Mengenal Lebih Dekat Conie Pania Putri, Dosen Universitas Kader Bangsa yang Berkarakter

PALEMBANG, BP – Dr. Conie Pania Putri, SH, MH, dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan yang berprofesi sebagai Dosen di Universitas Kader Bangsa. Wanita kelahiran Muaraenim, 31 Juli 1979 ini memulai karirnya menjadi Karyawan Administrasi di Perusahaan Swasta di Kota Palembang.
Di masa perkuliahannya, Conie dikenal sebagai mahasiswa yang sangat aktif. Dirinya menjadi aktivis pada tahun 1998 dalam menyuarakan suara rakyat. Karena hal itu, ia pun diangkat menjadi Ketua Dewan Pers Muhammaddiyah tahun 1998-1999 dan sering dikirim sebagai perwakilan kampus untuk kegiatan Ikatan Mahasiswa Muhammaddiyah (IMM) dan mengikuti berbagai UKM dari berbagai bidang seperti Jurnalis dan Seni.
Tetapi perjalanan karirnya pun tidak terbilang mulus, diperlukan usaha, tekad dan komitmen penuh, sehingga tidak mudah bagi Conie untuk mendapatkan karir sebagai tenaga pendidik yang gemilang seperti saat ini.
Lulus sebagai Sarjana Hukum di Universitas Muhammadiyah Palembang pada tahun 2021 tidak langsung menjadikannya wanita karir dengan profesi yang diinginkan banyak orang.
Ketika menyelesaikan kuliahnya, Conie memutuskan untuk mengawali karirnya sebagai seorang istri
dari Junaidi SE, MSi, yang pada saat itu merupakan kakak tingkatnya di dunia perkuliahan.
Tak lama setelah pernikahannya, lahirlah anak pertama yang membuatnya berkomitmen untuk menunda impiannya yang lain dengan berkosentrasi penuh untuk keluarga. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling benar.
“Akan sulit bagi seorang ibu muda untuk membagi waktunya dengan berkarir di tempat lain,” ujar Conie kepada BeritaPagi, Palembang, Sabtu (26/11/22).
Atas keputusannya tersebut, ia pun mendapatkan banyak cibiran dari beberapa orang bahkan keluarganya sendiri. Menurutnya sebagian orang lulusan Sarjana dan tidak bekerja adalah sesuatu yang sangat memalukan dan hal yang negatif.
“Padahal jika seorang perempuan memutuskan menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti dia tidak bekerja.
Itu pilihan yang bagus bagi seorang perempuan, karir seorang perempuan menjadi istri dan ibu adalah sesuatu yang sangat mulia dan bahkan didambahkan oleh perempuan lainnya,” jelasnya.
Ia menjadikan cibiran tersebut menjadi motivasi baginya untuk terus maju dan berkarya baik sebagai seorang istri dan ibu, maupun sebagai wanita karir di bidang lainnya. Hal itu terbukti dengan berbagi karya yang ia hasilkan.
Berawal dari dirinya yang memutuskan untuk menjadi seorang admin dengan gaji Rp1 juta hingga menjadi Direktur Utama di PT. Hotama Mediphar Palembang dengan penghasilan Rp20 juta/bulan yang membawahi 15 kantor cabang se-Semua itu berkat usaha, konsistensi dan komitmennya untuk bekerja secara penuh DN membuktikan bahwa ia bisa mencapai semua itu jika ia ingin dan berusaha.
Meski lulusan ilmu hukum, dan tidak mengetahui dunia perekonomian dan kesehatan. Ia mengaku dengan kemauannya untuk belajar membuat ia berhasil menempati posisi tersebut.
“Ibu pernah tes hakim dua kali dan tidak lulus. Tapi ibu tidak down, berarti itu memang bukan jalannya.
Begitu ibu dapat di marketing, ya sudah ibu jalanin sepenuhnya, tidak setengah-setengah, karna ibu tau inilah jalan yang dipilih tuhan untuk ibu,” ujarnya. Conie pun seakan tidak kehabisan energi dan usaha, pada tahun 2012 ia memutuskan resign dari perusahaan tersebut dan membuka PT. Srikandi Tiga Putri Palembang pada tahun 2013.
