Galeri Wong Kito, Usaha Jumputan dan Ecoprint yang Mendunia

87
GALERI WONG KITO – Beberapa produk seperti kain, tas, dompet, yang dijual di Galeri Wong Kito. BP/Adelia

 

Memulai usahanya sejak 2018, Anggi Fitrilia Putri, sama sekali tidak menyangka Jumputan khas Palembang berbahan alami dari Galeri Wong Kito, bisa berhasil ekspor sampai ke Amerika Serikat.

UNGKAPAN ‘Hasil tidak akan menghianati proses’, tampak tepat mengambarkan pencapaian dari  Anggi Fitrilia Putri, pebisnis perempuan yang menekuni bisnis kain jumputan Palembang dari Galeri Wong Kito yang berada di Lorong Setiawan Bukit Lama, Palembang.

Berawal dari 2018, ia coba peruntungan memproduksi kain jumputan khas Palembang dari pewarna alami seperti gambir, secang, daun jati, jelawe dan bahan alami lainnya. Di Galeri Wong Kito, ia juga berinovasi dengan mengkombinasikan kain jumputan dengan serat alami, seperti kulit kayu dan kulit domba yang kemudian dijadikan tas, pouch, dompet, sajadah.

Baca Juga:  Palembang Kembangkan Tekonologi dari Jerman

Terdapat sepatu yang bahkan terbuat dari bahan alami beserta produk lainnya yang dibandrol dengan harga mulai dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah tergantung dengan tingkat kesulitan pewarnaan.

Menurut Anggi, keunggulan kain yang dihasilkan dengan pewarna alami dengan pewarna sintetis adalah warnanya yang khas, unik, dan punya daya tarik tersendiri ,selain itu meski kain diproses dalam waktu yang sama, hasil yang diperoleh tidak akan sama persis sehingga hanya akan ada 1 motif dalam suatu produk yang akan memberikan kesan eksklusif bagi yang memakainya.

Baca Juga:  Golkar Sumsel Bagikan 500 Paket Daging Kurban Ke Masyarakat

Dari segi kualitas, pewarna alami akan menghasilkan kualitas yang lebih baik dan dapat dilihat dari uji ketahanan luntur warnanya.

“Pemanfaatan pewarna alami pada suatu kain akan menghasilkan warna yang kecokelatan dan warna yang berbeda-beda, tergantung dengan jenis mordan dan cuaca.” ujar Anggi kepada BeritaPagi, Minggu (11/9).

Kain jumputan hasil Galeri Wong Kito, kini telah menjadi oleh-oleh khas Kota Palembang, pesanan akan kain ini pun juga datang dari berbagai instansi, mulai dari Bank Indonesia, para Perwakilan Sumatera Selatan, dan kantor-kantor Pemerintah Daerah, bahkan sampai ekspor ke Amerika Serikat.

Baca Juga:  Migor Kembali Langka, Aleg PKS: Pemerintah Lalai Monitor Pasokan Minyak Sawit 

Zat warna alami seperti gambir dan jati juga lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan zat warna sintetis. Bahan-bahan yang digunakan dalaam proses pewarnaan dengan gambir maupun bahan lain merupakan bahan-bahan alam yang biodegradable sehingga pengelolaan limbah yang dihasilkan lebih mudah dibandingkan dengan pengelolaan zat warna sintetis yang terbuat dari bahan kimia berbahaya. #Adelia

 

Komentar Anda
Loading...