AMP-BKB dan JA Tolak Perluasan Pembangunan RS Dr Ak Gani dan Lift Ampera

662

Ratusan mahasiswa  dari Universitas Sriwijaya (Unsri) , UIN Raden Fatah Palembang, Universitas PGRI Palembang dan Universitas Muhammadiyah Palembang yang tergabung dalam Aliansi  Mahasiswa  Penyelamat Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera (AMP-BKB dan JA) menggelar pawai aksi damai, Kamis (1/12) mulai dari Lawang Borotan samping Kantor Walikota Palembang  hingga ke Monpera Palembang.(BP/udi)

Palembang, BP- Ratusan mahasiswa  dari Universitas Sriwijaya (Unsri) , UIN Raden Fatah Palembang, Universitas PGRI Palembang dan Universitas Muhammadiyah Palembang yang tergabung dalam Aliansi  Mahasiswa  Penyelamat Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera (AMP-BKB dan JA) menggelar pawai aksi damai, Kamis (1/12) mulai dari Lawang Borotan samping Kantor Walikota Palembang  hingga ke Monpera Palembang.

Aksi dimulai dari Lawang Borotan lalu dilanjutkan dengan long march menuju kawasan pelataran BKB lalu  terakhir di Monpera , kegiatan tersebut diisi dengan pembacaan puisi, orasi dan pernyataan sikap.

Seperti  orasi  diantaranya yang  disampaikan  sejarawan Sumsel Dr Dedi Irwanto MA  berjudul ‘Jika Ada yang Rusak BKB-Ku, Lawanlah!’

Baca Juga:  Polda Sumsel Bersihkan Tempat Ibadah di Palembang

Lalu pembacaan puisi diantaranya berjudul Berjuang UntuK BKB yang ditulis sejarawan Sumsel Kemas A.R.Panji.

Mahasiswa ini menolak perluasan dan pembangunan empat lantai Rumah Sakit (RS) Dr Ak Gani di dalam kawasan BKB yang sudah ditetapkan sebagai  cagar budaya berdasarkan   Keputusan Menteri Kebudayaan  dan Pariwisata  No KM09/PW.007/MKP/2004.

Selain itu juga menolak  pemasangan  lift diatas Jembatan Ampera yanghanya dilakukan satu kajian  tehnis tanpa melibatkan kajian sejarah, arkeologi dan sosial budaya. Selain itu pemasangan lift dituding  akan merusak Objek Diduga Cagar Budaya (ADCB).

Menurut Koordinator Lapangan  , Wahyudi didampingi Koordinator Aksi , M  Fadlurrohman Subhi  pawai aksi damai dilakukan sebagai upaya untuk menolak pemasangan lift Jembatan Ampera.

Baca Juga:  Dodi-Giri Unggul di 11 Kabupaten/Kota

Menurutnya, pemasangan lift di Jembatan Ampera ini hanya memiliki satu kajian dari kajian teknis, tanpa melibatkan kajian sejarah, arkeologis dan sosial budaya.

“Selain itu pemasangan lif akan merusak Objek Diduga Cagar Budaya,” katanya.

Tak hanya itu, pihaknya juga menolak perluasan dan pembangunan RS AK Gandi di kawasan Benteng Kuto Besak yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No KM09/PW.007/MKP/2004.

Sedangkan budayawan  Sumsel Vebri Al Lintani mengapresiasi aksi mahasiswa tersebut.

Baca Juga:  Presiden Sibuk KAA, 'Groundbreaking' Palindra Diundur

“ Pembangunan empat lantai Rumah Sakit Ak Gani tentu akan merusak kawasan cagar budaya BKB, saya pikir ini tidak boleh terjadi dan pihak rumah sakit harus keluar dari BKB jika ingin membangun rumah sakit  bukan membangun dalam BKB,” katanya.

Sedangkan lift yang dipasang di Jembatan Ampera , menurut Vebri juga menjadi masalah karena Jembatan Ampera sejak dulu dikenal sebagai ikon kota Palembang.

“ Kita akan pertahankan Jembatan Ampera, apalagi dia masuk dalam cagar budaya mestinya dalam perbaikannya ada kaidah-kaidah dan tidak cukup dengan kajian konstruksi,” katanya.#udi

 

 

 

Komentar Anda
Loading...