Kantor Arkeologi Sumsel Pastikan Lokasi  Penemuan Nisan Kuno Layak Dilanjutkan Penelitiannya

#Tinggal Kebijakan Pemkot Palembang dan Stekholder Terkait

90
Kepala Kantor Arkeologi Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. Wahyu Rizky Andhifani, MM. SS didampingi arkeolog dari Kantor Arkeologi Sumsel Retno Purwanti ketika menggelar jumpa pers di Kantor Arkeologi Sumsel, Jumat (21/1). (BP/Dudy Oskandar)

Palembang  BP – Kantor Arkeologi Sumatera Selatan (Sumsel)  memastikan lokasi penemuan enam nisan kuno dilokasi penggalian untuk pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan Pasar 16, tepatnya di Komplek Pertokoan Tengkuruk Permai Blok C, 17 Ilir, Palembang beberapa waktu lalu layak untuk dilanjutkan penelitiannya kedepan.

“ Kalau layak ya layak, tinggal izinnya dengan pemilik ruko dengan pemilik pasar, tapi ya lagi-lagi kebijakan kota untuk menangkap ini, karena ini bisa menjadi objek wisata , tapi balik lagi harus ngobrol bareng , duduk bareng,” kata Kepala Kantor Arkeologi Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. Wahyu Rizky Andhifani, MM. SS ketika menggelar jumpa pers di Kantor Arkeologi Sumsel, Jumat (21/1).

Apalagi kawasan 16 Ilir menurutnya adalah daerah perekonomian dan jantung  ekonomi kota Palembang.

“ Tidak hanya kami ada stekholder terkait seperti pihak Pemkot sendiri , Walikota, Bapeda,  Tata Kotanya seperti apa, Dinas Kebudayaan, TACB Kota dan Provinsi, itu harus duduk bersama , bisa juga DPRD,” katanya.

Mengenai lokasi penemuan nisan kuno tersebut menurutnya dia menduga telah ditimbun Belanda .

“ Kita khan menemukan dinding,  waktu penggalian kemarin  , kalau saya wawancara dengan kawan-kawan Waskita  yang menggali mereka bilang, kalau nisan ditemukan dalam kondisi rebah, udah dicabut dan sudah tidak beraturan itu analisis kita , dan zaman kolonial tempat penemuan itu memang ditimbun  oleh Belanda untuk pembuatan kota moderen,” katanya.

Selain itu pihaknya juga merekomendasikan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi dan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Palembang untuk melakukan tindakan konservasi lebih lanjut terhadap enam buah batu nisan kuno.

Dari hasil penelitian itu, nisan-nisan tersebut mengandung unsur bersejarah sebagai benda cagar budaya khususnya terkait sejarah di Kota Palembang.

Sebagai rekomendasi pihaknya  meminta kepada mereka untuk mengadakan konservasi terhadap nisan tersebut. Selanjutnya, setelah dikonservasi, apakah layak untuk dipajang atau mau dimasukkan benda

Baca Juga:  Hari Ini Puncak Arus Balik di Bandara SMB II Palembang

“Sebagai rekomendasi kami meminta kepada mereka untuk mengadakan konservasi terhadap nisan tersebut. Selanjutnya, setelah dikonservasi, apakah layak untuk dipajang atau mau dimasukkan benda cagar budaya itu terserah mereka. Bagi kami yang penting kami sudah menyelesaikan penelitian, walaupun masih tahap awal,” katanya.

Menurut dia, berdasarkan penelitian diketahui pemilik enam nisan tersebut merupakan sebuah keluarga tetua muslim yang kemudian bila dicocokkan dengan peta tahun 1821 mereka itu diduga memiliki keturunan pangeran di Palembang.

Sebab merujuk pada peta tahun 1821 itu sudah banyak berdiri rumah-rumah limas para pangeran di lokasi penemuan nisan-nisan tersebut.

Sedangkan arkeolog dari Kantor Arkeologi Sumsel Retno Purwanti menambahkan kawasan tersebut sangat layak dilakukan penelitian kembali.

Menurutnya kalau kawasan Pasar 16, tepatnya di Komplek Pertokoan Tengkuruk Permai Blok C, 17 Ilir, Palembang berdasarkan keterangan budayawan Palembang Djohan Hanafiah (Alm)  adalah penuh rumah –rumah para pengeran.

“ Kebetulan nisan yang kita temukan  memang satu keluarga tapi apakah ini ada keluarga besar yang lain semacam TPU  khusus untuk keluarga ini, ini yang kita tidak tahun,” katanya.

        Selain tambah Retno kalau ada niat baik  dari instansi-instansi terkait yang mengelola kawasan tersebut bisa saja pihaknya turun ke lokasi  dan tentunya ada yang mendanai.

“ Jujur dengan kami bersinergi ke Brint, kami enggak punya dana , ini mempersempit ruang gerak kami  kecuali Pemerintah Kota atau katakanlah pihak terkait memberikan kami sponsor kami untuk mengerjakan itu,” katanya.

Sedangkan batu nisan kuno yang ditemukan ini menurutnya terbuat dari batu granit.

