Inilah Alasan Mengapa Karmawibangga Borobudur Ditutup
Palembang, BP—Program studi Seni Rupa dan Desain Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan AGSI DIY-Jateng menyelenggarakan workshop dengan tajuk One Touch Borobudur pada hari Senin (27/12) dan Rabu (29/12) Desember 2021 di Candi Borobudur. Program unggulan prodi Seni Rupa dan Desain ini dibiayai oleh dana Kemendikbudristek serta bekerja sama dengan perusahaan di bidang IT Geget Gigit.
Pindi Setiawan selaku pelaksana kegiatan menuturkan bahwa program ini bagian dari kampus merdeka yaitu mengaplikasikan hasil ilmu yang didapat mahasiswa di kampus untuk dikenalkan secara langsung kepada user (pengguna) dalam hal ini dunia pendidikan sejarah. Memang saat itu jurusan Seni Rupa dan Desain mengajak sebagian mahasiswanya untuk membantu mensosialisasikan hasil kerjanya setelah mendapat kuliah animasi relief Candi Borobudur.
Sementara itu Banung Grahita yang sekaligus sebagai ketua program studi Seni Rupa dan Desain mengatakan bahwa pelaksanaan workshop ini merupakan sosialisasi hasil riset yang langsung dipakai oleh masyarakat sehingga ketika pengunjung datang ke Borobudur tidak hanya melihat keindahan candi tetapi memahami makna dari setiap relief demi relief yang mengandung nilai-nilai dan norma kehidupan yang dibuat 1200 tahun yang lalu.
Program studi Seni Rupa dan Desain Fakultas Seni Rupa membuat proyak hasil penelitian Hendy Hertiasa yang juga dosen di jurusan yang sama tentang pembuatan animasi relief Candi Borobudur dengan memanfaatkan teknologi IT berbasis smarfphone.
Banung Grahita menambahkan bahwa rilief Candi Borobudur dibuat animasi dengan tujuan mengenalkan tokoh-tokoh dalam relief Borobudur. Dengan demikian maka harapannya animasi relief Borobudur tidak kalah menarik dibanding dengan dunia hiburan. Hanya saja perlu dipahami bahwa animasi disini tidak berarti relief itu dibuat film animasi, tandasnya.
Cara kerja proyek animasi ini memang belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hendy Hertiasa selaku peneliti mencontohkan dalam relief ada tokoh yang menunjukkan gestur berbicara. Dari tokoh itu kemudian dibuat animasi 4 gerakan orang yang selayaknya ketika berbicara sehingga tokoh itu seolah-olah hidup dan menarik dilihat.
Contoh lainnya menurut Hendy Hertiasa adalah animasi relief karma buruk yang ada di Karmawibangga yang terdiri dari 4 babak atau 4 adegan. Relief ini cara membacanya dari kanan kekiri, pintanya.
Dalam relief Karmawibangga itu (sekarang terpendam) adegan pertama dunia dengan segala isinya flora dan fauna, adegan kedua sekelompok orang menjala ikan, adegan ketiga orang direbus di nekara. Interpretasi dari reilief itu dunia ini dipenuhi dengan alam dan seisinya tetapi jika orang mengeksploitasi alam (menjala ikan) maka karma buruk yang didapat yakni bencana (direbus).
Ketiga adegan dalam relief Borobudur itu agar mudah dipahami oleh masyarakat dengan cara setiap adegan dipertegas dengan warna yang mencolok dengan disertai keterangan yang memadai tentang gambar dalam adegan tersebut. Dengan demikian user atau pengguna akan dapat memahami relief dengan mudah.
Lilik Suharmaji mengapresiasi proyek prodi Seni Rupa dan Desain ITB ini. Menurut Lilik yang paling harus dikenalkan kepada masyarakat adalah relief Karmawibangga yang letaknya ada dipaling bawah Candi Borobudur.
Relief ini sebenarnya mengelilingi sepanjang candi itu tetapi sekarang yang masih terlihat nyata dan utuh hanya 3 relief, sedangkan yang lain tertutup oleh bangunan candi. Relief candi di Karmawibangga sebenarnya mengajarkan karma baik dan karma buruk apabila seseorang melakukan aktifitasnya di dunia.
Lilik menilai relief ini lebih membumi dari pada di Rupadatu dan Arupadatu yang sudah mengandung unsur-unsur sufi (meninggalkan urusan duniawi). Hasil jepretan seniman yang dilukiskan pada waktu itu dan sampai sekarang masih tetap aktual di masyarakat. Untuk itulah Lilik mengapresiasi agar riset multi years ini tetap dilanjutkan sehingga masyarakat ketika datang ke Borobudur tidak sekedar melihat view keindahan Borobudur tetapi dapat memetik nilai-nilai yang diajarkan Candi Borobudur, tandas Lilik.
Sementara itu Hendy Hertiasa menegaskan bahwa Karmawibangga ditutup bukanlah karena relief itu mengandung unsur-unsur pornografi atau adegan cabul yang sering diperbincangkan di media sosial. Menurutnya relief di Karmawibangga tidak ada unsur cabulnya karena setiap adegan dalam relief dilukiskan memenuhi standar norma-norma.
Hendy Hertiasa mencontohkan ada adegan orang aborsi (sekarang sudah terpendam) cara aborsinya juga digambarkan tidak vulgar tetapi digambarkan menyamping sehingga memenuhi norma-norma yang ada. Untuk itulah Hendy Hertiasa menegaskan bahwa Karmawibangga ditutup bukan karana reliefnya mengandung unsur pornografi tetapi karena pertimbangan kontruksi demi keamanan dan kelestarian candi agar tidak roboh seiring dengan berjalannya waktu yang setiap hari menangung beban ratusan bahkan ribuan pengunjung saat naik di punggung Candi Borobudur.#osk