Identitas Empat Nisan Kuno di Palembang Mulai Terkuak
#Keempatnya Merupakan Keluarga Bangsawan Dari Keraton Beringin Janggut

Palembang, BP-Pasca pemindahan empat batu nisan kuno dari lokasi awalnya di lokasi penggalian untuk pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan Pasar 16, tepatnya di Komplek Pertokoan Tengkuruk Permai Blok C, 17 Ilir, Palembang ke Dinas Kebudayaan Kota Palembang , pada Senin (17/1) malam lalu.
Selasa (18/1) tim penelitian nisan kuno yang terdiri dari para arkelolog Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan (Sumsel) dan akademisi UIN Raden Fatah Palembang mulai membaca tulisan yang ada di batu nisan tersebut.
Tim penelitian tersebut terdiri dari Balar Sumsel terdiri dari Dr. Retno Purwanti, M. Hum, Dr. Wahyu Rizky Andhifani, MM. SS, Sigit Eko Prasetyo,M.Hum, M. Nofri Fahrozi, M. Hum, Titet Fauzi Rachmawan, SS, Nafan Ramthoni, SS., Mike Oktariza
dan Masyur Dungcik, P. Hd. M. Ag. (Fakultas Arab dan Humaniora, UIN Raden Fatah)
“Dari hasil bacaan kami, aksara yang digunakan pada nisan adalah Arab. Bahasa yang digunakan juga Arab. Jadi bukan Aksara Jawi, ini sudah dipastikan oleh Pak Masyur yang memang pakarnya,” kata Kepala Balar Sumsel Dr Wahyu Rizky Andhifani melalui Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang yang juga arkeolog dari Balar Sumsel , Retno Purwanti, usai melakukan kajian nisan kuno di kantor Dinas Kebudayaan Palembang, Selasa (18/1).
Dijelaskannya Retno pada nisan 1 tertulis “Faqod Intiqolat, Ila Rahmatillahi Abrar, Ni Aji (Nadibah) Binti Abdul Al-Aziz Falembani”
Untuk Nisan 2 tertulis ” Faqod Intiqol, Illa Rahmatillah, Al Malikul Dorar Al -Marhum Haji Abdurrahman Bin Raja Ismail”
Untuk Nisan 3 tertulis “Faqod Intiqolat, Ila Rohmatillahi Abrar Ni Haji Rosyidah Binti Haji Abdurrahman Raja Ismail Falembani
Dan Nisan 4 berbunyi “Wakana Wafatuhu, Yaumil Isnain , 8 Rabi’ul Akhir , Sanah 1322”
Retno mengatakan, penemuan batu nisan kuno itu sangat penting dan semakin memperjelas Keraton Beringin Janggut di Kota Palembang pada awal Abad ke 20.
“Lokasi nisan itu ditemukan di bekas Keraton Beringin Janggut, salah satu keraton yang pernah ada di Palembang,” katanya.
Retno mengaku pihaknya sudah membaca empat nama yang tertulis di nisan. Tulisan dengan aksara Arab ini menunjukkan jika makam tersebut merupakan satu keluarga dengan angka tahun 1322 Hijriah. TACB kemudian mengkonversi tahun 1322 Hijriah ke kalender masehi menjadi tahun 1904.
Menurut Retno, ada empat nisan yang ditemukan, 3 nisan memiliki nama dan salah satunya ada penanggalan tahun 1322 Hijirah.
“3 itu berisikan nama -nama dengan tulisan Arab, dan satu batu nisan lagi tentang tulisan tahun wafat yang dimakamkan ada tanggal, bulan dan tahun,” katanya.
TACB Palembang awalnya hanya mengetahui Jalan Tengkuruk di Palembang merupakan tempat tinggal warga keraton.
“Kita mendeskripsikan jika lokasi penemuan nisan itu memang di makam keluarga dari abad ke-19 hingga abad ke-20,” katanya. .
Menurutnya TACB akan merekomendasikan batu nisan kuno itu diamankan dan dipamerkan untuk masyarakat.
“Sehingga masyarakat tahu bahwa di Pasar 16 Ilir dahulunya merupakan tempat bersejarah, yang menjadi bagian Keraton Beringin Janggut.” katanya.
Dia menjelaskan, keluarga bangsawan yang berkeraton di Beringin Janggut menghuni lokasi penemuan nisan ini. Bukan berkeraton di Kuto Batu atau Benteng Kuto Besak. Namun nisan ini menunjukkan jika di antara pemukiman bangsawan tersebut juga terdapat komplek pemakaman keluarga.
“Kita belum memastikan apakah keturunan dari Sultan Abdurrahman, Sultan Mansyur atau Sultan Agung. Namun jika melihat dari fakta sejarah, kemungkinan makam keluarga ini keturunan di antara salah satu sultan,” katanya.
Senada, Kepala Balar Sumsel Dr Wahyu Rizky Andhifani menjelaskan, empat nisan tersebut diperkirakan dua nisan wanita dan dua pria.
“Ada nisan yang satu bapaknya dan satu anaknya perempuan. Satu nisan mempunyai sistem pertanggalan, yaitu 8 Rabiul Akhir 1322 Hijriyah. Bila kita konversikan sekitar 22 Juni 1904,” katanya.
Namun dia belum memastikan keberadaan nisan tersebut memiliki keturunan dari Sultan Abdurrahman, Sultan Mansyur atau Sultan Agung. “Tapi yang pasti, masanya pasca Kesultanan atau abad ke-20,” katanya.
Sebelumnya, hancurnya Keraton Kuto Gawang milik Kerajaan Palembang di kawasan 1 Ilir yang kini menjadi pabrik PT Pusri, setelah VOC berhasil menghancurkan Keraton Kuto Gawang pada tahun 1659.
Membuat pendiri Kesultanan Palembang Darussalam Ki Mas Hindi lebih memikirkan lagi tentang pembuatan keraton baru yang tidak akan mudah diserang oleh musuh, terbukti dipilihnya kawasan Beringin Janggut merupakan tempat yang strategis untuk berlindung dari musuh atau mengintai musuh jika ada yang datang sehingga didirikan Keraton Beringin Janggut.
Kawasan Beringin Janggut berupa “Pulau” yang dibatasi oleh Sungai Musi, Tengkuruk, Sungai Rendang dan Sungai Penedan.
Namun data tertulis maupun gambar sketsa mengenai keberadaan, bentuk, dan ukuran keraton ini hingga kini tidak ada. Daerah sekitar Keraton Beringin Janggut dibatasi oleh Sungai Musi di selatan, Sungai Tengkuruk di sekitar barat, Sungai Penedan di sebelah utara, dan Sungai Rendang / Sungai Karang Waru di sebelah timur.
Sungai Penedan merupakan sebuah kanal yang menghubungkan Sungai Kemenduran, Sungai Kapuran, dan Sungai Kebon Duku. Karena sungai sungai ini saling berhubungan, penduduk yang mengadakan perjalanan dari Sungai Rendang ke Sungai Tengkuruk, tidak harus lagi keluar melalui Sungai Musi.#osk