Ironis, Makam ibu Raja-Raja Palembang, Nyai Geding Pembayun Kini Terhimpit Ruko dan Rumah Warga

575
BP/IST
Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (Kopzips) berkerjasana dengan Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI) serta Komunitas Sejarah dan Budaya Plembang Nian Community , Sabtu (27/7) menggelar ziarah ke Gubah makam Nyai Geding Pembayun di Jalan Lingkar I, 15 Ilir, Dempo Luar Palembang

Palembang, BP
Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (Kopzips) berkerjasana dengan Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI) serta Komunitas Sejarah dan Budaya Plembang Nian Community , Sabtu (27/7) menggelar ziarah ke Gubah makam Nyai Geding Pembayun di Jalan Lingkar I, 15 Ilir, Dempo Luar Palembang.
Makam Nyai Geding Pembayun bersebelahan dengan makam suaminya Pangeran Tumenggung Manca Negara Cirebon bin Pangeran Adipati Sumedang bin Pangeran Wiro Kusumo Cirebon bin Sunan Giri.

Ironisnya, keberadaan makam ini , kini nyaris tak terdengar dan seakan hilang dari perkembangan sejarah kota Palembang, lebih ironis lagi makam Nyai Geding Pembayun kini terhimpit ruko dan rumah warga.
Padahal didalam catatan sejarah, Nyai Geding Pembayun merupakan sosok perempuan hebat dan tangguh, karena yang melahirkan Raja-Raja Palembang.
Ayahnya, Kemas Anom bergelar Ki Gede Ing Suro Mudo, adalah peletak dasar2 kedaulatan Kerajaan Islam Palembang yg menjadi penguasa Palembang dalam th 1573-1590. Ki Kede Ing Suro mendirikan istana keraton Kuto Gawang dan Masjid Candi Laras serta komplek pemakaman di Palembang Lama, 1 ilir, di tepian Sungai Musi (kini menjadi komplek PT Pusri).
Nyai Geding Pembayun merupakan anak pertama dari 8 bersaudara, mereka masing-masing: Nyai Geding Pembayun, Ratu Mas Adipati di Jambi, Kemas Adipati (memerintah: 1590-1595), Pangeran Madi Angsoko (1597-1629), Pangeran Madi Alit (1629-1630), Pangeran Siding Puro (1630-1639), Kemas Kembar, dan Nyimas Kembar.
Selama hayatnya, Nyai Geding Pembayun sempat menikah dua kali. Suami pertamanya ialah Kemas Tengah bin Kiai Arya Selempar bin Sang Aji Kidul bin Kiai Gede Siding Lautan priyai Demak, memperoleh seorang putri Nyimas Pengulu.
Setelah suaminya ini wafat, ia lantas menikah dengan Pangeran Tumenggung Manca Negara Cirebon bin Pangeran Adipati Sumedang bin Pangeran Wiro Kusumo Cirebon bin Sunan Giri.

Baca Juga:  Aset Tersangka Dugaan Korupsi Masjid Sriwijaya, Edy Hermanto Disita
BP/IST
Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (Kopzips) berkerjasana dengan Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI) serta Komunitas Sejarah dan Budaya Plembang Nian Community , Sabtu (27/7) menggelar ziarah ke Gubah makam Nyai Geding Pembayun di Jalan Lingkar I, 15 Ilir, Dempo Luar Palembang

