memberikan perlindungan warga negaranya untuk menghindari terjadinya pengucilan setelah mereka kembali, namun perlindungan yang dimaksudkan tidak terlalu berlebihan.
“Harus dilindungi warga negara kita, sepantas-pantasnya saja, gak kayak pagar betis, yang penting masyarakat Sumsel baik-baik saja,” katanya.
Dirinya menganggap hal itu adalah biasa, dari jutaan manusia di Indonesia, satu atau beberapa orang salah jalan menjadi wajar bila ada yang salah arah, namun Djoko mewanti-wanti untuk tidak membesarkan hal tersebut.
“Itu kan sedikit dibanding warga kita sekian sejuta, biasa kalau anak sepuluh, satu yang nakal, biasalah,” katanya.
Sementara itu Sebanyak 1.300 bekas anggota organisasi massa (ormas) Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sudah dipulangkan dengan menggunakan jalur udara dan laut. Jalur udara enam penerbangan dan jalur laut dengan 1 KRI
Demikian disampaikan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Sisanya, kata Khofifah, akan dihitung kembali di 6 titik penampungan.
“Pergerakan dari Pontianak sudah diintentifikasi menuju 3 titik, yaitu Subabaya, Jawa Timur; Tanjung Mas, Bandara Solo dan Jogja, Jawa Tengah; dan Jakarta untuk Babel, Riau, Lampung, serta Jawa Barat,” kata Khofifah, Minggu, (24/1).
Dari tiga penerbangan yang sudah tiba di Jakarta, 2 penerbangan transit di dan dikarantina di Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) dan 1 penerbangan lagi di Balai milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Di tempat transit tersebut, dilakukan pendataan sebab ada di antara mereka yang telah menjual semua harta benda dan bisa ditawarkan ikut program transmigrasi ke Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur,” katanya.
Sesuai regulasi pemerintah memberikan kebebasan bagi seseorang untuk memeluk agama dan mengambil keputusan mengikuti aturan agama tersebut.
“Regulasi memberikan kebebasan bagi seseorang untuk menganut agama dan mengikuti agamanya tersebut,” demikian Khofifah.#osk