
Oleh. M.Yasin
Akhir-akhir ini kita sering membaca atau mendengarkan kata “wastra”, yang melekat
pada kata batik dan kain atau kita sering menghadiri acara-acara dengan”dress code”
wastra. Secara etimologi kata ‘wastra” yang diseraf dari Bahasa sansekerta berarti
selembar kain.
Namun secara filosofis maknanya lebih dari sekadar selembar kain tapi
mencakup tentang simbol dan makna dalam berbagai dimensi corak, warna, ukuran dan
bahan serta Sejarah perkembangannya. Pengertian wastra juga mengacu pada kain
rajutan dan tenunan dengan berbagai bahan termasuk dari bahan kulit kayu, serat
tumbuhan dan lain-lain yang dalam proses produksinya dibuat secara tradisional.
Berbeda dengan “tekstil” yang produksinya cenderung menggunakan mesin.
Negeri kita Nusantara (baca:Indonesia) adalah negeri yang kaya dengan wastra
tradisional.
Dari sabang sampai Merauke memiliki wastra tradisional yang khas misalnya
kain tenun “ija duablah hah” dari Aceh. “ulos” dari Medan. “Songket Pandai Sikek”
Padang. “tenun Siak” Riau. “Kain Basurek” Bengkulu.
“Tapis” Lampung. “Songket”Palembang. “Kain Cual” Bangka Belitung. ”Sasirangan dan tenun ikat”.Kalimantan
Selatan. “Songket Sambas” Kalimantan Barat. “Grinsing,endek” Bali. “Tenun Donggala”
Sulawesi Tengah. “Tenun Sukomandi/lippa Saqbe” Sulawesi Barat. “Lippa Sabbe”
Sulawesi Selatan. “Lurik” Jogjakarta. ‘Batik” Jawa. “Batik” Betawi “Tenun Subahnale”
Lombok. “Songke/Tenun ikat” Flores. “Kain Sasirangan, Kain Noken” Papua dan banyak
lagi lainnya.
Sumatera Selatan dengan Ibu kotanya Palembang sangat kaya dengan wastra
tradisional. Dalam berbagai catatan dan kisah bahwa peradaban Melayu bermula dari
Palembang (Baca: Bukit Seguntang Ulu Melayu). Wastra yang sudah terkenal dan
menjadi warisan budaya dari Sumatera Selatan adalah
1. Songket.Palembang.
Adalah kain tenun khas Palembang yang terbuat dari benang sutra dan benang
emas yang ditenun dengan alat yang disebut “Dayan”. Songket Palembang
memiliki beragam corak atau motif. Yaitu; Lepus, limar,bunga, tabur, tretes,
rumpak. Pada tahun 2013 Songket Palembang sebagai karya budaya dari
Sumatera Selatan ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia sebagai “Warisan Budaya Tak Benda Indonesia”.
2. Jumputan
Kain jumputan adalah kain yang dihasilkan dari proses menjumput. Jumputan
adalah motif kain tenun dengan ragam bentuk yang dibuat mengikuti penutupan
bagian atau pola hias tertentu, kemudian diikat dan dicelup pewarna sesuai yang
diinginkan dengan berbagai motif seperti antara lain motif bintik tujuh, kembang
janur, bintik lima, bintik sembilan, cuncung (terong), bintang lima, dan bintik-bintik
3. Batik Palembang
Batik Palembang adalah wastra tradisional yang berkembang pada abad ke-16
ketika bangsawan dari kesultanan Demak Hijrah ke Palembang dan mendirikan
Kerajaan Islam Palembang pada tahun 1552 M. Pada awal masa ini terjadilah
alkulturasi antara budaya Melayu dan budaya Jawa. Salah satunya adalah
berkembangnya batik Palembang.
Dari berbagai sumber literasi menyebutkan ada banyak macam corak batik
Palembang diantaranya adalah Motif Lasem, Motif Jumputan, Motif Jupri
Kembang Teh, Motif Sisik Ikan, Motif Gribik, Motif Encim, Motif Kembang Bakung,
Motif Kerak Mutung, Motif Sembagi, Motif Songket, Motif Bungo Dadar, Motif
Bungo Delimo, Motif Bungo pacik, Motif Bungo Cino, Motif Bungo Tanjung, Motif
Babar Emas, Motif Babar Kecubung, dan lain-lain. Di berbagai daerah juga
berkembang Motif Mendale Kencane (batik Basemah), juga di daerah Musi
Banyuasin popular dengan “Batik Gambo”
4. Tajung dan Blongsong
Kain atau disebut juga Tajung dan Blongsong adalah sejenis kain tenun yang
berbentuk sarung atau selendang. Kain tajung biasanya dipakai oleh kau laki-laki
dan blongsong dipakai oleh kaum perempuan.
Demikian sedikit ulasan tentang wastra tradisional dari Provinsi Sumatera Selatan.
Dengan harapan semoga kita dapat melestarikan warisan karya budaya daerah
dan memakai sebagai busana kebanggaan.
Palembang, 19 Oktober 2023