Tunda Launching Songket WBTB Hingga Cuaca Membaik

6

Palembang, BP

BP/ARRACHIM RAPAT PERSIAPAN LOUNCING SONGKET-Sekda Sumsel, H Mukti Sulaiman dan Kepala Dekranasda Sumsel H Eliza Alex saat memimpin rapat persiapan Louncing Songket yang berlangsung diruang rapat Sekda Sumsel, Selasa (29/9)
BP/ARRACHIM
Kepala Dekranasda Hj Eliza Alex bersama Sekda Sumsel H Mukti Sulaiman saat memimpin rapat persiapan launching songket.

Launching kain tenun songket sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) dunia ditunda hingga pertengahan November mendatang. Acara yang sebelumnya dijadwalkan pada 15 Oktober tersebut ditunda hingga cuaca membaik, dan kabut asap telah berkurang.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumatera Selatan Hj Eliza Alex Noerdin mengatakan, hal itu sesuai dengan arahan Gubernur Sumsel yang mengungkapkan bahwa kondisi kabut asap masih pekat tidak baik untuk menyelenggarakan acara, terutama acara besar yang mengharuskan di luar ruangan.

“Diprediksi musim kemarau akan tetap berlanjut dan prediksi tuntas pada pertengahan November 2015. Mau tidak mau harus diundur karena memang kondisi kabut asap,” tuturnya usai Rapat Rencana Kegiatan Launching Songket Warisan Budaya Sumatera Selatan, Selasa (29/9).

Eliza menegaskan bahwa persiapan pihaknya untuk menggelar kegiatan ini sudah matang. Namun cuaca buruk ditenggarai akan menggangu pelaksanaannya apabila dipaksakan diselenggarakan.

Konsep pelaksanaan masih tetap seperti rencana sebelumnya. Peluncuran songket sebagai warisan budaya nasional secara simbolis dengan pemecahan rekor MURI 1.000 wanita bersongket. Istri orang nomor satu di Sumsel ini menginginkan momen tersebut untuk memperluas pasar songket di masyarakat.

Eliza menjelaskan, songket memang identik dengan harganya yang mahal, karena proses dan bahan yang digunakannya pun tidak murah. Namun pihaknya berusaha agar songket yang menjadi ciri khas budaya Sumsel, khususnya Palembang, dapat digunakan oleh seluruh masyarakat.

Baca Juga:  Komunitas Pecinta Sejarah UIN RF “Jelajah Kota Tua “ Palembang

“Itu tujuan utama kita. Sekarang sedang kami upayakan agar tersedia songket yang harganya terjangkau, namun kualitas dan kearifan lokalnya tetap terjaga,” tutur Eliza.

Ia memberi contoh, untuk bahan dasar pembuatan songket menggunakan benang yang tidak terlalu mahal agar biaya produksinya pun bisa dikurangi. Namun proses pembuatannya tetap menggunakan alat tenun tradisional, bukan menggunakan mesin.

“Tidak seperti kain songket asal Tiongkok yang menggunakan mesin. Memang harga songket cetakan, bukan tenun itu lebih murah. Tapi tidak sejalan dengan tujuan kita yang ingin tetap menjaga kualitas songket asli Sumsel. Kita maunya tetap ditenun tradisional,” jelasnya.

Terkait pemecahan rekor MURI 1.000 wanita bersongket, pihaknya telah mempersiapkan kerangka dasar acaranya. Pihaknya pun ingin menampilkan busana songket istimewa. Dalam satu busana, terdapat 30 macam motif.

Ia pun telah berkoordinasi dengan perancang-perancang tenun songket, dan pengrajin songket lokal untuk membahas konsep yang diusung seperti apa nantinya.

“Nanti konsep rancangan tenun songket lokal pun akan dipadukan dengan konsep tenun dari Tiongkok dan Jepang. Busana yang ditampilkan juga bukan untuk acara resmi saja. Tapi juga ada yang untuk acara santai sehari-hari. Tapi kesan anggunnya tetap ditonjolkan,” jelasnya.

Baca Juga:  Lestarikan Songket, Pemprov Minta Andil BUMN

Seluruh kabupaten/kota di Sumsel akan turut berpartisipasi memeriahkan acara ini. Sebanyak 1.000 wanita yang akan memecahkan rekor nantinya, merupakan wanita yang berasal dari berbagai kalangan. Pegawai Negeri Sipil (PNS), masyarakat umum, tokoh masyarakat, dan publik figur seperti selebriti pun direncanakan akan mengisi acara ini.

Rencananya, acara ini akan dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Koperasi dan UMKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koodinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, serta Menteri Perindustrian Saleh Husin.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumsel Ekowati Retnaningsih menuturkan, acara ini pun akan dimeriahkan oleh pameran songket, talk show, kunjungan ke pengrajin songket, serta melihat langsung Graha Songket di bilangan Jalan Angkatan 45, Palembang.

Sementara itu, Kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel Permana menambahkan, acara ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali songket sebagai warisan budaya Sumsel.

“Sebanyak 700 IKM ada di Sumsel dan 200 diantaranya mengeluti bidang penenunan songket. Tentunya kita harapkan, acara ini dapat memajukan dan mengairahkan usaha songket karena saat ini songket sudah diakui sebagai warisan budaya Sumsel oleh UNESCO,” ujar Permana.

Menurut Permana, Kementerian PMK juga menginginkan agar songket ini bisa membudaya seperti batik yang bisa dipakai oleh semua kalangan.

Baca Juga:  Kapolda Sumsel Ikuti Upacara Proklamasi Kemerdekaan RI di Griya Agung

“Kita berharap songket bisa menyusul ketenaran batu akik yang kini sangat digandrungi oleh masyarakat. Selain itu, acara ini juga diharapkan bisa menambahkan kecintaan masyarakat terhadap produk hasil dalam negeri,” urainya.

Pihaknya pun berharap BUMN yang ada di Sumsel mau mengalokasikan dana tanggung jawab social (CSR) mereka untuk kegiatan tersebut. “Kami sudah undang 17 BUMN yang ada di Sumsel baik dari sektor perbankan, pertambangan dan lainnya supaya mau berpartisipasi untuk acara pelestarian budaya songket, sekarang masih menunggu respon mereka,” katanya.

Menurut Permana, Pemprov harus melibatkan instansi BUMN karena terkendala minimnya anggaran untuk menggelar acara yang penuh dengan kegiatan itu.

Dia mengatakan untuk mengadakan acara selama tiga hari itu membutuhkan budget senilai Rp2,1 miliar yang akan dipakai untuk pameran, seminar, talkshow, business meeting, hingga fesyen show.

Permana mengemukakan sebetulnya pihaknya sudah berupaya menekan anggaran dari sebelumnya sebanyak Rp2,4 miliar.“Walaupun sudah diciutkan namun kami masih kekurangan dana senilai Rp998 juta untuk biaya panggung oleh karena itu kami minta dukungan dari BUMN,” paparnya.

Permana menambahkan agenda mengenai songket itu tergolong penting bagi keberlangsungan industri songket asal Sumsel. #idz

Komentar Anda
Loading...