Masyarakat Sehat Sriwijaya Dorong Kemandirian Ekonomi Penyintas TBC Lewat Kolaborasi dalam Konferensi Nasional BCF 2025

62
Masyarakat Sehat Sriwijaya (MSS), sebagai mitra strategis Bakrie Center Foundation (BCF) dalam program Campus Leaders Program (CLP) batch 10, turut ambil bagian dalam Konferensi Nasional BCF 2025 yang mengangkat tema “Pelibatan Aktif Pemuda dalam Percepatan Pencapaian SDGs Indonesia”. Melalui partisipasi ini, MSS mempresentasikan prototipe program yang mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi dengan upaya eliminasi penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC), di wilayah urban padat di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.(BP/ist)

Palembang, BP-Masyarakat Sehat Sriwijaya (MSS), sebagai mitra strategis Bakrie Center Foundation (BCF) dalam program Campus Leaders Program (CLP) batch 10, turut ambil bagian dalam Konferensi Nasional BCF 2025 yang mengangkat tema “Pelibatan Aktif Pemuda dalam Percepatan Pencapaian SDGs Indonesia”. Melalui partisipasi ini, MSS mempresentasikan prototipe program yang mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi dengan upaya eliminasi penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC), di wilayah urban padat di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

BCF sebagai lembaga filantropi yang berkomitmen pada pengembangan kepemimpinan dan kapasitas pemuda, sejak awal menghadirkan CLP sebagai wadah nyata untuk mendorong pemuda berkolaborasi langsung dengan lembaga mitra di berbagai daerah. Konferensi ini menjadi titik temu strategis antara para SDGs Hero—sebutan bagi peserta CLP—dengan pemerintah, akademisi universitas, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta, untuk mempresentasikan gagasan dan prototipe program yang mereka rancang selama masa penempatan. Pelaksanaan Konferensi Nasional CLP Batch 20 tahun 2025 ini turut didukung oleh PT. Pupuk Indonesia dan PT. Kaltim Prima Coal.

Dalam forum ini, MSS menyoroti bagaimana pemulihan ekonomi keluarga pasien TBC dapat menjadi kunci dalam mempercepat upaya eliminasi TBC nasional yang ditargetkan tercapai pada 2030. Program yang diusung MSS di Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati, menitikberatkan pada pentingnya penguatan kapasitas ekonomi masyarakat rentan yang selama ini terdampak oleh penyakit, beban sosial, dan stigma.

Baca Juga:  IPNU–IPPNU Palembang Gelar Doa Bersama dan Anugerahkan Penghargaan untuk Muassis NU di Peringatan Satu Abad NU

Melalui serangkaian asesmen sosial dan ekonomi, MSS menemukan bahwa mayoritas pasien TBC di wilayah tersebut bekerja di sektor informal dengan pendapatan di bawah Rp1.000.000 per bulan. Kondisi ini tidak hanya mempersulit proses pengobatan, tetapi juga menurunkan kualitas hidup keluarga pasien secara signifikan. Menjawab tantangan tersebut, MSS mengembangkan prototipe program berbasis potensi lokal berupa sistem aquaponik terpadu yang menggabungkan budidaya ikan dan sayuran, pelatihan keterampilan kewirausahaan, serta penguatan jejaring pemasaran komunitas.

Program dengan sistem aquaponik ini tidak membutuhkan lahan yang luas karena menggunakan sistem terpal pada media kolam. Guna meningkatkan hasil budidaya, media tanam akan dipasang pada bagian atas kolam sehingga mereka mendapatkan protein hewani dan nabati. Sistem aquaponik tidak membutuhkan waktu yang lama untuk panen. Hanya dengan waktu 2-3 bulan untuk memperoleh hasil panen hewani dari ikan lele, dan 30-40 hari untuk hasil panen dari tanaman pokcoy.

“Selama ini, pendekatan eliminasi TBC sering kali terfokus pada aspek medis, padahal kenyataannya para pasien dan keluarganya menghadapi tekanan ekonomi yang tidak kalah berat. Melalui forum ini, kami ingin menunjukkan bahwa upaya penyembuhan bisa dilakukan secara paralel dengan pemulihan ekonomi. Kolaborasi dengan anak-anak muda dari CLP menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas dan potensi lokal seperti sistem aquaponik dapat menjadi solusi nyata dan berkelanjutan,”  ujar Lufita Harianto sebagai perwakilan Masyarakat Sehat Sriwijaya mengenai konferensi nasional yang sudah berjalan,  Selasa (24/6/2025).

Baca Juga:  Gelar Senam Sicita, PDI Perjuangan Sumsel Bangun Konsolidasi  Untuk Menang Pemilu Tahun  2024

Dalam Konferensi Nasional CLP Batch 10 ini juga sekaligus meresmikan prosiding yang salah satunya berasal dari praktik baik mahasiswa magang penempatan MSS pada CLP Batch 9. Peluncuran ini diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Dasa Wibawa Nugraha; Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, TB. Chaerul Dwi Sapta; Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Yos Sunitiyoso; Manager Monitoring & Evaluasi Sekretariat Nasional SDGs Bappenas, Gantjang Amanullah; Presiden Direktur PT. Persada Capital Investment, Arini Subianto; Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi; dan Chief Executive Officer Bakrie Center Foundation, Jimmy Gani.

Dalam sambutannya, para pembicara menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, terutama di sektor kesehatan dan pemberdayaan sosial.

Baca Juga:  Hati-hati ‘Developer’ Fiktif

Selain sesi presentasi prototipe program dari berbagai provinsi, konferensi ini juga menghadirkan panel diskusi, dialog tematik interaktif, serta peluncuran dokumen rekomendasi kebijakan yang dirumuskan berdasarkan aspirasi generasi muda. Forum ini menjadi ruang penting bagi lembaga mitra seperti MSS untuk memperluas kolaborasi dan membawa suara komunitas ke meja pengambilan kebijakan.

Partisipasi MSS dalam Konferensi Nasional Batch 10 tahun 2025 ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan latar belakang pengalaman mendampingi lebih dari 700 pasien TBC aktif melalui 8 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, MSS mengedepankan prinsip pemulihan holistik yang menjangkau aspek medis, ekonomi, dan martabat sosial pasien. MSS berharap program ini dapat memenuhi kebutuhan kecukupan gizi keluarga pasien dan keluarga penyintas. Selain itu, MSS juga merancang program ini dalam jangka panjang agar dapat menjadi sumber penghasilan keluarga pasien dan keluarga penyintas.

Dengan semangat gotong royong dan keberpihakan kepada komunitas rentan, MSS menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan hanya dapat tercapai jika semua pihak—termasuk komunitas, pemuda, dan organisasi akar rumput—dilibatkan dalam proses dari awal. Konferensi ini menjadi tonggak penting bagi MSS dalam mendorong kebijakan yang lebih berpihak dan program yang lebih berdampak.#udi

Komentar Anda
Loading...