Gua Jepang  di Jalan AKBP H Umar Palembang,   Kondisinya Memprihatinkan , Lahannya Diduga Akan Dijual Oknum Warga 

20
Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya (AMPCB)  dipimpin Vebri Al Lintani dan didampingi anggota AMPCB Mang Dayat, Genta, Isnayanti , Minggu (9/6) mengunjungi Gua Jepang   di Jalan AKBP H Umar , Palembang .(BP/udi)

Palembang, BP- Kota Palembang menjadi salah satu kota yang pernah dijajah Jepang. Banyak bukti sejarah yang bisa dilihat yang merupakan peninggala Jepang seperti  Gua Jepang  yang berada di Jalan AKBP H.Umar atau tepat di belakang pasar KM 5 Kota Palembang. Di atas lahan kosong sekitar 2 hektare itu, gua itu tampak masih berdiri kokoh namun sayang terancam  roboh dan lahannya diduga akan dijual oknum warga.

Saat ini, tampak gua sudah dipenuhi rumput dan semak belukar karena tak ada perawatan. Pada bagian dalam terlihat gua dipenuhi sampah dan bau tak sedap.
Pihak Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya (AMPCB)  dipimpin Vebri Al Lintani dan didampingi anggota AMPCB Mang Dayat, Genta, Isnayanti , Minggu (9/6) mengunjungi Gua Jepang  tersebut.
Menurut Ketua AMPCB, Vebri Al Lintani  menjelaskan kunjungan ini merupakan agenda AMPCB  ke Gua Jepang di Jalan AKBP H Umar , Palembang.
“ Kita melihat kondisi , Gua  Jepang ini semakin memperihatinkan , mestinya ada dua bangunan , dimana bangunan kirinya sudah ambruk , sudah hancur dan akan terancam rusak berat dan terancam habislah , kemudian ada patok tanah bahwa menurut  sekitar   itu sudah di klaim tanah warga , karena ada undang-undangnya  untuk menguasai tanah tidak bisa seperti itu  tapi sangat mengherankan di tanah negara seharusnya cagar budaya tetapi ada tanah pribadi, ini ada apa kira-kira,” katanya.
Dan sekitar lokasi Gua Jepang tersebut menurutnya sudah menjadi lokasi pembuangan sampah dimana harusnya lokasi tersebut menjadi tempat wisata.
“ Kalau melihat kondisi seperti ini , Gua Jepang ini betul-betul terancam punah dan bahkan isu warga setempat pernah ada yang menawarkan itu untuk dijual, kita mencoba menelusuri peningggalan Jepang yang ada disini dan ternyata  ada tiga rumah diatas satu , di lingkungan SMP Karya Ibu  satu dan dilingkungan Rimba Kemuning satu tadi jadi ada tiga rumah peninggalan Jepang kini sudah menjadi rumah pribadi,” katanya.
Tiga rumah tersebut  menurut Vebri memang bercirikan Jepang yang difungsikan sebagai posko atau juga bisa di  fungsikan bunker kecil.
“Kalau ditembak tidak tembus dan dindingnya tebalnya sampai satu meter,” katanya.
Pihaknya sempat menyambangi rumah peninggalan Jepang di dekat SMP Karya Ibu dan mewawancara warga yang menempati rumah peninggalan Jepang tersebut.
“ Selayaknya  peninggalan ini diperhatikan oleh pemerintah daerah, karena sebenarnya kita merdeka , untuk membangun tapi pembangunan tidak hanya fisik tapi juga jiwa bangsa , membangun jiwa bangsa itu ya mengingat sejarah , bahwa ada Jepang menjajah kita 3,5 tahun dan ada peninggalan-peninggalannya disini, dan mereka bangun bukan dari uang Jepang tapi dari uang dari tempat mereka jajah ini ,” katanya.
Selayaknya pemerintah daerah melihat Gua Jepang ini dari sisi pembangunan terutama jiwa bangsa atau pembangunan kebudayaan atau pembangunan sejarah ini semua untuk menumbuhkan nasionalisme , untuk mengenang sejarah.
“Tidak boleh kita melupakan sejarah, makin jauh kita dari identitas tambah lemah kita secara psihis , kita tidak percaya diri  dengan bangsa ini, dan Gua Jepang ini adalah karya orang Jepang, barangkali  orang Jepang yang anak anak veteran mau melihat Gua Jepang  ini , ingin melihat bapaknya berjuang di Gua Jepang tersebut, itu peluang untuk wisata, kenangan kenangan itu berpeluang di jual menjadi wisata,” katanya.
Dan pemerintah daerah dan Kodam II Sriwijaya harus melihat Gua Jepang ini sebagai aset.
“ Karena ini dikuasai Kodam II dulunya , dan komitmen Kodam II Sriwijaya untuk Gua Jepang ini tidak ada lagi, sementara ini banyak beralih tangan karena dulu prajurit menunggi aset Jepang ini kita tidak tahu proses beralihnya seperti apa, tetapi ini harus diharga sebagai suatu bentuk wilayah kekuasaan negara dan sebagai Defence Heritage,” katanya.
AMPCB kedepan menurut mantan  Ketua Dewan Kesenian Daerah ini akan mencoba secara umum mengkaji peninggalan Jepang ini sebagai Defence  Heritage atau budaya yang bernilai pertahanan termasuk Gua Jepang.
“ Kita akan lakukan kajian dan membuat rekomendasi , kita tetap meminta dan mengadvokasi pemerintah karena pemerintahlah yang punya wewenang, punya kekuasaan  dan anggaran untuk merevitalisasi Gua Jepang ini , ini sudah sangat-sangat genting, sangat terancam punah,” katanya.
Kedepan ada beberapa Gua Jepang lagi di Palembang yang akan dikunjungi AMPCB seperti di Jalan Joko, di Jakabaring , Lr Sikam Plaju dan  di Lebong Gajah.#udi
Baca Juga:  Perbaikan Balai Pertemuan Bisa Gunakan Dana Bangub Sumsel
Komentar Anda
Loading...