Kisah Pratu Ruslan Usman di Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang

Palembang, BP–Perang 5 hari 5 malam merupakan peristiwa bersejarah perlawanan Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama rakyat Sumatera Selatan (Sumsel) khususnya Palembang terhadap serangan pasukan Belanda yang terjadi pada 1-5 Januari 1947. Perlawanan heroik itu merupakan bukti penolakan keras masyarakat atas kehadiran kembali Belanda di Kota Palembang.
Pratu Ruslan Usman kini berusia 93 tahun masih mengingat terjadinya perang lima hari lima malam yang berawal sejumlah prajurit Belanda yang melewati garis demarkasi dalam kondisi mabuk sambil menembak di Palembang.
Belanda sebut Ruslan , masuk di Palembang sekitar tahun 1946 ikut Inggris, dimana pasukan Inggris ikut membawa tentara bayaran pasukan Gurka, dimana pasukan Gurka terbagi ada beragama Islam dan Kristen serta Hindu.
”Masjid Agung sehari semalam di pegang diamankan dari Gurkha dari Islam,” kata pria kelahiran Mendayun , Kabupaten OKU Timur ini ketika ditemui di kediamannya di Jalan DI Panjaitan Lr Darurruhama No 055 Rt 28 Rw 010 Kelurahan Plaju Ulu Kecamatan Plaju Kota Palembang, Sabtu (1/1).
Sedangkan saat perang lima hari lima malam menurutnya Dr Ak Gani sudah menjadi Menteri Kemakmuran kabinet Sutan Syahrir.
“Rumah pejuangannya ( Dr Ak Gani ) selalu di pakai, sekarang ada di perbatasan tanah Kodim dan di Jalan Merdeka, jangan dibongkar kalau bisa dipindahkan karena kantor perjuangan di Palembang belum ada,” kata suami Nimriaroh ini.
Hari pertama perang lima hari lima malam , menurutnya berawal tentara Belanda menembak tidak keruan sebagai pemicu perang perang lima hari lima malam.
“Sehingga pak Joko kelihatan dari gudang beras ditembak ,” kata bapak 8 anak ini.
Lanjut Ruslan , di perang itu pasukan Belanda sebenarnya sudah mulai digeser lantaran sudah terkepung oleh tentara dan laskar.
“Tiba-tiba Belanda ini mengajak berunding, padahal lah terdesak mereka tapi kita kalah di diplomasi, tentara Belanda berunding dengan Bambang Utoyo , Gubernur Sumsel Dr M Isa, Residen A Rozak dan panglima-panglima kita , mereka (Belanda) memohon agar supaya TNI meninggalkan kota Palembang sejauh 20 Km dengan perbatasan Simpang Payakabung,” kata pria yang memiliki 23 cucu dan 11 buyut ini.
Hal itu menurutnya ditambah dengan fisik anggota TNI sudah tidak memungkinkan dan tidak berkoordinasi dengan rakyat lagi maka diterima perundingan tersebut dan hanya TNI yang mundur tersebut bukan rakyat.
“Atas keputusan itu banyak yang berhenti dari TNI , lalu masuk di BPM (Perusahaan minyak Belanda di Plaju) akhirnya , kalau kita terus tidak berhenti tugas. Kita nih hebat, memang kita sudah menang tapi pimpinan kita kalah diplomasi, kalau tidak, habis Belanda itu,” katanya.
Mundur 20 Km hingga Payakabung Ruslan mengaku dia dan kawan-kawannya akhirnya merapat di Prabumulih dan dua minggu di Prabumulih mulai tiap anggota TNI di berikan tugas .
“Aku dipindahkan jadi anggota polisi tentara di Baturaja, Markas Resimen 12 Polisi Tentara di Baturaja yang lain ada dipindahkan kemana-mana ada di Linggau , meneruskan perjuangan masing-masing, “ katanya.
Ruslan mengaku dirinya awalnya berasal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) lalu menjad polisi tentara yang belakangan namanya menjadi polisi militer di tahun 1948.
Mengenai markas Belanda di Palembang, Ruslan mengaku berada di Gudang Beras di Lemabang, di Boom Baru, Benteng , Charitas, sedangkan kawasan Seberang ulu menurutnya tidak ada Belanda.
Dia mengisahkan perjuangan saat di Baturaja saat melawan Belanda tepatnya di Ogan Ulu dari Pagar Gunung sampai Pagar Dewa, dimana mereka menghadang Belanda di Tangsi Lontar, Tobuan , antara Tanjung Enim dengan Pengandonan.
“Kalau tidak ada pemberitahuan komisi Tiga Negara kami tidak tahu ada perjanjian renville, ngadu Belanda ke Komisi Tiga Negara , bilangnya orangnya hilang kena culik, kami didatangi Komisi Tiga Negara , bnilang kita ini sudah berhenti pertempuran hasil dari perjanjian renville,” katanya.
Sayang di umur 25 tahun, Ruslan mengaku dia berherti menjadi tentara sehabis pulang pendidikan di Cimahi.
Terakhir Ruslan meminta agar perjuangan mereka di teruskan oleh generasi muda lalu kemudian utamakan membangun diri dalam pembauran , dengan hidupkan kembali pembauran.
“Sekarang ini sudah kita lihat dulu waktu Soeharto seluruh bangsa asing dijadikan warga keturuan WNA jadi WNI , Cina tidak boleh memakai nama Cina harus nama Indonesia, hidupkan pembauran caranya antara RT dulu gotong royong kemudian hubungkan pembauran RT dengan RT , sekarang ini tidak ada pembauran seakan-akan WNI di kucilkan 17 Agustus tidak di ajak keramaian,”katanya.#osk