Perkembangan Tradisi Perahu Bidar di Sungai Musi Pada Masa Kini

194

 

Oleh: Dita Asih Setia Tuhu

(Mahasiswa Universitas PGRI Palembang Program Studi Seni Pertunjukan)

 

Sriwijaya merupakan kerajaan yang berpusat di Kota Palembang. Pada masa itu penjajah sering sekali memasuki kawasan Palembang melalui perairan Sungai Musi yang menjadi salah satu pusat perdagangan pada kala itu. Ada salah satu tradisi yang berperan cukup penting dan menjadi salah satu trik dan taktik masyarakat Palembang dalam menghadapi para penjajah pada masa itu yang digunakan untuk menjaga keamanan dari serangan oleh para penjajah. Tradisi ini bernama bidar yakni perahu yang asal nya dari kayu. Bidar juga adalah seni dayung yang berasal dari Kota Palembang, Sumatera Selatan.

 

Tradisi lomba Perahu Bidar biasanya dilaksanakan atau dirayakan ketika ulang tahun Kota Palembang pada tanggal 17 Juni dan juga pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. Perahu bidar ini dilaksanakan kononnya dari sejak tahun 1898 saat merayakan ulang tahun Ratu Belanda dan juga ditampilkan saat pesta untuk para pejabatan pemerintahan Belanda kala itu.

 

Perlombaan bidar ini merupakan tradisi yang bukan hanya dinikmati oleh masyarakat Kota Palembang saja tetapi dinikmati juga oleh masyarakat luar daerah Kota Palembang yang bukan hanya sekedar menonton tetapi juga mereka dapat mencicipi kuliner-kuliner yang ada di Kota Plembang seperti Telok Abang, Telok Ukan, Telok Pinang, Kue Lumpang, Kue Kojo, Srikayo, Gonjeng , Putu Melayang, Bubur Talam, Nagosari,Dadar Jiwo, Ule-Ulen Boges dan lain lain.

Baca Juga:  Calon Pemimpin Palembang Kedepan Miliki Sense Of Crisis Yang Tinggi Hadapi Covid-19

 

Menurut beberapa para ahli, Lomba Perahu Bidar ini juga awalnya hanya untuk kendaraan berperang dan menjaga keamanan di Sungai Musi tetapi untuk melihat eksistensi nya makan dibuatlah Lomba Perahu Bidar pada masa Kesultanan Palembang Darussalam sampai sejak sekarang ini.

 

Terlepas dari sejarahnya, ternyata Lomba Perahu Bidar ini sangat dinantikan oleh masyarakat setiap tahunnya. Khususnya masyarakat di Sungai Keramasan , anak sungai Musi. Dikarenakan sejak dahulu Keramasan memiliki masyarakat yang handal dalam akan berdayung Perahu Bidar. Mereka biasanya dapat disewa oleh organisasi, pemerintahan maupun perusahaan untuk membawa perahu bidar yang akan dilombakan.

 

Selain di daerah Keramasan Lomba Perahu Bidar ini juga pernah dilaksanakan di daerah 15 Ulu di Sungai Ogan pada Minggu [12/7/2020] yang digelar oleh Tokoh Masyarakat HM Toyib Akip yang juga penggagas perahu bidar mini. Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Sumatera Selatan, yakni Herman Deru.

 

“Tradisi perahu bidar harus dilakukan pembinaan. Baik secara budaya, olahraga,maupun tradisi. Apalagi saat ini jumlah perahu bidar besar jumlahnya tidak lebih dari 10 unit” ungkap HM Toyib Akip

 

Selain haya untu perlombaan, ternyata perahu bidar juga dapat menarik wisatawan untuk datang ke daerah Palembang. Tetapi sayangnya banyak para pendayung yang sudah mulai hilang karena kurang nya di lestarian acara bidar ini. Baiknya pemerintah agar tetap terus mendukung acara bidar ini setiap tahunnya agar nantinya dapat melihat para bibit-bibit pendayung yang akan tampil di ajang nasional maupun internasional.

Baca Juga:  Gubernur Cabut Izin Perusahaan Tak Daftar BPJS-TK

 

Perahu bidar yang biasa disebut biduk lancar ini biasanya memiliki ukuran yang bermacam-mcam yakni Bidar Kecik [mini] dengan jumlah pendayung 5-11 pendayung. Bidar Pecalangan sekitar 35 pendayung, serta Bidar Besak [besar] yang bisa mengangkut 57-58 pendayung. Perahu Bidar Besak panjangnya sekitar 26 meter, lebar 1,37 sentimeter, dan tingginya 70 sentimeter [tengah]. Sementara pada saat HUT Republik Indonesia, masyarakat Palembang menggunakan perahu bidar yang lebih besar, dengan panjang 29 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 80 cm. Perahu bidar tradisional ini butuh 55 orang pendayung.

 

Pada saat dahulu perahu bidar ini sancta sering digunakan oleh petugas penghubung, bentuknya kecil dan hanya muat satu orang. Seiring berjalannya waktu, sekarang ini lomba bidar bisa memuat belasan orang bahkan sekarang dapat mencapai puluhan sebagai pendayung. Sesuai dengan jenis perlombaan bidar yang akan dilaksanakan. Tim yang menjadi pemenang akan lomba bidar ini adalah tim yang baju nya paling cep atau mencapai finish lebih dahulu.

 

Tetapi sangat disayangkan ketika munculnya Covid-19 awal tahun 2020 kemarin. Membuat tradisi Perahu Bidar ini tidak digelar dikarenakan apabila acara ini dilaksanakan pasti masyakarat sangat antusias dam hal tersbut akan membuat keramaian.

Baca Juga:  Kampung Kapitan Ramai Dikunjungi Warga

 

Dikutip dari SIBERNAS.com, Palembang

Meski pandemi Covid-19 saat ini sudah landai, tetapi Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang tidak bisa memastikan akan menggelar lomba perahu Bidar di Sungai Musi sebagai acara rutin perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1339 pada 17 Juni 2022.

 

Sementara sejak pandemi Covid-19 Bidar tidak pernah diadakan karena larangan mengadakan acara yang menimbulkan keramaian.

 

Asisten III Administrasi Umum Palembang Zulkarnain mengatakan, pihaknya tidak bisa memastikan gelaran lomba perahu bidar atau biduk lancar di Sungai Musi.

“Lomba bidar kemungkinan diganti dengan aksi bidar mini saja. Tapi acaranya juga masih melihat kondisi apakah air surut atau tidak di bulan ini, tergantung cuaca,” katanya.

Pemkot Palembang sempat merencanakan aksi bidar di Sungai Sekanak Lambidaro sebagai kawasan proyek revitalisasi sungai untuk mengembalikan fungsi sungai seperti pengendali banjir dan sumber air sekaligus menjadikan destinasi wisata baru di Palembang.

“Tetapi untuk pergelaran di Sekanak Lambidaro masih rencana, karena kita melihat cuaca dari BMKG memprediksikan kondisi air. Jika tidak memungkinkan, lomba bidar mini juga tidak digelar,” katanya, Rabu (15/6/2022).#

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...