Sudarto Marelo Telah Berpulang Ke Rahmatullah

Suasana di rumah duka
Palembang, BP
Sudarto Bin Marelo yang akrab di panggil Sudarto yang merupakan salah satu penggiat, aktivis lingkungan yang juga penggiat sosial, budaya dan theater Sumatera Selatan (Sumsel) menghembuskan napas terakhirnya dan kembali ke rahmatullah, Senin (20/7) pukul 19.00 di Rumah Sakit Kundur, Mariana akibat penyakit diabetes yang dideritanya.
Jenasah sempat disemayamkan di rumah duka di Lr Garuda II, RT 39, No 1462, Kecamatan SU II Palembang .
Sejumlah karangan bunga terlihat memenuhi sepanjang menuju rumah duka, selain itu sejumlah rekan , kerabat, tetangga dan keluarga korban silih berganti mendatangi rumah alharhum.
Setelah di kafankan dan shalatkan, Selasa (21/7) jenasah di makamkan di Desa Pedamaran II, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Mantan Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) Vebri Al Lintani mengaku sempat bermimpi giginya lepas dua hari sebelum almarhum masuk rumah sakit pertama kali di Rumah Sakit Charitas .
“Dalam mimpi aku merasa gigi atas kanan copot, dua hari dari itu Sudarto masuk rumah sakit Charitas, waktu aku cerita dengan Dedek Chaniago yang mengantar, aku ceritakan dengan Dedek, dan berharap itu hanya sekadar mimpi,” katanya.

Sudarto Marelo
Setelah kepergian Sudarto, Vebri menilai benar mimpinya tersebut, karena jika menurut kepercayaan orangtua kalau gigi tanggal artinya ada yang meninggal.
Selain itu menurutnya Sudarto bukan hanya kawan bagi dirinya tapi sudah menjadi keluarga.
“ Aku kenal Sudarto mulai tahun 1989, waktu itu Teater Kembara butuh aktor untuk pertunjukan teater judulnya perampok karya Rendra, Sudarto, jadi ada uwong tigo juga latihan di Teater Dara , Sudarto kembali ke Lorong Garuda I, itu empat tahun tamat SMA, karena aku balik seberang ulu, dio balik ke seberang ulu , jadi latihan berdua , berjalan bersama-sama lalu akrab, aku sering kerumah dio, kalau ada Vebri ada Darto, aku kenal dengan keluarga dio, mulai bapaknya meninggal aku ke Pedamaran, jadi aku ke Pedamaran waktu bapaknya meninggal tahun 1993 sekarang sudah berturut-turut kakaknya meninggal, adeknya, ayuknya meninggal sekarang dio meninggal aku ke Pedamaran juga, sampai ngurus pensiun bapaknya berpangkat Lettu Tentara TNI Angkatan Darat, aku temeni Sudarto untuk kesaksi kawan-kawan bapaknya untuk pensiun,” katanya.
Menurutnya Sudarto adalah sosok setia kawan dan jujur hingga saat ini.
“ Kami sering sering latihan bersama dari Teater Kembara lalu tahun 1990 sama sama dengan Juluban buat Graha 176 digabung dengan Teater Bingung itu dulu Eddy Sohan dari Teater Kembara jugo jadilah Teater Gaung, banyak pementasan-pementasan di Teater Gaung banyak kawan-kawan kumpul pernah di rumah susun,”katanya.
Sekitar tahun 1991 malah menurut Vebri dia dan Sudarto pernah berkerja untuk menagih iuran televisi.
Sedangkan, Neko mewakili keluarga besar Marelo Bin Ibrahim mengucapkan terima kasih kepada para pelayat, jiran tetangga yang berpartisipasi pada hari ini baik moril dan materil.
“ Selain dilingkungan ini, Sudarto yang biasa warga sini dengan nama Kitung ini dikenal dengan rekan-rekannya baik seniman, baik itu aktivis lingkungan menyebut dia namanya Sudarto Marelo, bahwa baik bergaul sudah pasti dia berbuat khilaf, salah baik disengaja maupun tidak di sengaja, kami disini memohon meminta kepada baik teman yang ada dilorong ini , maupun teman-teman sejawat, rekan-rekan seprofesi dia, apabila dia punya salah baik besar maupun kecill kami meminta kesalahannya dimaafkan,” katanya sembari mengatakan jika ada sangkutan janji atau hutang piutang maka keluarga akan selesaikan.
Sudarto meninggalkan seorang istri bernama Rika Andriani dan seorang putra bernama Gamal Abdul Naseer.#osk