Musim Buah-buahan, Awas Berpengawet

92

             Meskipun berbulan-bulan di kapal, buah-buahan impor tetap segar dan mengilap. Cara yang sering dipakai negara asal saat mengirim buah dengan melapiskan lilin pada buah. Penggunaan lilin untuk memperlambat proses kerusakan buah. 

 lapsus-Buah lokalINI diakui salah satu pedagang buah-buahan yang sering berjualan di Jalan Hasan Kasim, sebut saja Bastari, yang mengatakan, ada beberapa buah impor dagangannya yang sudah dilapisi dengan lilin buah. Seperti apel, anggur, jeruk, dan pir.

“Bukan saya yang melapisi buahnya dengan lilin, tapi sudah dari distributor buah ini. Saya juga ambil lagi dari orang. Tapi setahu saya, lilin yang dipakai untuk melapisi buah ini tidak berbahaya karena biasanya terbuat dari ekstrak protein yang berasal dari jagung untuk melindungi kulit buah agar tetap bagus,” ungkapnya kepada BeritaPagi, Rabu (13/1).

Dengan dilapisi cairan lilin, Bastari mengatakan, buah bisa awet dalam waktu yang cukup lama. “Buah yang sudah dilapisi lilin bisa tahan hingga satu sampai dua bulan,” ucapnya.

Dirinya beranggapan, penggunaan lilin dalam melapisi buah juga masih termasuk cara mengawetkan buah yang baik jika dibandingkan dengan penggunaan formalin dan pengawet berbahaya lainnya. Ini karena cairan lilin yang melapisi buah bisa hilang ketika dicuci. “Yang penting sebelum dikonsumsi, baiknya dicuci dulu supaya lapisan lilinnya bisa hilang,” katanya.

Menurutnya, memang ada saja pedagang nakal yang tega memberi pengawet ataupun formalin pada buah dagangan yang nanti akan dikonsumsi oleh konsumen (pembeli). Tapi, ia menegaskan tidak semua pedagang buah melakukan hal seperti itu.

Baca Juga:  Waspada Buah Berpengawet

“Kalau pun ada pasti sudah ditindak oleh pemerintah, karena tindakan itu sudah melanggar aturan yang mewajibkan pedagang menjaga keamanan buah untuk dikonsumsi masyarakat,” tegasnya.

Ditanya soal isu banyaknya pedagang durian yang menjual durian karbit dan durian yang disuntik dengan pengawet, dikatakannya, isu durian karbit memang sudah ada sejak lama beredar di masyarakat. Terlebih jika melihat ketersediaan durian di pasaran yang tidak pernah langka juga jadi faktor beredarnya isu ini.

“Yah wajar saja kalau ada isu seperti itu, apalagi buah durian itu seperti tidak kenal musim. Padahal di Sumsel saja musimnya cuma setahun sekali. Sekarang tinggal pinter-pinternya pembeli saja, khususnya saat ingin membeli buah harus lebih teliti dan hati,” imbuhnya.

Sedikit berbeda, salah satu pegawai di tempat belanja buah di Diamond PTC, tidak mengakui keberadaan buah berlapis lilin yang dijual di tempat ini. Pasalnya, buah yang dijual dikatakannya merupakan buah segar yang disimpan di lemari pendingin.

“Ini buahnya masih segar, tidak ada yang pakai lilin. Buahnya juga disimpan dalam lemari pendingin, tapi bukan di tempat yang bisa membekukan. Hanya sekedar untuk menjaga suhu agar kulit buah tidak rusak, sebab kalau terlalu dingin atau terlalu panas bisa merusak buah,” kata dia, yang tak mau namanya disebutkan.

Baca Juga:  Kini Pengelolaan Sampah di Sumsel Sudah Berbasis Android

Ditanyai tindakan dari pengelola, jika buah yang dijual tidak laku dan busuk, ditambahkannya, dirinya tidak mengetahui masalah teknis seperti itu. “Nah kalau itu saya kurang tahu mas, saya cuma kebagian jaga tempat jual buah ini. Kalau soal itu mungkin yang lebih tahu manajer disini,” tegasnya.

Sementara itu, pendapat konsumen terhadap isu buah-buahan yang jual dilapisi cairan lilin sangat beragam. Ada konsumsen yang tidak percaya, ada yang takut dengan cairan lilin sebagai pengawet buah, ada juga yang beranggapan biasa saja dengan hal seperti itu.

Seperti, Iin, seorang Ibu Rumah Tangga yang bertempat tinggal di Kelurahan Sei Selayur, dirinya tidak percaya dengan isu adanya buah-buahan yang dijual di pasar dilapisi dengan cairan lilin.

“Saya biasa belanja buah di Pasar Kuto, pedagang buahnya sudah sangat kenal dengan saya, bisa dibilang saya ini pelanggan tetap di sana. Mana mungkin saya dicurangi dengan buah yang dilapisi dengan cairan lilin. Kalaupun ada saya akan sangat marah dengan pedagangnya, karena lilin kan cairan berbahaya,” singkatnya.

Ada juga yang takut dengan isu tersebut, sebut saja Herlina, seorang warga Lorong Lekipali Kecamatan Sako, yang mengaku semenjak menyebarnya isu mengenai buah-buahan yang dilapisi dengan cairan lilin, dirinya berhenti membeli buah, terutama buah yang dijual di pingggir jalan.

Baca Juga:  BSB Dukung Program Inklusi Jasa Keuangan

“Isu itu kan sudah lama, semenjak ada isu itu kami sekeluarga sudah sangat jarang membeli buah, apalagi yang jualannya dipinggir jalan. Karena yang di toko besar saja belum tentu higienis, apalagi dengan yang berjualan di pinggir jalan pasti sangat tidak bersih,” ungkapnya.

Selain itu, masih ada juga masyarakat yang beranggapan buah yang dilapisi lilin itu biasa saja, terlebih penggunaan lilin buah ini dijadikan untuk mengawetkan buah agar tidak cepat busuk. Susna, seorang Ibu Rumah tangga yang tinggal di Jalan Hasan Kasim (Celentang) ini mengungkapkan, penggunaan lilin untuk mengawetkan buah memang seringkali dilakukan pedagang agar buah tidak rusak dan busuk.

“Kita juga tidak bisa tutup mata dengan tindakan seperti itu. Tapi, wajar saja karena buah itu kalau sudah terlalu lama terkena angin langsung akan membuat buah mudah busuk. Kalau sudah busuk, otomatis pedagang akan merugi karena tidak laku dijual. Oleh karena itu para pedagang kebanyakan menggunakan lilin untuk melapisi buah dagangan,” katanya.

Pada kejadian seperti ini, sambungnya, masyarakat sebagai konsumen harus cerdas dalam membeli dan meilih buah untuk dikonsumsi. “Kalau kita membeli buah itu, ada baiknya dicuci dulu untuk membersihkan kotoran atau zat pengawet yang menempel di kulit buah,” singkatnya. #dil 

 

Komentar Anda
Loading...