Manaqiban di Jantung Kota: Merawat Tradisi, Menyapa Generasi

68

Oleh: KH M. Hendra Zainuddin Al-Qodiri (Ketua PWNU Sumatera Selatan)_

ADA fenomena menarik dalam kehidupan keagamaan masyarakat perkotaan Palembang belakangan ini. Tradisi manaqiban yang selama ini lekat dengan lingkungan pesantren dan komunitas pengamal tarekat, kini semakin menemukan ruang di tengah masyarakat perkotaan. Bahkan, geliatnya mulai terlihat di kalangan generasi muda, yang turut meramaikan majelis sekaligus memperkenalkan tradisi tersebut melalui media sosial.

Lini masa media sosial belakangan ini semakin akrab dengan dokumentasi kegiatan manaqiban, undangan majelis, pembacaan manaqib sewelasan, hingga suasana kebersamaan jamaah dalam majelis zikir. Tradisi yang dahulu lebih sering dijumpai di lingkungan tertentu itu kini semakin dikenal luas. Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, manaqiban seolah menjadi ruang bagi sebagian masyarakat untuk kembali merawat ketenangan batin dan kedekatan spiritual.

Fenomena ini menarik untuk dicermati. Di tengah modernitas, perkembangan teknologi, dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama ternyata tidak kehilangan tempat. Sebaliknya, tradisi itu menemukan cara baru untuk hadir dan menjangkau generasi berikutnya.

Tentu, manaqiban bukan tradisi baru di kalangan anak muda. Sejak dahulu, para kiai, pesantren, guru tarekat, dan keluarga santri telah merawatnya secara turun-temurun. Yang terlihat hari ini adalah semakin terbukanya ruang partisipasi masyarakat perkotaan, termasuk generasi muda, serta semakin luasnya publikasi kegiatan melalui media digital.

Di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), manaqiban merupakan salah satu tradisi amaliah yang hidup berdampingan dengan tahlil, pembacaan maulid, selawat, istigasah, dan majelis zikir. Tradisi ini tumbuh kuat, terutama di lingkungan pesantren dan komunitas pengamal tarekat.

Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah sewelasan, yakni pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani setiap tanggal 11 bulan Hijriah. Tradisi ini berkaitan dengan penghormatan terhadap Syekh Abdul Qadir al-Jailani, ulama besar yang dikenal luas dalam khazanah tasawuf dan sebagai tokoh penting dalam tradisi Tarekat Qadiriyah.

Bagi masyarakat yang merawatnya, sewelasan bukan sekadar kegiatan rutin bulanan. Di dalamnya terdapat pembacaan riwayat kehidupan seorang ulama, zikir, selawat, doa, dan pengharapan kepada Allah Swt. Majelis ini sekaligus menjadi ruang silaturahmi dan penguatan ikatan spiritual di antara jamaah.

Baca Juga:  Griezmann Dedikasikan Golnya Untuk Mengenang Serangan Teroris di Prancis

Di berbagai daerah, manaqiban juga dilaksanakan dalam beragam bentuk, menyesuaikan tradisi pesantren, guru, sanad keilmuan, dan kebiasaan masyarakat setempat. Ada yang menyelenggarakannya secara rutin setiap bulan, ada pula yang mengadakannya pada momentum tertentu atau ketika keluarga dan masyarakat memiliki hajat.

Kini, tradisi tersebut semakin terlihat di tengah kehidupan masyarakat perkotaan Palembang. Rumah-rumah warga, masjid, musala, majelis taklim, dan komunitas pengajian menjadi bagian dari ruang tumbuhnya kegiatan keagamaan. Media sosial turut memperluas jangkauannya, membuat masyarakat dapat mengetahui dan mengikuti kegiatan yang sebelumnya mungkin hanya dikenal di lingkungan pesantren atau majelis tertentu.

Kita dapat melihatnya sebagai dinamika yang menarik: tradisi lama tidak selalu berhadapan dengan modernitas. Dalam banyak hal, tradisi justru mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa harus kehilangan akar spiritualnya.

Bukan Hanya tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Selama ini, manaqiban sering langsung diasosiasikan dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Padahal, secara umum, manaqib merupakan kisah tentang kehidupan, keutamaan, perjuangan, dan keteladanan seseorang, terutama para ulama dan orang saleh.

Selain manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, terdapat pula tradisi pembacaan manaqib tokoh-tokoh lain dalam masyarakat Muslim. Di antaranya adalah manaqib al-Madani, yang dikenal dalam lingkungan spiritual tertentu dan memiliki pengaruh dalam tradisi keagamaan di sebagian wilayah Nusantara, termasuk dinPalembang.

Ada pula pembacaan kisah Siti Khadijah al-Kubra, Ummul Mukminin dan istri Rasulullah saw., yang menonjolkan keteguhan iman, pengorbanan, kesetiaan, serta dukungannya terhadap perjuangan dakwah Islam. Pembacaan riwayat tokoh perempuan mulia ini mengingatkan kita bahwa keteladanan orang saleh tidak terbatas pada ulama laki-laki, tetapi juga mencakup perempuan-perempuan yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam.

Di sejumlah lingkungan, terdapat pula tradisi pembacaan manaqib ulama atau wali lain sesuai dengan kitab dan amaliah yang diwariskan oleh guru masing-masing. Bentuk, nama kitab, dan tingkat popularitasnya berbeda-beda dari satu komunitas ke komunitas lainnya.