Diduga, batu nisan kuno itu dibuat di abad ke-19 sampai 20 pasca era. Kesultanan Palembang Darussalam

“Dugaannya ini makam keluarga keturunan bangsawan dengan satu wujud,”  katanya.

Baca Juga:  Apresiasi Keputusan Presiden Cabut Perpres Miras,  PPP Sumsel  Dorong DPR RI Sahkan UU Larangan Miras

Dengan ditemukannya nisan kuno Retno mengatakan bahwa di lokasi tersebut pernah ada komplek pemakaman.

Dengan adanya temuan itu, Retno mengatakan membuat pihaknya bersyukur sehingga mendapatkan data bahwa tempat tersebut tempat bersejarah.

Menurutnya para peneliti arkeologi menganggap bahwa penemuan nisan-nisan kuno ini adalah sangat penting terutama untuk mendapatkan sisi pengetahuan akan sejarah Kota Palembang.

Sehingga ia menganggap selain dikonservasi maka selanjutnya penelitian terkait temuan ini sangat layak untuk dilanjutkan.

“Layak untuk dilanjutkan penelitian ini hanya saja tinggal izinnya boleh atau tidak, kami menunggu kebijakan dari pemerintah setempat untuk menanggapi penemuan ini seperti apa, tentu dengan pertimbangan – pertimbangan lainnya,” imbuhnya.

Menurut dia, tim peneliti dari kantor Arkeologi Sumsel berencana untuk menerbitkan hasil dari kajian-kajian dan penelitian terhadap penemuan tersebut dijadikan sebuah jurnal ilmiah sehingga bisa jadi acuan kalangan akademis dan masyarakat umum.

“In syaa Allah akan kami terbitkan di jurnal ilmiah

la mengharapkan, kedepannya kepada semua pihak yang menemukan diduga benda-benda bersejarah untuk dapat melapor ke pihaknya segera ataupun pihak terkait lainnya seperti Dinas Kebudayaan, Pariwisata ataupun Kepolisian setempat.

Sehingga benda-benda bersejarah tidak hilang ataupun rusak karena sangat penting dan berharga, untuk sebuah penelitian dan nilai sejarah itu sendiri.

Sementara Pengelola Data Arkeologi Inskripsi Arab kantor Arkeologi Sumatera Selatan Naf’an Ratomi mengatakan, inskripsi dari enam nisan tersebut terdiri dari aksara bahasa Arab dan Melayu.

Masing-masing seperti misalnya pada nisan pertama terdiri dari empat baris yang bertuliskan Fagod intigolat Ila Rahmatillahil Abror Niaji (Nadibah) Binti Abdu Al Aziz Falembani atau maka telah berpulang ke Rahmatullah dengan baik Niaji (Nadibah) anak perempuan Abdul Aziz dari Palembang.

Baca Juga:  Hitung Mundur, Duet Maut KONI Sumsel dan BO Olympus FH Unsri

Pada nisan kedua terdiri dari lima baris, bertuliskan Fagod intigol Ila Rahmatillah Al Malikul Abror Al Marhum Haji Abdurrahman Raja Ismail atau maka telah berpulang ke Rahmatullah raja yang baik Almarhum Haji Abdurrahman Raja Ismail.

Lalu nisan ketiga terdiri dari empat baris yang bertuliskan Fagod intigolat Ila Rahmatillahil Abror Niaji Rosyidah Binti Haji Abdurrahman Raja Ismail Palembang atau telah berpulang ke Rahmatullah dengan baik Niaji Rosyidah anak perempuan Haji Abdurrahman Raja Ismail dari Palembang.

Nisan keempat terdiri dari empat baris Wakana Wafatuhu Yaumil Isnain A Robi’ul Akhir Sanah atau dan adapun wafatnya pada hari Senin, 8 Robiul Akhir Tahun 1322 H.

Nisan kelima terdiri dari enam baris Berpindahlah Kepada Rahmatullah Perempuan Nama Nur’aini Binti Haji Abdurrahman Kepada dua hari bulan Rabiul awal atau telah berpulang ke Rahmatullah perempuan bernama Nur’aini anak Perempuan Haji Abdurrahman pada Tanggal 2 Bulan Robi’ul Awal

Kemudian terakhir pada nisan keenam terdiri dari empat baris bertuliskan Hijratun Nabi Sholla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam Wa Kana Wafatuha Khomsatu Wa’isrina Al Go’idah Sanatu Tsala Miatun Wa’Asyro Ba’da alpun . atau Hijrah Navi Sholawat Allah Atasnya dan Keselamatan dan Adapun Wafatnya Dua Puluh Lima  Al Qo’idah Tahun Tiga Ratus Sepuluh Setelah Seribu 1310

“Aksara dan bahasa itu menggunakan bahasa Arab dan bahasa Melayu. Dari enam nisan yang sudah kami temui satu-satunya yang menggunakan bahasa melayu adalah nisan ke-lima, kemudian dari identifikasi ia adalah perempuan,” ujarnya. #osk

 

 

 

Komentar Anda
Loading...