Banjir di Palembang, DR Momon Sodik Imanudin, MSC Sebut Rawa Banyak Ditimbun

Palembang, BP–Banjir besar yang terjadi, Sabtu (26/12) di kota Palembang kini menjadi momok masyarakat.
Menurut Ahli Sumberdaya Air Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Koordinator Peneliti Pada Pusat Data Rawa dan Pesisir Sumsel, DR. Momon Sodik Imanudin,MSC , banjir atau genangan akan selalu muncul di Palembang bila curah hujan tinggi diatas 100 mm selama 2jam.
Kondisi ini terjadi karena rawa tempat menyimpan air sudah banyak ditimbun.
“Rawa rawa hanya tersisa dipinggiran kota saja seperti di Kecamatan Kalidoni, Kertapati dan Jakabaring. Selebihnya 90% sudah kawasan padat huni,” katanya, Minggu (26/12).
Ditambah menurutnya sistem drainse yang belum bekerja maksimal.
“Ada dugaan hambatan aliran dari level mikro menuju makro. Jaringan sekunder kemungkinan ada yang tersumbat. Kondisi ini menyebabkan surutnya air jadi lambat,” katanya.
Kondisi saat ini juga drainase utama yaitu Musi..mengalami kenaikan air pasang. Meskipun tidak terjadi luapan di tanggul..tapi kenaikan muka air di Musi menghambat laju penurunan di sistem drainse makro kota Palembang.
“Kinerja drainase juga harus didukung peran warga menjaga kebersihan. Seringkali membuang sampah, membuang cucian lumpur mobil, membuang limbah cair dan lain-lain langsung ke selokan yang ahirnya terjadi pedangkalan,” katanya.
Selain itu menurutnya, untuk memaksimalkan kinerja pompa harus dalam sub Daerah Aliran Sungai (DAS) kawasan di buat polder.
“Kondisi sistem yang masih terbuka maka pompa tidak mampu..oleh karena itu harus ada kajian ulang zona kawasan banjir mana yang akan dikendalikan dengan pompa,” katanya.
Mengenai keberadaan kolam retensi dan kanalisasi untuk longstorage Musi yang paling efektif mengurangi genangan. Air harus disimpan sementara sebelum di buang ke anak sungai.
“Vertikal drain juga harus dikembangkan dengan pengadaan sumur resapan di setiap rumah penduduk dan perkantoran. Andaikan 1 sumur bisa simpan 3 kubik air maka untuk 1 juta rumah tahap awal bisa membantu panen hujan sampai 3juta kubik air.” Katanya.
Selain itu menurutnya perlu dilakukan pengendalian penimbunan rawa dengan memperketat perizinan.
“Bagi developer skala besar harus menyediakan kolam retensi dan sumur di setiap rumah menjadi syarat wajib dikeluarkan izin bangunan dan ruko-ruko dan perhotelan harus menyediakan sumur resapan,” katanya.
Pusat data rawa Sumsel menurutnya mempunyai gagasan untuk memfasilitasi gerakan wakaf rawa.
“Tujuannya untuk membuat rawa menjadi kolam retensi gerakan ini membuka masyarakat untuk membeli 1 saham rawa 1 meter perseginya 2juta . Mudah mudahan ini amal jariyah warga kota Palembang,” katanya.#osk