Dapat Kunjungan 24 Orang Mahasiswa  Pertukaran Program Kampus Merdeka, Ini Tanggapan Sultan Palembang

29

Kesultanan Palembang Darussala  menerima kunjungan 24 orang mahasiswa dan mahasiswi  pertukaran dalam program Kampus Merdeka yang berasal dari seluruh Indonesa  dari Kelompok Palembang Darussalam, Sabtu (27/4)  di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan Muhammad Mansyur Palembang.(BP/udi)

Palembang, BP- Kesultanan Palembang Darussala  menerima kunjungan 24 orang mahasiswa dan mahasiswi  pertukaran dalam program Kampus Merdeka yang berasal dari seluruh Indonesa  dari Kelompok Palembang Darussalam, Sabtu (27/4)  di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan Muhammad Mansyur Palembang.

Mereka berasal dari berbagai Universitas di Indonesia seperti Gorontalo, Pekalongan, Malang, Papua dan lainnya.

Hadir Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M Fauwaz Diradja, S.H.M.Kn , Pangeran Suryo Kemas Ari Panji, R.M.Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Yudo Heri Mastari, Radenayu Rahmaniah,  Dosen Pembimbing, Miftah Pratiwi S.Ikom M.I.Kom.

“Kita menyambut baik kedatangan dari mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Palembang Darussalam,” kata SMB IV .

Baca Juga:  Polresta Palembang Tetapkan Satu Tersangka Lagi Kasus SMA Taruna Indonesia

Kedatangan mereka sendiri, menurutnya tidak lain ingin mendengarkan langsung sejarah hingga peninggalan dari Kesultanan Palembang Darussalam.

“Jadi kita memberikan mereka pengetahuan mengenai sejarah tentang Kesultanan Palembang Darussalam hingga juga peninggalan yang ada hingga saat ini,” katanya.

Sedangan Pangeran Suryo Kemas Ari Panji  menceritakan, bahwa Kesultanan Palembang Darussalam kerajaan yang bercorak Islam berdiri di Palembang antara abad 17 hingga abad ke-19.

Kemudian pada 1823, Kesultanan Palembang Darussalam dihapus oleh Belanda saat itu. “Saat itu kita menang dua kali pertempuran melawan Belanda, yang ketiga kali kalah hingga terjadi penghapusan tersebut,” katanya.

Hal ini dikatakan saat itu Kesultanan Palembang Darussalam tidak mau mengikuti Belanda yang saat itu berhasil menguasai Kesultanan Palembang Darussalam.

Baca Juga:  25 Motif Songket Dalam Satu Gaun

Sehingga  SMB II dan Pangeran Ratu serta keluarga ditangkap, kemudian dibuang dengan menaiki kapal dageraad dengan tujuan Batavia pada 13 Juli 1821.

Sampai di Batavia, kemudian diasingkan ke Ternate hingga akhir hayatnya pada 26 November 1862.

Pada 2003, Kesultanan Palembang Darussalam dihidupkan kembali, tetapi hanya sebagai simbol kebudayaan di Sumsel.

“Saat itu ayahanda yang mulia, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M Fauwaz Diradja, S.H.M.Kn yaitu  Raden Muhammad Syafei Prabu Diraja  naik tahta dan di beri gelar SMB III,” katanya.

Setelah  SMB III wafat, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M Fauwaz Diradja, S.H.M.Kn pun naik Tahta menggantikan ayahnya pada 2017 yang penobatannya berlangsung di Masjid Lawang Kidul, dekat makam Sultan Mahmud Badaruddin I.

Baca Juga:  Peduli Dengan Palestina, Ratusan Massa Organisasi Singo Jalanan Datangi DPRD Sumsel

Sementara itu, Dosen Pembimbing, Miftah Pratiwi S.Ikom M.I.Kom menerangkan, bahwa mahasiswa pertukaran dalam program Kampus Merdeka mendatangi Kesultanan Palembang Darussalam.

“Kedatangan kita tidak lain ingin mendengarkan dan mendapatkan ilmu pengetahuan mengenai sejarah Kesultanan Palembang Darussalam,” katanya.

Bahkan juga ingin mengenal kebudayaan Palembang dari Kesultanan Palembang Darussalam, bahkan pada siswa yang hadir sangat antusias bertanya langsung kepada SMB IV Jaya Wikrama R.M Fauwaz Diradja dan Pangeran Suryo Kemas Ari Panji .

“Kita telah melihat langsung peninggalan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam di Museum SMB II, dan mendengarkan langsung sejarahnya dari SMB IV Jaya Wikrama R.M Fauwaz Diradja,” tambahnya.#udi

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...