Kekayaan tradisi ini menunjukkan bahwa manaqiban bukan sekadar kegiatan membaca satu kitab atau mengenang satu tokoh. Ia merupakan bagian dari tradisi literasi keagamaan yang mengenalkan umat kepada sejarah perjuangan, kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, dan pengabdian para pendahulu.

Baca Juga:  Piala AFF: Laga Pembuka, Thailand Taklukkan Timor Leste 2-0

Kisah orang-orang saleh mengajarkan bahwa kesalehan tidak dibangun melalui penampilan atau pengakuan semata. Ia tumbuh melalui ilmu, ibadah, keikhlasan, kesabaran, perjuangan, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Karena itu, membaca manaqib semestinya tidak berhenti pada kekaguman terhadap tokoh yang dikisahkan. Lebih jauh, kita perlu mengambil pelajaran dari perjalanan hidup mereka dan berusaha menghadirkan nilai-nilai kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Mengharapkan Turunnya Rahmat
Dalam tradisi masyarakat yang mengamalkan manaqiban, terdapat keyakinan dan harapan bahwa menyebut kisah orang-orang saleh dalam majelis kebaikan dapat menjadi wasilah memperoleh keberkahan. Tidak sedikit jamaah yang menghadiri majelis dengan membawa doa dan hajat, berharap diberikan jalan keluar dari persoalan hidup, kesehatan, ketenteraman keluarga, kelapangan rezeki, dan kemudahan dalam urusan mereka.

Harapan seperti ini perlu ditempatkan dalam kerangka penghambaan kepada Allah Swt. Sebab, Allah-lah tempat seorang hamba memohon pertolongan dan menggantungkan seluruh harapannya. Manaqiban bukan jaminan otomatis bahwa setiap hajat akan dikabulkan, melainkan dapat menjadi sarana memperkuat doa, tawakal, dan kedekatan kepada-Nya.

Ungkapan bahwa ketika orang-orang saleh disebut, rahmat diharapkan turun, mencerminkan penghormatan kepada mereka sekaligus harapan atas keberkahan majelis yang diisi dengan zikir, selawat, doa, dan nasihat kebaikan.

Rasulullah saw. menjelaskan dalam hadis riwayat Muslim tentang keutamaan sekelompok orang yang berkumpul untuk berzikir kepada Allah. Mereka diliputi ketenangan, memperoleh rahmat, dan disebut oleh Allah di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.

Landasan ini mengingatkan kita bahwa nilai spiritual sebuah majelis tidak semata-mata terletak pada siapa tokoh yang dikisahkan, tetapi juga pada zikir kepada Allah, doa yang dipanjatkan, ilmu yang dipelajari, dan kebaikan yang tumbuh di antara orang-orang yang hadir.

Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dengan orang-orang yang benar dan menjaga ketakwaan. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Baca Juga:  Investor Gerak Cepat

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah 99: 119).

Dalam konteks manaqiban, ayat ini dapat menjadi pengingat agar kita tidak hanya mengenal kisah orang saleh, tetapi juga belajar membangun lingkungan yang baik, menjaga ketakwaan, dan meneladani kejujuran serta akhlak mereka.

Menghidupkan Kebaikan

Pada akhirnya, manaqiban bukan sekadar mengenang kesalehan masa lalu, melainkan ikhtiar menghadirkan nilai-nilai kesalehan itu pada masa kini. Tradisi ini menghubungkan generasi sekarang dengan warisan keilmuan dan spiritual para ulama, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan yang baik dibangun melalui ilmu, akhlak, ibadah, dan pengabdian.

Dari pesantren hingga perkotaan Palembang, dari majelis tarekat hingga lini masa media sosial, manaqiban dapat menjadi jembatan yang mempertemukan warisan spiritual dengan kebutuhan rohani masyarakat modern.

Fenomena ini dapat dipahami melalui kajian Martin van Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Ia mengkaji hubungan antara tradisi keilmuan pesantren, literatur Islam klasik atau kitab kuning, dan kehidupan tarekat dalam membentuk corak keberagamaan masyarakat Muslim Indonesia. Dalam konteks manaqiban, hubungan tersebut tampak pada pewarisan kisah keteladanan ulama, pembacaan teks keagamaan, serta praktik zikir dan doa yang berlangsung secara kolektif. Ketika tradisi ini tumbuh kembali di perkotaan, kita dapat melihatnya sebagai bagian dari kesinambungan warisan spiritual Islam yang beradaptasi dengan ruang dan cara komunikasi masyarakat modern, tanpa harus kehilangan akar keilmuan dan adab kepada para ulama.

Kita berharap, semakin ramainya majelis manaqiban juga diiringi dengan semakin kuatnya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, penghormatan terhadap para ulama, serta semangat untuk meneladani orang-orang saleh. Sebab, penghormatan yang paling bermakna bukan hanya mengenang nama mereka, tetapi juga berusaha mengikuti jalan kebaikan yang mereka wariskan.

Mengenang orang saleh, meneladani akhlaknya, merawat tradisi, dan menautkan hati kepada Allah. Itulah ruh manaqiban yang patut terus dijaga, dari pesantren hingga jantung kehidupan perkotaan.

_Wallāhu a‘lam bish-shawāb.#ud

Komentar Anda
Loading...