Ditengah Guyuran Hujan , Pertunjukan Teater Tradisional Bangsawan Warnai Malam Pernikahan Wisnu dan Riska

40
Di tengah guyuran hujan dan suasana malam yang dingin, halaman rumah pengantin Wisnu dan Riska di Lorong Taman Bacaan, Tangga Takat, Seberang Ulu II Palembang, berubah menjadi panggung hangat bagi pertunjukan teater tradisional Bangsawan pada Minggu (6/7/2025). (BP/ist)

Palembang, BP- Dulmuluk merupakan  tradisi yang telah hadir di Palembang sejak puluhan tahun lalu. Selain Dulmuluk yang hadir dengan lakon, cerita, dan pakem yang mengikat, ada versilain yang jadi pilihan. Disebut, Bangsawan.

Bedanya, di alat musik pengiring, alur cerita, dan lakon serta pakem.
Sejak dulu, menurut Pelestari Dulmuluk, Jonhar Saad, teater tradisi tersebut memang rajin tampil di berbagai acara dan kenduri warga. Baik itu, syukuran, sunatan, maupun peryaan perkawinan.
Namun seiring zaman, tanggapan (undangan) mulai berkurang.
Padahal, kalua dulu di tahun 70-an hingga 80-an, setiap pekannya, hanya malam Jumat, mereka kosong tanggapan.
“Itu cerita lama, kami dulu setiap hari main terus, kecuali Jumat,” tambah, Randi Putra Ramadhan, yang dulu  masih tergabung di Dulmuluk Cilik (Dulcik) ketika ditemui di halaman rumah pengantin Wisnu dan Riska di Lorong Taman Bacaan, Tangga Takat, Seberang Ulu II Palembang, saat penampilan  pertunjukan teater tradisional Bangsawan pada Minggu (6/7/2025)malam.
Randi dan Jonhan, dua pemain Dulmuluk, anak dan ayah, yang tergabung di sanggar Harapan Jaya.
Malam tadi, meski diguyur hujan, Bangsawan yang dimainkan oleh Abdul Hamid Ali Dkk tak terhalang untuk tampil.
Kalau biasanya tampil dipanggung, kemarin mereka tampil di halam rumah pengantin, pasangan Wisnu dan Riska di Lorong Taman Bacaan, Tangga Takat, SU II Palembang.
Abdul Hamid Ali dkk mementaskan Bangsawan dengan kostum lengkap. Juga ada kadamnya. Ceritanya tentang Raja wanita yang masih sendirian, dan memimpin negeri dengan bijaksana.
Kalau biasanya, perlengkapan panggung dilengkapi dengan singgasana dan Pernik-perniknya, pertunjukan kali ini tanpa itu.
Singgasananya hanya berupa kursi plastik yang dihadirkan saat cerita menghadirkan raja wanita. Dengan latar kain yang dipasang di dinding rumah panggung.
Meski demikian, para hadirin yang memenuhi halaman rumah pengantin, terpingkal-pingkal dibuat penampilan bangsawan.
Pelaminan pengantin, juga tampak ditempati penonton. Pelaminan yang dilengkapi tulisan pengantin, Wisnu dan Rika memang masih terpampang jelas.
Siang harinya,  sepasang pengantin itu bersanding di hari pernikahannya. Dan malam harinya, yang menjadi malam pertamanya, diramaikan dengan pertunjukan Bangsawan.
Penampilnan kadam yang diperankan Sani dan Mang Gobok memang  seakan ‘membakar’ suasana yang dingin karena hujan dan menyisakan gerimis.
Akhir cerita   yang tuntas sekitar pukul 00.00 sepertinya happy ending, menikahnya sang Raja wanita dengan pengembara yang sakti diperankan  Dedi.
Malam pertama sepertinya bukan hanya bagi penganting Wisnu dan Rika yang menanggap Bangsawan. Tapi juga, bagi sang ratu dan pengembara.
Ada hal atau tren baru di penampilan Dulmuluk maupun  Bangsawan. Kini diwarnai banyaknya saweran yang terkadang jadi rebutan pemain. Bahan, sang raja pun, yang mestinya berwibawa dan gagah pun, terkadang ikut berebut saweran bersama  kadam.
Ini tentu menjadi tontonan unik yang  zaman dulu mungkin tidak ada. Paing tidak, saweran, yang biasanya ramai di pentas-pentas dangdut, bia menambah honor pemain Dulmuluk/Bangsawan, yang memang seringkali minim.
Dan, iringan musik pengantar cerita pun kini diambil alih oleh organ tunggal. Sebagai variasinya, pemain Bangsawan pun, yang kebetulan punya suara lumayan, terkadang membawakan lagu-lagu yang tak terkait cerita.
Dan lumayan, sawer pun bertambah. Asyik, lagu dangdut maupun    lagu India pun menghibur penonton di Lorong Taman Bacaan.
Banyak fenomena baru mengiringi kehidupan Dulmuluk/Bangsawan yang kini masih terseok-seok.
Adanya Program Kampung Tematik, yang di Lorong Taman Bacaan mendapat  bagan jadi Kampung Dulmuluk tentu menjadi harapan adanya sesuatu yang baru dan menjadi pendorong semangat agar kesenian tradisi ini masih tetap bertahan.
