Perempuan, Patriarki, dan Cerita yang Rapi

Bedah Buku “Hamidah Hamiduh” Karya Desy Arisandi

41

Musi Rawas, BP – Cerita-cerita pendek dalam Hamidah Hamiduh (Diva Press, 2024) mengalir rapi sekaligus menyimpan keberanian dalam menyuarakan persoalan perempuan. Buku kumpulan cerpen karya Desy Arisandi ini dibedah dalam diskusi santai tetapi sarat makna di kafe Amazing Riverside, Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (11/7/2025).

Disusun dari cerpen-cerpen yang telah terbit di media massa, Hamidah Hamiduh dibaca ulang oleh Arman AZ, peneliti sastra di Leiden University sekaligus sastrawan asal Lampung. Dalam pandangannya, kerapian penulisan menjadi kekuatan buku ini. Namun, lebih dari itu, ia menangkap satu benang merah dari cerpen-cerpen Desy: suara perempuan yang tak hanya melawan patriarki, tetapi juga menggugat sentimen antarsesama perempuan.

Baca Juga:  Perempuan Dalam Lingkaran Publik dan Politik

“Desy ingin mengatakan bahwa ternyata musuh perempuan bukan hanya sistem patriarkal, tetapi juga antarperempuan sendiri,” ujar Arman, disambut anggukan para peserta diskusi.

Satu sudut peserta bedah buku. (Istimewa)

Sebelumnya, Desy membuka acara dengan kisah proses kreatif yang ia jalani. Ia menyebut cerpen-cerpen itu lahir dari pengamatan atas keseharian di sekitarnya, yang tak lepas dari persoalan identitas, kuasa, dan relasi gender.

Baca Juga:  Golkar Seluruh Sumsel Penuhi 30 Persen Keterwakilan Perempuan

Diskusi dipandu pegiat literasi Musi Rawas, Yohanita. Sesi tanya jawab berlangsung cair, ketika peserta mempertanyakan visi kepengarangan Desy maupun kaitan karya dengan isu kesetaraan.

Acara ini menjadi bagian dari seri Bincang Buku yang digelar secara rutin oleh kolaborasi lintas komunitas, seperti Rumah Kreatif Bernas, Lingkaran, Benny Institute, dan Wahid 21. Layang-layang Organizer sebagai penaja dan Filosofi Motret di lini dokumentasi membuat acara ini tertata secara profesional, tanpa kehilangan nuansa akrab.

Baca Juga:  Harry Styles Menangkan Piala Album of the Year Grammy Awards 2023

Buku dan diskusi menjadi perjumpaan yang tak hanya menghidupkan sastra, tapi juga membuka ruang baru bagi refleksi sosial dan keberanian perempuan dalam bercerita. (rel)

 

Komentar Anda
Loading...