Tim PKM  Jurusan Teknik Mesin Fakultas Tehnik Unsri Kenalkan Mesin Pengolah Limbah  Botol Plastik Jadi Filament Printer 3D Ke Warga Kelurahan Karangjaya

64
Tim Pengabdian Masyarakat Skema Perkuliahan Desa dari Jurusan Teknik Mesin FT Unsri yang terdiri atas: Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, MT., CIAP, Akbar Teguh Prakoso, ST., MT, dan M.A. Ade Saputra ST., MT., MKom bersama mahasiswa dan masyarakat Kelurahan Karang Jaya saat sosialisasi pembuatan filamaent printer 3D dari daur ulang limbah botol plastick (BP/IST)

Palembang, BP- Pada saat ini, penggunaan plastik sangat luas dan hampir di setiap sektor, termasuk wadah makanan, minuman, komponen mesin, mainan anak-anak dan lain-lain. Hal ini karena plastik murah, ringan, mudah dibentuk, dan mudah untuk dipergunakan dan dibawa. Namun menimbulkan persolan baru karena plastik bekas akan menjadi  sampah yang sulit diurai secara alamiah sehingga mencemari lingkungan. Limbah plastik yang dibuang kelaut akan menyebabkan ikan-ikan mati dan mengganggu ekosistem laut. Sedangkan plastik yang dibuang ke sungai akan menyebabkan penyumbatan saluran air yang dapat menyebabkan banjir. Sedangkan plastik yang berserakan ditanah akan menganggu sirkulasi udara dan air tanah yang menurunkan kesuburan tanah dan menyebabkan cacing-cacing tanah mati. Oleh karena itu, persoalan sampah akibat semakin banyaknya penggunaan plastik harus segera diatasi dan dicarikan solusinya.

Berbagai cara pengolahan limbah plastik telah diperkenalkan kepada Masyarakat. Namun harga jualnya rata-rata relative murah, Cuma Rp. 2000,- Namun daur ulang botol plastic dapat ditikatkan harga jualnya menjadi lebih dari 100% dengan cara dibuat menjadi filamen printer 3D.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) jurusan tehnik mesin Fakultas Tehnik Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, M.T., CIAP saat menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat pengolahan limbah  botol plastik menjadi filament printer 3D untuk industry kreatif sebagai aplikasi  mata kuliah material teknik di Kelurahan Karang Jaya Kecamatan Gandus Palembang, Jumat (29/9).

Baca Juga:  Polda Sumsel dan Jajaran Tak Izinkan   Perayaan Di Malam Tahun Baru

Sampah botol plastik  bisa di daur ulang dengan  menggunakan mesin ekstrusi untuk proses manufaktur filament 3D printer.

Proses ektrusi menggunakan alat ekstruder dengan cara membentuk potongan-potongan kecil yang kemudian akan dileburkan dengan suhu tinggi yang kemudian akan dikeluarkan melalui nozzle dalam bentuk filament sesuai geometri pada filament pada umumnya.

Mesin ekstrusi atau mesin ekstruder dirancang sedemikian rupa agar dapat mendaur ulang limbah-limbah plastik tersebut dimana terdapat hooper untuk penampang limbah plastik yang telah dihancurkan menjadi potongan – potongan yang kemudian didorong menggunakan motor screw lalu masuk ke tahap pemanasan yang dimana pada tahap ini sangat berpengaruh terhadap hasil ekstrusi dan menghasilkan filament yang dikeluarkan dari noozle. Hasil dari filament tersebut dapat dibuat berbagai jenis bentuk dan banyak kegunaan yang dicetak menggunakan mesin 3d printer.

Kegiatan ini  nantinya akan memberikan peluang bagi masyarakat yang bergerak pada industri kreatif.

Kegiatan ini diikuti warga Jalan Lettu Karim Kadir  RT 10 dan Rt 20 , Rw02 Kelurahan Karang Jaya Kecamatan Gandus Palembang dan dipusatkan Mushola Daud Marwah.