Tampak hadir menyaksikan penampilan Bangsawan malam kemarin, Ketua DKP   M Nasir Bersama beberapa pengurus seperti Fir Azwar dan Ali Goik sebagai pembina DKP, Dr Kemas Ari Panji (Litbang), Raden Genta Laksana dan Adam (Sekretariat), juga Andivedo (pengurus DKP sekaligus tokoh pelestari Dulmuluk di LorongTaman Bacaan.
Juga tampak hadir juga, Mang Dayat, seorang onten creator budaya yangj uga Ketua AKSSI ( Asosiasi Kreator Konten Seluruh Indonesia) Wilayah Sumsel, sekaligus  Ketua Tim 11 (tim percepatan realisasi pakta integritas RDPS).
Kiki Kirana dan kawan-kawan yang hadir belakangan, ikut meramaikan padatnya kursi penonton di halaman yang sempit.
Sajian nasi minyak di kediaman Pedo menjadi penghantar yang mantap untuk bertahan sampai larut malam di depan panggung penampilan Bangsawan.
Sebelumnya, seni pertunjukan Dulmuluk merupakan salah satu warisan budaya khas Palembang yang telah ada sejak abad ke-19. Kesenian ini awalnya dikenal sebagai pembacaan syair atau cerita berbentuk teater yang berkembang dari tradisi lisan masyarakat. Dulmuluk berakar dari kisah Syair Abdul Muluk dan telah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Palembang.
Seni pertunjukan ini pertama kali dikenalkan di Palembang sekitar tahun 1854 oleh seorang pedagang keturunan Arab bernama Wan Bakar. Dalam perjalanannya berdagang ke berbagai daerah, termasuk Singapura dan Malaysia, Wan Bakar memperoleh sebuah kitab berjudul Syair Abdul Muluk.
Setibanya di Palembang, Wan Bakar menetap di daerah Tangga Takat, Kecamatan Seberang Ulu II. Di sana, ia kerap membacakan kitab syair tersebut kepada masyarakat sekitar. Pembacaan kisah Abdul Muluk rupanya menarik perhatian warga, sehingga permintaan untuk mendengarkan kisah tersebut semakin meningkat.
Melihat animo masyarakat, Wan Bakar membentuk sebuah kelompok pembaca syair yang membacakan Syair Abdul Muluk secara bergantian, berdasarkan peran tokoh dalam cerita. Pada tahap awal, pembacaan masih dilakukan secara tekstual. Namun, seiring waktu, pertunjukan berkembang: para tokoh mulai menghafal dialog, mengenakan kostum sederhana, dan memerankan adegan dengan beradu akting.
Pertunjukan yang semula hanya dilakukan di dalam rumah lambat laun berpindah ke tanah lapang atau ruang terbuka, karena minat masyarakat semakin tinggi. Acara ini pun menjadi hiburan rakyat yang ramai didatangi, bahkan menjadi peluang ekonomi bagi para pedagang sekitar, salah satunya Wak Nangnong.
Wak Nangnong, seorang pedagang yang juga menjadi tokoh penting dalam penyebaran Dulmuluk, mulai mengajarkan seni ini kepada masyarakat. Salah satu muridnya adalah Yek Mesir (kakek dari Jonhar Saad), yang kelak dikenal sebagai generasi pertama pengembang Dulmuluk di Palembang, sejak tahun 1902.
Yek Mesir dan cucunya, Jonhar Saad, kemudian membentuk kelompok Dulcik (Dulmuluk Cilik), sebuah grup teater yang beranggotakan anak-anak. Namun, seiring berkembangnya teater Bangsawan yang lebih populer di kalangan masyarakat, minat terhadap Dulcik menurun. Akibatnya, dari tahun 1970 hingga 1972, kegiatan Dulcik sempat vakum.
Baru pada tahun 1978, Dulcik bangkit kembali dan mengubah namanya menjadi Dulmuluk Remaja, seiring dengan mayoritas anggotanya yang merupakan remaja.
Dalam perkembangannya, kelompok ini kembali berganti nama menjadi Teater Dulmuluk Jaya Bersama pada tahun 1982, dan kemudian menjadi Teater Dulmuluk Harapan Jaya, yang masih aktif hingga tahun 2024 di bawah kepemimpinan Jonhar Saad.
Jonhar Saad yang merupakan tokoh sentral dalam pelestarian seni pertunjukan Dulmuluk. Ia telah mengenal dan terlibat dalam dunia Dulmuluk sejak usia 4 tahun, melalui bimbingan kakeknya, Yek Mesir. Pada tahun 1967, ketika masih duduk di bangku SR (Sekolah Rakyat), ia mulai serius menekuni seni ini.
Walaupun sempat ditentang oleh ibunya, Sanimah, Jonhar tetap gigih mengejar impiannya. Ia bahkan sampai mencuri beras di dapur untuk membayar biaya latihan Dulmuluk. Kegigihan dan kecintaannya terhadap seni inilah yang menjadikannya sebagai pelaku seni yang sangat berdedikasi.
Seni pertunjukan Dulmuluk bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan cerminan dari perjalanan sejarah, identitas budaya, serta semangat masyarakat Palembang dalam melestarikan warisan leluhur.
Dari Wan Bakar hingga Jonhar Saad, warisan ini terus hidup dan berkembang melintasi generasi.#udi
Baca Juga:  Dwiki Dharmawan, Eko Supriyanto, Andrea Hirata Hebohkan GMT Belitung
Komentar Anda
Loading...