Pagelaran Legenda Pulau Cinta  Memukau Ratusan Penonton di Halaman Museum SMB II

23
pergelaran drama musikal legenda pulau cinta atau Ande-Ande Pulo Kemaro di halaman museum SMB II Palembang (6/7) malam. (BP/udi)

Palembang, BP- Rintik hujan masih turun  ketika pembawa acara membuka kegiatan pergelaran drama musikal legenda pulau cinta atau Ande-Ande Pulo Kemaro di halaman museum SMB II Palembang (6/7) malam.

 

Memang, sejak jam 1 siang tadi, hujan deras telah menyiram bumi Palembang. Untunglah, secara berangsur hujan mulai gerimis dan benar-benar berhenti ketika pertunjukan yang didukung oleh program hibah Dana Indonesiana,  Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dimulai.

 

Ratusan penonton yang sudah memenuhi   kursi di bawah tenda tampaknya sudah tak sabar untuk menyaksikan garapan seni pertunjukan kolaborasi antara seni musik, seni tari dan seni drama ini.

 

Di bagian kursi depan, tampak Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadibudpar)  Sumsel Aufa Syahrizal,  Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Palembang Bapak Septa Marus Eka Putra, SH., MH, budayawan Vebri Al Lintani yang dalam pementasan ini selaku penulis naskah, Kesultanan Palembang Darussalam yang diwakili oleh Pangeran Suryo Kemas AR Panji, Pangeran Wiro Iskandar Syahbani dan beberapa seniman Palembang lainnya.

Baca Juga:  Sosoknya Tegas, Pedagang Pasar Ini Yakini MUSI Menangi Pilkada

 

Sebelum pergelaran dimulai, Nurdin selaku penerima hibah Dana Indonesiana mengucapkan terima kasih  atas dukungan semua pihak, baik dari Disbudpar Sumsel, Disbud Kota Palembang, para seniman dan seluruh sanggar yang terlibat dalam pagelaran ini.

 

 

 

Lalu, dilanjutkan dengan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadibudpar)  Sumsel Aufa Syahrizal,  Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Palembang Bapak Septa Marus Eka Putra, SH., MH yang secara resmi membuka pergelaran seni tersebut.

 

“Kami dari pemerintah pasti selalu mendukung, apapun yang dapat kami bantu akan kami bantu sebatas kemampuan yang ada. Saya mengamati jejak rekam Nurdin sebagai seniman yang kreatif. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak didukung,” kata Aufa yang kemudian secara resmi membuka kegiatan.

 

Pergelaran dimulai.  Adegan pembukaan diisi oleh sembilan penari disabilitas dan satu penari di belakangnya. Pelibatan kelompok disabilitas yang memarik perhatian penonton ini dipandu oleh seseorang yang menggunakan isyarat.

 

Dilanjutkan dengan adegan kedatangan Tan Bun An  dari Tiongkok yang disambut oleh pamannya di Palembang.

Baca Juga:  Danrem 044/Gapo Mengikuti Upacara Penutupan Diklat Vokasi Kehumasan Untuk Unsur Pimpinan

 

Ketika di Palembang Tan Bun An bertemu pandang dengan seorang gadis Palembang bernama Siti Fatimah(diperankan oleh Shellyna Salsabila). Pandangan pertama itu membuat perasaan Tan Bun An  (dperankan oleh Erick Pirselly) menjadi tak karuan. Begitu pula dengan Siti Fatimah.

Melihat kelakuan Tan Bun An seringkali dia diolok-olok oleh pengawalnya (diperankan oleh Juanda). Paman Tan Bun An pun ikut heran dengan prilaku keponakannya ini.

 

“Hayya, sepertinya oe terkena penyakit cinta. Ini bahaya. Orang bisa bunuh diri gara-gara cinta,” kata Paman Tan Bun An yang diperankan oleh Yussudarson Sonov.

 

Karena takut akan terjadi apa-apa Singkat cerita, Paman Tan Bun An segera melamar Siti Fatimah. Kehendak berjawab, lamaran diterima oleh Abah Siti Fatimah dengan mahar tujuh guci emas yang akan dikirim dari Tiongkok.

 

Ketika menunggu kiriman ditampilkan pula pertunjukan Barongsai dan Wushu. Puncaknya, Tan Bun An sangat kecewa dan emosi melihat asinan sawi  di dalam guci emas.

Baca Juga:  Jelang UNBK, SMAN 3 Palembang Siapkan 120 Unit Komputer

 

Diapun membuang guci-guci emas tersebut. Namun pada guci ke tujuh, dia terpeleset, dan ternyata di bagian bawah guci adalah emas.

Tanpa pikir Panjang Tan Bun An segera terjun ke sungai musi. Dia bermaksud ingin mengambil emas yang telah dia buang bersamaan dengan enam guci emas tersebut. Namun, malangnya, dia tidak kembali lagi ke permukaan.

 

Melihat kejadian tersebut, Siti Fatimah pun menyusul Tan Bun An, dan juga tak kembali lagi.

 

Tinggalah Abah (diperankan oleh Imansyah dan Ebok (diperankan oleh Isnayanti Syafrida yang menangis histeris melihat anak  dan calon menantunya yang  menghilang ditelan Sungai Musi.

 

Drama musikal yang berdurasi sekita 70 menit ini didukung oleh Vebri Al Lintani (Penulis Naskah), Amir Hamzah (sutradara), Syawal (panggung), Rio Saputra (penata musik), Yayasan dan Sanggar Dinda Bestari, Universitas PGRI dan Komunitas Seniman Tari Kota Palembang (Kasta).#udi

 

 

 

Komentar Anda
Loading...