Sebelum Sekolah Rakyat Prabowo, Ada SMA Anak Miskin Alex Noerdin

112

Jakarta, BP — Di tengah gencarnya gagasan Presiden Prabowo Subianto membangun sekolah rakyat dari jenjang dasar hingga menengah sebagai jembatan mobilitas sosial anak-anak dari keluarga kurang mampu, sebuah model pendidikan serupa sebenarnya telah lebih dulu berjalan di Sumatera Selatan. Namanya: SMA Negeri Sumatera Selatan (SMAN Sumsel). Sejak 2009, sekolah ini telah membuka akses pendidikan berkualitas tinggi untuk siswa miskin—bukan hanya gratis, tetapi juga berasrama, bertaraf internasional, dan penuh prestasi.

Sekolah ini bukan lembaga biasa. Berlokasi di kawasan Jakabaring, Palembang, SMAN Sumsel dibentuk dari kerja sama antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Putera Sampoerna Foundation. Alex Noerdin, gubernur kala itu, meluncurkan proyek ini dengan semangat memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan.

“Saya ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga miskin pun bisa memimpin, bisa sejajar dengan siapa pun di dunia ini,” ujar Alex dalam peringatan satu dekade SMAN Sumsel, 17 September 2018.

Seleksi Ketat dan Home Visit

Penerimaan siswa baru digelar setahun sekali dan disosialisasikan jauh-jauh hari ke seluruh penjuru 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Dari sekitar seribu pendaftar tiap tahun, hanya 120 siswa yang diterima. Prosesnya bukan main ketat. Selain tes akademik dan kebugaran, ada tahapan verifikasi dokumen hingga kunjungan rumah (home visit) untuk memastikan latar belakang ekonomi calon siswa benar-benar sesuai kriteria.

Baca Juga:  KKKS PT SRB Sukses Discovery Minyak dan Gas di Sumur Eksplorasi Sungai Anggur Selatan-1

“Banyak yang kami kunjungi tinggal di rumah panggung reyot, tanpa listrik, hanya ditemani nenek atau ibu yang sakit-sakitan,” tutur Iswan Djati Kusuma, Kepala Sekolah SMAN Sumsel. Dalam proses itulah, pada penerimaan pertama, tim seleksi menemukan Dalila, seorang gadis kecil yang hidup bersama nenek dan ibunya yang mengidap disabilitas. Kelak, sembilan tahun kemudian, Dalila menjadi dokter dan menjalani masa internship di RS Pertamina, berkat beasiswa penuh dari SMAN Sumsel.

Syarat penerimaan pun tak sekadar soal ekonomi. Calon siswa harus memiliki rata-rata nilai akademik minimal 82 selama SMP, mampu berbahasa Inggris aktif, aktif dalam kegiatan sosial, dan tidak sedang memiliki saudara kandung yang menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Bahkan, dokumen persyaratan menyertakan foto rumah dari berbagai sudut, slip gaji orang tua, hingga bukti pemakaian listrik dan surat penghasilan dari kepala desa.

Baca Juga:  Terkait Kendaraan ODOl di   Sumsel , Kapolda Sumsel Bilang Ini...

Sekolah Berstandar Dunia

SMAN Sumsel mengadopsi kurikulum nasional dan internasional Cambridge. Para siswa dibimbing agar mampu lulus Ujian Nasional dan ujian Cambridge International Examination (CIE). Sekolah ini juga menjadi pusat penyelenggara ujian Cambridge resmi (CIE Center). Tak mengherankan, lulusannya banyak yang diterima di kampus-kampus ternama seperti Universitas Indonesia, ITB, UGM, dan juga kampus luar negeri.

Salah satunya adalah Shinta Dwi Nourma, siswi asal Sekayu yang lulus seleksi beasiswa KC Kuok—beasiswa prestisius yang didanai Beau Kuok, taipan Asia Tenggara dari keluarga pendiri jaringan Shangri-La Hotel. Shinta melanjutkan studi ke Monash University, Australia dengan beasiswa penuh mencakup biaya kuliah, tempat tinggal, tiket pesawat, hingga uang saku.

Di SMAN Sumsel, para siswa tak hanya mengasah akademik. Mereka wajib mengikuti program Community and Services—semacam pengabdian masyarakat—serta didorong aktif dalam organisasi, wirausaha, dan berbagai kompetisi lokal hingga internasional. Kehidupan berasrama menjadi ruang pembentukan karakter, toleransi, dan kepemimpinan.

Baca Juga:  Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo Terpilih Menjadi Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi

Mimpi yang Menjelma Nyata

Kini SMAN Sumsel telah meluluskan lebih dari 600 siswa dari lima angkatan. Sebagian besar mendapat beasiswa di perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Banyak yang telah menjadi dokter, insinyur, ilmuwan, dan profesional muda.

Namun, ke depan keberlanjutan sekolah ini tak lepas dari komitmen pemerintah provinsi. Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan muncul dari sisi pendanaan menyusul perubahan arah prioritas anggaran daerah. Bahkan pada 2023 lalu, isu pemotongan subsidi sempat mencuat meski kemudian dibantah Dinas Pendidikan Sumsel.

“Program ini harus dijaga, karena SMAN Sumsel sudah terbukti menjadi model pendidikan berkeadilan,” kata Gusman Yahya dari Putera Sampoerna Foundation.

Gagasan Presiden Prabowo tentang sekolah rakyat bisa saja mengubah wajah pendidikan nasional ke arah lebih inklusif. Namun, kalau negara butuh contoh, SMA Negeri Sumatera Selatan bisa jadi rujukan konkret—sekolah rakyat dalam arti sesungguhnya yang sudah lebih dulu hidup dan memberi harapan nyata. (imH)


Komentar Anda
Loading...