Kisah Pratu Ruslan Usman di Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang

291
Pratu Ruslan Usman (BP/Dudy Oskandar)

Palembang, BP–Perang 5 hari 5 malam merupakan peristiwa bersejarah perlawanan Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama rakyat Sumatera Selatan (Sumsel) khususnya Palembang  terhadap serangan pasukan Belanda  yang terjadi pada 1-5 Januari 1947. Perlawanan heroik itu merupakan bukti penolakan keras masyarakat atas kehadiran kembali Belanda di Kota Palembang.

Pratu Ruslan Usman kini berusia 93 tahun masih mengingat terjadinya  perang lima hari lima malam yang berawal sejumlah  prajurit Belanda yang melewati garis demarkasi dalam kondisi mabuk sambil menembak di Palembang.

Belanda sebut Ruslan , masuk di Palembang sekitar tahun 1946 ikut  Inggris, dimana pasukan Inggris ikut membawa tentara bayaran pasukan Gurka,  dimana pasukan Gurka  terbagi ada beragama Islam  dan Kristen serta  Hindu.

”Masjid Agung sehari semalam di pegang diamankan dari Gurkha dari Islam,” kata pria kelahiran Mendayun , Kabupaten OKU Timur ini ketika ditemui di kediamannya  di Jalan DI Panjaitan Lr Darurruhama No 055 Rt 28 Rw 010 Kelurahan Plaju Ulu Kecamatan Plaju Kota Palembang, Sabtu (1/1).

Sedangkan saat perang lima hari lima malam menurutnya  Dr Ak Gani sudah menjadi Menteri Kemakmuran kabinet Sutan Syahrir.

Baca Juga:  Polrestabes Palembang Tangkap Pencuri Sepeda Motor 

“Rumah pejuangannya ( Dr Ak Gani ) selalu di pakai,  sekarang ada di perbatasan tanah Kodim  dan di Jalan Merdeka,  jangan dibongkar kalau bisa dipindahkan karena kantor perjuangan di Palembang belum ada,” kata suami  Nimriaroh ini.

Hari pertama perang lima hari lima malam , menurutnya berawal  tentara Belanda menembak  tidak keruan sebagai pemicu perang perang lima hari lima malam.

“Sehingga pak Joko kelihatan dari gudang  beras  ditembak ,” kata bapak 8 anak ini.

Lanjut Ruslan , di perang itu pasukan Belanda sebenarnya sudah mulai digeser lantaran sudah terkepung oleh tentara dan laskar.

“Tiba-tiba Belanda ini mengajak berunding, padahal lah terdesak mereka tapi kita kalah di diplomasi, tentara Belanda berunding dengan Bambang Utoyo , Gubernur Sumsel Dr M Isa, Residen A Rozak dan panglima-panglima kita , mereka (Belanda) memohon agar supaya TNI meninggalkan kota Palembang sejauh 20 Km dengan perbatasan Simpang Payakabung,” kata pria yang memiliki 23 cucu dan 11 buyut ini.

Hal itu menurutnya ditambah dengan fisik anggota TNI sudah tidak memungkinkan dan tidak berkoordinasi dengan rakyat lagi maka diterima perundingan tersebut dan hanya TNI yang mundur tersebut bukan rakyat.

Baca Juga:  Bawa Sabu, Rusli Diamankan

“Atas keputusan itu  banyak yang berhenti dari TNI , lalu masuk di BPM (Perusahaan minyak Belanda di Plaju)  akhirnya , kalau kita terus tidak berhenti tugas. Kita nih hebat, memang kita sudah menang tapi pimpinan kita kalah diplomasi, kalau tidak,  habis Belanda itu,” katanya.

Mundur 20 Km  hingga Payakabung  Ruslan mengaku dia dan kawan-kawannya akhirnya merapat di Prabumulih dan dua minggu di Prabumulih mulai tiap anggota TNI di berikan tugas .

“Aku  dipindahkan jadi anggota polisi tentara di Baturaja, Markas Resimen 12 Polisi Tentara di Baturaja yang lain ada dipindahkan kemana-mana ada di Linggau , meneruskan perjuangan masing-masing, “ katanya.

Ruslan mengaku dirinya awalnya berasal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR)  lalu menjad polisi tentara yang belakangan namanya menjadi polisi militer di tahun 1948.

Mengenai markas Belanda di Palembang, Ruslan mengaku berada di Gudang Beras di Lemabang, di Boom Baru, Benteng , Charitas, sedangkan kawasan Seberang ulu menurutnya tidak ada Belanda.

Dia mengisahkan perjuangan saat di Baturaja saat melawan Belanda tepatnya di Ogan Ulu dari Pagar Gunung sampai Pagar Dewa, dimana mereka menghadang Belanda di Tangsi Lontar,  Tobuan , antara Tanjung Enim dengan Pengandonan.

Baca Juga:  Komisi IV DPRD Sumsel Cek Sejumlah Proyek Infastruktur di Kota Lubuk Linggau

“Kalau tidak ada pemberitahuan komisi Tiga Negara kami tidak tahu ada perjanjian  renville,  ngadu Belanda ke Komisi Tiga Negara , bilangnya orangnya hilang kena culik, kami didatangi Komisi Tiga Negara , bnilang kita ini sudah berhenti pertempuran hasil dari perjanjian renville,” katanya.

Sayang di umur 25 tahun, Ruslan mengaku dia  berherti menjadi tentara  sehabis pulang pendidikan di Cimahi.

Terakhir Ruslan  meminta agar perjuangan mereka di teruskan oleh  generasi muda lalu kemudian utamakan membangun diri dalam pembauran , dengan hidupkan kembali pembauran.

“Sekarang ini sudah kita lihat dulu waktu Soeharto seluruh bangsa asing dijadikan warga keturuan WNA jadi WNI , Cina tidak boleh memakai nama Cina harus nama Indonesia, hidupkan pembauran caranya antara RT dulu gotong royong kemudian hubungkan pembauran RT dengan RT , sekarang ini tidak ada pembauran seakan-akan WNI di kucilkan 17 Agustus tidak di ajak keramaian,”katanya.#osk

Komentar Anda
Loading...