Menurut Diah kegiatan ini merupakan bagian dari  program tahunan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unsri

“Kegiatan hari ini pengabdian masyarakat yang dananya dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Unsri  dimana setiap dosen wajib melakukan pengabdian kepada masyarakat. Yang kami lakukan ini adalah hasil penelitian dari pak Akbar dan kawan-kawan membuat alat , alat itu, hasil penelitian itu kemudian di sosialisasikan kepada masyarakat ,alat itu adalah alat ridi printer mengolah botol limbah  plastic menjadi produk berharga , bahkan  bisa bernilai ekspor sebenarnya , dia bisa menjadi komponen mesin, bisa menadi souvenir dan bisa menjadi apapun yang kita inginkan ,” katanya.

Baca Juga:  Keterwakilan Perempuan dalam Politik di Indonesia Rendah,  Ini Komentar Pengamat Politik Sumsel

Selain itu menurutnya alat ini terbilang murah , harganya tidak mahal bahkan  tidak sampai Rp 1 juta  dan tahun depan jika masyarakat tertarik  pihaknya akan membuat desa binaan khusus untuk ini .

“Jadi akan kita bikin UMKM yang memang dia mengakar , kita tidak membuat kegiatan ceremonial , sekadar ramai –ramai , sekadar showup dengan masyarakat tapi kita ingin ini bisa  meningkatkan pendapatan asli daerah dan pendapatan perkapita sehingga ekonomi masyarakat naik,” katanya.

Dari penjelasan tadi menurutnya masyarakat mulai tertarik , walaupun belum bisa melakukannya   tapi masyarakat punya anak-anak SMA , SMK yang akan bisa dididik untuk mengoperasikan alat ini.

Hal senada dikemukakan anggota Tim pengabdian kepada masyarakat jurusan tehnik mesin Fakultas Tehnik Universitas Sriwijaya (Unsri) Akbar Teguh Prakoso ST MT , menjelaskan alat  ekstrusi  berfunsgi untuk mengubah dari limbah botol plastik  menjadi pilamen  atau tali  plastic untuk bahan di mesin cetak 3 D  untuk mengubah pilamen menjadi objek-objek  tiga dimensi dan bisa menjadi karya seni yang bernilai ekonomi. Dan mesin ini menurutnya dibuat tiga sampai empat bulan lalu atau sekitar Juni 2023.

Baca Juga:  Berantas Korupsi, Polda Sumsel Minta Masyarakat Pantau  Kinerja Pejabat Di Wilayahnya

“ Mesin ini sudah umum diluar negeri namun untuk di Indonesia masih asing di gunakan, jarang di pakai  dan untuk di Sumsel baru Unsri yang menggunakan. Tujuan kita bagaimana caranya meningkatkan nilai ekonomis dari limbah botol plastic tersebut,” katanya.

Apalagi pihaknya sudah bertanya kepada pemulung , pengumpul botol plastic, bahwa 1 Kg botol plastic bekas harganya cuma Rp2 ribu namun kalau kita olah dengan baik itu bisa menjadi 1000 persen.

“Artinya kalau 1 botol plastic itubisa membuat sebuah karya seni bernilai Rp200 ribu seperti membuat vas bunga dan lain-lain. Namun kendalanya adalah tehnologinya terbilang  tinggi dan rumit dan perlu adanya komunitas . Sedangkan 1 mesin ekstrusi ini di bandrol di harga Rp400 ribu sampai  Rp1 juta,” katanya.

Sedangan Ketua RT 10 Neli Yana menilai  kegiatan ini sangat membantu masyarakatnya karena kebanyakan masyarakat disini adalah pemulung  yang menampung botol bekas.

“ Dengan  adanya presentasi  ini membuka wawasan bagi warga  mungkin mereka mau buat seperti contoh tadi,” katanya.#udi

 

 

Komentar Anda
Loading...