Ratu Dewa Tegaskan Komitmen Kebudayaan, Palembang Segera Tetapkan Tari Sambut Resmi  Hingga Hidupkan Aksara Melayu

40
Ratu Dewa Tegaskan Komitmen Kebudayaan, Palembang Segera Tetapkan Tari Sambut Resmi Hingga Hidupkan Aksara Melayu (ist/rmolsumsel.id)

Palembang, BP- Pemerintah Kota Palembang kembali memperkuat komitmen kebudayaan melalui rapat lanjutan penandatanganan 9 Poin Fakta Integritas Kebudayaan yang sebelumnya ditegaskan oleh Wali Kota Ratu Dewa dan Wakil Wali Kota Prima Salam (RDPS). Rapat berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Jalan Tasik, Jumat (19/9/2025).

Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Palembang Ratu Dewa dan dihadiri sejumlah kepala dinas, OPD terkait, serta tokoh budaya. Hadir pula Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diradja SH MKn, Ketua Tim II Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang Hidayatul Fikri (Mang Darat), Wakil Ketua Vebri Al Lintani, dan anggota tim kebudayaan lainnya seperti Kemas Ari Panji, Ali Goik, Genta Laksana, Isnayanti Safrida, Iskandar Sabani, Dudy Oskandar, dan Fadli Lonardo.
Ratu Dewa menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk penundaan dalam urusan kebudayaan. Salah satu hal yang paling mendesak adalah penetapan Tari Sambut Palembang sebagai tarian resmi kota.
“Kita sudah sepakat, budaya adalah wajah Palembang. OPD harus bergerak cepat, tidak boleh lamban. Rancangan Perwali Tari Sambut harus difinalisasi dan disahkan maksimal satu bulan,” tegas Ratu Dewa.
Saat ini, provinsi Sumatera Selatan telah memiliki Tari Gending Sriwijaya dan Tari Tangai sebagai representasi budaya tingkat provinsi. Namun, Palembang sendiri belum memiliki tarian sambut yang diakui secara formal.
Ketua Tim II Kebudayaan Palembang, Hidayatul Fikri (Mang Dayat), menjelaskan bahwa penandatanganan Fakta Integritas bukan sekadar komitmen politik, melainkan deklarasi moral untuk mengembalikan jati diri Palembang sebagai kota budaya.
Sembilan poin tersebut mencakup menurutnya Perlindungan situs sejarah dan makam raja serta sultan Palembang, Revitalisasi kawasan budaya dan arsitektur khas Palembang., Penguatan identitas Kesultanan Palembang sebagai akar budaya kota, Palembang, Peringatan Hari Jadi Kesultanan Palembang (3 Maret) dan Hari Jadi Kota Palembang (16 Juni).
Lalu Penggunaan aksara Melayu untuk penamaan jalan dan ruang public, Penyusunan Perwali tentang Tari Sambut sebagai identitas budaya Palembang, Peningkatan anggaran dan regulasi kebudayaan, Pengakuan adat pangku adat melalui forum diskusi (FGD) dan Pemberdayaan komunitas seni dan budaya lokal dalam pembangunan kota.
Mang Dayat menyoroti pentingnya melestarikan arsitektur khas Palembang dan menghidupkan kembali aksara Melayu yang kian tergeser oleh pembangunan modern.
“Aksara Melayu bukan sekadar tulisan, tetapi simbol peradaban kita. Menghidupkannya kembali di penamaan jalan dan ruang publik adalah langkah simbolis untuk memperkuat identitas budaya Palembang,” ujarnya.#udi
Baca Juga:  LaNyalla Minta Pemda Pastikan Kenyamanan Pengungsi Gunung Lewotolok NTT
Komentar Anda
Loading...