Bangun Pulau Kemaro Harus Ada Dukungan Masyarakat, Legalitas sejarah dan Hukum

Palembang, BP- Universitas Terbuka Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Palembang menggelar Fokus Group Discussion (FGD) tentang Potensi Pengembangan Wisata Pulau Kemaro, Kamis (24/6) sore. Di Grand Atyasa Convention Center .
Hadir sejumlah narasumber diantaranya zuriat Kiai Marogan Ustad Yayan, aktivis adat Beni Mulyadi, sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji dan Dedi Irwanto, perwakilan zuriat Kapiten Bongsu Hj Maliha , tokoh adat Albar S Subari.
Juga hadir Ketua peneliti UT Pusat Dr Darmanto M. Ed dan anggota Dr Heri Wahyudi dan Direktur UT Palembang Dr Meita Istianda SIP Msi.
Direktur UT Palembang Dr Meita Istianda SIP Msi mengatakan, kalau memang Pulau Kemaro ini dianggap memiliki potensi wisata, potensi wisata seperti apa.
“ Dari aspek masyarakatnya sendiri maunya bagaimana, tentunya untuk membangun hal tersebut harus ada dukungan dari masyarakat,” katanya.
Lalu dari aspek sejarah dan legalitas hukum sendiri sehingga antara pemangku kepentingan dan masyarakat masih bisa ada titik temu.
“ Kalau tidak ada , apa yang harus dilakukan untuk Palembang, apakah ada spot-spot lain yang mungkin bisa diangkat dalam kaitan konteks sejarah dan budaya.
“Kita tidak mau juga hanya sebatas slogan, Palembang adalah kota sejarah yang kalau kita lihat sejarahnya lebih tua dari Jakarta sendiri tapi minim sentuhan , kita mau masuk dari mana, kalau memang Pulau Kemaro dianggap berpotensi atau tidak berpotensi apa yang harus kita lakukan ,” katanya.
Menurut Meita dirinya hanya memfasilitasi penelitian dari teman-teman peneliti UT Pusat ini terkait Pulau Kemaro ini.
Sedangkan Zuriat Kiai Marogan Ustad Yayan mengatakan, walaupun Pulau Kemaro secara hukum masih tetap milik zuriat Kiai Marogan namun pihaknya ingin ada win-win solution terkait Pulau Kemaro.
“ Saya setuju kalau pengembangannya itu kita masuk lewat menarik emosi masyarakat disitu dengan agama , masjid misalnya dan kalau misalnya dari Gubernur sudah ada lampu hijau sudah ada dananya, saya pikir bagus juga tinggal konsepnya seperti apa, tinggal di dorong saja sehingga legasi Kiai Merogan bermanfaat walaupun secara surat menyurat tidak bisa menebus tadi yang penting ada fisiknya , ada memang kegiatan yang bermanfaat,” katanya.
Sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji mendukung upaya zuriat Kiai Marogan membangun Masjid di Pulau Kemaro, karena selama ini orang susah untuk shalat di Pulau Kemaro karena tidak ada mushola.
“ Makanya kalau masjidnya, masjid untuk keluarga sendiri baik menghadap ke sungai Musi –Plaju maupun menghadap ke Pusri ke belakang, kalau Kelenteng nutup kita punya pelabuhan sendiri,” katanya sembari mengatakan, potens pengembangan pariwisata di Pulau Kemaro sangat besar.#osk