Hal itu juga dikarenakan dirinya yang ingin fokus mengurus puta ketiganya. Menurutnya, dengan mendirikan perusahaan sendiri, ia dapat menentukan targetnya sendiri, sehingga ia bisa menyeimbangkan urusan keluarga dengan karirnya.
“Saya tidak mau, satu anak menjadi korban karena keambisan saya mencapai hal lain,” katanya.
Ia yang telah selesai melanjutkan S2 nya di Universitas Muhammadiyah Palembang pada tahun 2012, kembali melanjutkan S3 di Universitas Borobudur Jakarta.
Dipilihnya kampus tersebut karena dirinya ingin memperluas jaringan dan pertemenan. “Saya punya impian menjadi guru besar karena karir tertinggi seorang dosen adalah menjadi guru besar,” tuturnya.
Tidak mudah baginya untuk menyelesaikan pendidikannya tersebut, karena ia dianugerahi seorang putri dia masa perkuliahan S3 nya. Tetapi karena ia berpegang teguh pada komitmennya untuk menjadi guru besar dan membanggakan kedua orang tuanya, ia pun bersikeras melanjutkan pendidikannya hingga menyabet gelar Doktor di tahun 2019.
Lalu pada tahun 2020, ia dipercaya untuk menjabati Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum di Universitas Kader Bangsa Palembang sekaligus menjadi Plt Dekan Fakultas Hukum Universitas Kader Bangsa mulai dari tahun 2021 hingga saat ini.
Ia dipercaya untuk merangkap dua jabatan ini, dan dibawah kepemimpinannya, terbukti jumlah mahasiswa S2 Ilmu Hukum di Univ Kader Bangsa Palembang meningkat 100 persen dari tahun sebelumnya.
“Dari yang tadinya hanya 18-30 mahasiswa menjadi 70 mahasiswa S2 Ilmu Hukum,” katanya.
Dirinya pun menyukai dan menikmati profesinya sekarang. Bertemu dan berinteraksi dengan mahasiswa serta diberi kesempatan untuk menyampaikan ilmu-ilmu teori dan nasehat kepada mereka adalah tugas yang ia tekuni dan senangi saat ini.
Menurutnya dengan memberikan nasehat berupa pendidikan karakter bagi mahasiswa dapat memberikan motivasi dan pencerahan, sehingga terciptanya karakter yang terbaik dan dapat diterima keluarga bahkan masyarakat luas.
Seorang pendidik tidak hanya bertugas dalam menyampaikan teoriteori tentang ilmu pembelajaran yang menyangkut mata kuliah saja, tetapi pendidik juga dapat memberikan pendidikan karakter bagi mahasiswa.
Khususnya pada mahasiswa S1 yang terbilang masih mencari jati diri dan dikenal sebagai pelajar uang sudah bebas dan harus bisa menganalisa sendiri.
“Mereka belum tau dunia kerja dan dunia dengan lingkup yang lebih luas, mereka masih mencari jati diri, mereka merasa lepas dari aturan apapun seperti saat di SD, SMP, SMA. Artinya, pada saat mereka menjadi mahasiswa inilah pendidikan karakter diperlukan,
kalo tidak mereka mana tau arah dan terjadinya salah pergaulan, langkah dan semacamnya,” jelasnya.
Menurut Conie, seorang pendidik harus dapat menanamkan pendidikan moral, agama dan tentang bagaimana menjalani hidup dengan baik. Pencerahan dan pendidikan kepada mahasiswa ini sangat diperlukan, karena tidak semua mahasiswa berinteraksi dengan baik dengan orang tuanya.
Pendidik inilah yang dapat memberikan sebagian peran tersebut, salah satunya dengan memberikankasih sayang sebagai dosen.
Selain itu, Mahasiswa S2 dan S3pun juga diperlukan pemberian pendidikan karakter. Dirinya melihat dari beberapa kasus kekerasan dan penggelapan dana kas negara yang dilakukan oleh oknum-oknum yang bisa dibilang merupakan seorang yang berpendidikan.
Hal itu mungkin terjadi dikarenakan pendidikan karakter yang belum tertanam di diri seseorang.
Ia pun berharap, pendidikan karakter ini mengarahkan para mahasiswa agar mereka bisa bekerja sebagai proporsional dan menjunjung tinggi integritas terhadap negara dan institusi mereka, sehingga dapat menjaga nama baik institusi dan keluarga. #adl