Malu, Tiba di Palembang Eks Gafatar ‘Sembunyi’

28
BP/MARDIANSYAH EKS GAFATAR-Suasana yang tampah didepan salah satu bangunan Dinas Sosial Provinsi Sumsel jalan Panti Sosial KM 10 Palembang yang digunakan sebagai tempat penampungan orang eks Gapatar yang berasal dari kota Palembang dan didaerah Sumsel, Sabtu (30/1).
BP/MARDIANSYAH
EKS GAFATAR-Suasana yang tampah didepan salah satu bangunan Dinas Sosial Provinsi Sumsel jalan Panti Sosial KM 10 Palembang yang digunakan sebagai tempat penampungan orang eks Gapatar yang berasal dari kota Palembang dan didaerah Sumsel, Sabtu (30/1).

Palembang, BP
Akhirnya warga Sumatera Selatan eks Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar tiba di Palembang pada Sabtu (30/1) setelah dijemput langsung Pemerintah Provinsi Sumsel dari tempat penampungan sementara eks Gafatar di Boyolali, Jawa Tengah. Ke-10 warga itu terbilang sehat secara fisik namun disebutkan mengalami trauma sehingga menolak bertemu media dan bahkan ada yang tidak ingin kembali ke Sumsel.

Tim dari Pemprov langsung membawa para warga eks Gafatar itu ke Panti Sosial Karya Wanita Harapan Dinas Sosial di KM 10 dengan menggunakan bus Pemprov setelah sebelumnya diantar dengan iring-iringan kendaraan Kesbangpol Kota dan Provinsi, Dinsos Sumsel, Polda Sumsel, dan Komando Resor Militer.

Tiba di Palembang pada pukul 11.47, rombongan eks Gafatar itu menggunakan pesawat Nam Air dengan nomor penerbangan 9080IN. Sebelumnya rombongan berangkat dari Asrama Haji Boyolali pukul 08.00 dengan menggunakan bus dan terbang pada pukul 10.25 dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.

Para awak media yang sudah menunggu mulai dari pukul 08.00 di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II tidak diperkenankan untuk masuk ke kawasan panti sosial. Pengamanan dilakukan cukup ketat oleh pihak Polresta Palembang, Polda Sumsel, dan Pol PP (Polisi Pamong Praja) Sumsel.

Baca Juga:  Atasi karhutla, Polda Sumsel Kirim Pasukan Brimob

Plt Kepala Dinas Sosial Sumsel Belman Karmuda mengatakan, kondisi warga eks Gafatar secara fisik cukup sehat. Namun mereka masih trauma, sehingga mereka meminta untuk tidak terekspos oleh media. Bahkan mereka ingin pindah ke daerah lain di luar Palembang karena takut tidak diterima oleh lingkungannya.

“Warga eks Gafatar ini cukup tertekan dan trauma, mereka tidak ingin terekspos media dan mereka rata-rata ingin menghapus identitas diri. Tetapi berdasarkan sidik jarinya mereka orang Sumsel, meskipun KTP Kalimantan sudah keluar, bahkan satu dari 10 orang itu tidak ingin kembali ke Sumsel, mereka takut tidak diterima tetangganya,” jelasnya.

Menurut Belman, warga eks Gafatar ini selama beberapa hari ke depan akan diberikan kembali pembekalan meski sebelumnya telah mendapatkan bimbingan di Boyolali selama lima hari, berupa kebangsaan dan fundamental.

“Mereka mengaku cukup lelah, mereka meminta istirahat. Kita juga meminta pendampingan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel dengan mengirim tim medis karena ada satu bayi sakit. Kita akan koordinasikan apakah mereka akan dikembalikan selama 5-7 hari, selama ada yang bertanggung jawab seperti keluarganya,” katanya.

Baca Juga:  Alex Sebut Tak Ada Kekosongan

Menurutnya, selain dua kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 10 orang itu, ada  28 orang  lagi atau enam KK warga eks Gafatar yang merupakan warga Sumsel belum kembali dan berada di penampungan sementara di Cibubur, Jawa Barat. “Kita akan koordinasikan dulu dengan Gubernur kapan akan dijemput atau mekanismenya seperti apa nantinya,” ujar Belman.

 

Informasi yang dihimpun, dua dari 10 pengikut eks Gafatar asal Sumsel tersebut adalah warga Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II. BeritaPagi kembali menyusuri kediaman Didi Maskik yang merupakan Ketua RT 04, Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II tempat pengikut eks Gafatar tersebut.

 

Menurut Maskik, dirinya telah beberapa kali didatangi pihak kepolisian untuk mengabarkan tentang keikutsertaan dua warganya dalam organisasi Gafatar.

Baca Juga:  KPK Sambangi UIN Raden Fatah

“Jadi ada dua bersaudara atas nama Neni dan kakak kandungnya, Dian. Benar warga kita dan diduga Gafatar ini dikenalkan oleh Armia Putra yang merupakan suami dari Dian,” ungkapnya.

 

Dikatakan Maskik, sekitar setahun lalu Armia datang menemuinya untuk meminta izin membuat kantor Gafatar di RT 04, Kelurahan 16 Ulu. “Dia terang-terangan mengaku dari Gafatar, tapi waktu itu belum heboh seperti saat ini. Kemudian saya sarankan untuk lapor dulu sama camat dan lurah. Tak lama dari itu saya dihubungi camat kalau organisasi ini dilarang dan otomatis saya pun menghalangi kegiatan mereka,” bebernya.

 

Menurut Maskik, dua warganya yang ikut gafatar tersebut diduga dikenalkan oleh Asmia yang merupakan suami Dian. “Kami warga di sini memaklumi dan tidak akan mengucilkan. Tidak terlalu mempersoalkan itu, kami tetap terima karena memang dari kecil sudah warga sini. Namun, kami tidak terima kalau Asmia (suami Dian-red) tinggal di sini, karena dia itu yang memperkenalkan Gafatar,” tegasnya. #pit/bel

 

Komentar Anda
Loading...