Dari pernikahannya dg Pangeran Tumenggung Manca Negara ia dikaruniai 4 putra-putri yaitu Pangeran Ratu Mangkurat Sedo Ing Pesarean (memerintah: 1651-1652), Ratu Sinuhun Sabokingking, yg menyusun kitab adat Undang-Undang Simbur Cahaya, bersuamikan Pangeran Sido Ing Kenayan (1639-1650), Raden Arya Jayangsari, Masayu Antasari.
Acara dimulai dengan pembacaan yasin dan doa serta kajian sejarah serta diskusi.
Pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan mengatakan, kalau dirinya tahu makan ini tahun 1998, karena dekat kampungnya 16 Ilir.
“ Sini masyarakat menyebut daerah ini lorong Gedeng, Lorong Gedeng dari segi toponimi, Gede Ing, “ katanya.
Sosok Nyai Geding Pembayun menurutnya tidak bisa di lihat dari perspektif sekarang.
“ Memang dulunya daerah ini dikelilingi sungai dan itu masih kelihatan sisanya walaupun sekarang berubah menjadi drainase parit di depan situ, karena disini pertumbuhan kotanya lebih cepat, “ katanya.
Sedangkan Kuncen Nyai Geding Pembayun M Ali Hanafiah menjelaskan kalau makan ini dulu dikelilingi rawa dan jika musim hujan maka airnya turun cepat, sedangkan jika ada orang mau berziarah di makam ini ada sungai dekatnya dan sebelum berziarah di makam ini ambil wudhu di sungai tersebut.
“ Kalau menurut cerita nenek aku , setiap subuh , beliau (Nyai Geding Pembayun) suka keluar ke 16 Ilir, kalau dulu sungai itu bening airnya, besih , jadi setiap orang melihat buyut ini (Nyai Geding Pembayun) pastilah maaf ngomong terperangah, apabila kita tidur kaki telonjor kedepan , kalau beliau lewat subuh subuh pasti sentak kenyo, dan makam ini juga kalau dulu setiap burung lewat makam ini langsung jatuh, kalau dulu disini setiap sore monyet, siamang paling banyak, nah ilangnya entah kemana, disini dulu banyak hutan sekeliling ini,” katanya.

Baca Juga:  Elektabilitas AHY Tembus 11,6 Persen, Tama : Pemuda di OI Akan Memilih AHY Sebagai Presiden
BP/IST
Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (Kopzips) berkerjasana dengan Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI) serta Komunitas Sejarah dan Budaya Plembang Nian Community , Sabtu (27/7) menggelar ziarah ke Gubah makam Nyai Geding Pembayun di Jalan Lingkar I, 15 Ilir, Dempo Luar Palembang

Menurutnya sekarang hanya ada beberapa keluarga saja yang asli dari daerah ini.
“ Kami cuma ada beberapa keluargo bae disini, yang lain habis galo, misalnya kalau kami pindah dari sini sudah , idak mungkin lagi, sisip dikit dijadikan orang tempat apo be, terima kasih ada mendanai bangun makam ini, kalu dulu sekitar makam ini dibuat dari kayu dan kondisinya hancur, sekarang makam ini dibangun swadaya masyarakat jugo, malahan banyak orang tionghoa masang besi, masang kelambu, masang kramik dan baru-baru ini dari pemerintah, alhmdulilah tejago makam ini,” katanya mengapresiasi kunjungan ke makam ini dari Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (Kopzips) berkerjasana dengan Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI) serta Komunitas Sejarah dan Budaya Plembang Nian Community dan berharap tradisi ziarah ini bisa diteruskan lagi.
Kyai Efran dari NU Sumsel mengusulkan Kopzip membuat proposal untuk perbaikan makam ini melalui anggota DPRD Palembang dan masyarakat Palembang sendiri.
“Bagaimana tanah kuburan ini harus disertifikatnya, sehingga ada kekuatan hukum sehingga tidak ada orang mengklaim tanah kuburan ini, jangan sampai terjadi, payung hukumnya harus kuat
Sedangkan Ketua Kopzips Kms Muhammad Setiawan mengatakan, setiap bulannya akan melakukan ziarah dimana Agustus ini akan berziarah makam Pangeran Ing Madi Angsoko di Jalan Madi Angsoko.
“Dengan bersinerginya berbagai elemen dan unsur tadi dapat membawa kejayaan berziarah ke makam ulama dan auliyah Palembang Darussalam khususnya dan Sumsel pada umumnya ,” katanya.#osk

Komentar Anda
Loading...