Sangat Rumit dan Membingungkan, Undang Undang Pemilu Harus Diubah

21
Anggota DPR Firman Subagyodi ruangan wartawan DPR Jakarta.

Jakarta, BP–Anggota DPR Firman Subagyo menegaskan, Pemilu serentak 2019 sangat rumit dan membingungkan calon pemilih,  sehingga DPR sepakat  mengubah UU Pemilu agar pileg dan pilpres dilakukan terpisah.

“Terjadi pergeseran politik yang pragmatis, masyarakat lebih tertarik  membahas  capres dan cawapres,  sehingga pileg tenggelam,” ujar Firman di ruangan wartawan DPR Jakarta, Kamis (28/3).

Menurut Firman, UU Pemilu yang dilahirkan DPR tersebut sangat tergesa gesa tanpa memikirkan dampaknya. Dan KPU sebagai penyelenggara juga mengaku  waktunya sangat singkat mempersiapkan tahapan Pemilu.

“Jika penghitungan suara untuk capres telah selesai, bisa dipastikan pendukung calon yang kalah merasa kecewa dan yang menang bereforia. Sedangkan penghitungan suara untuk anggota DPRD/DPD dan DPR RI akan diabaikan panitia pemilihan. Sangat memungkinkan terjadinya manipulasi suara atau, bisa juga gedung DPR kosong,” kata politisi Partai Golkar ini.

Baca Juga:  Subsidi ke SP2J Bebani APBD Kota Palembang

Seharusnya kata Firman, pemilihan dan penghitungan suara untuk pileg didahulukan karena mereka  akan mengisi parlemen di DPR RI, DPD RI dan DPRD. Anggota legislatif  sebagai wakil rakyat yang bertugas  membuat UU, menyusun anggaran dan pengawasan terhadap pemerintah ini jangan sampai diisi orang yang tidak berkualitas.

Effendi Simbolon menambahkan,  pileg dan pilpres harus dipisah. Jangan sampai terjadi kekosongan di DPR RI. Selain dipisah,  penghitungan suara pileg terlebih dahulu daripada pilpres.

Baca Juga:  Italia Gagal Langsung Lolos Piala Dunia Qatar 2022

“Jika nanti pilpres sudah dihitung dan terjadi chaos, sementara pileg belum dhitung, maka parlemen sebagai lembaga pembuat UU akan kosong,” katanya.

 Khoirul Muqtafa Peneliti LIPI menuturkan,  caleg memiliki  modal ekonomi,  sosial, kultural dan simbolik. Sehingga caleg yang memahami keempat modal itu  berpeluang dipilih rakyat.

“Inovasi dan kreatifitas caleg berbeda antara satu daerah dengan daerah  lain. Semua tergantung kearifan lokal masing-masing. Kalau di Jawa Timur,  harus akrab dengan kultur santrinya,” kata Khoirul.

Baca Juga:  Ini Pesan Kapolda Sumsel Irjen Pol Toni Harmanto DiHUT Satpam Ke- 41

Ketua BEM UI Manik Marga Mahendrata mengatakan, mahasiwa  tertarik membahas pileg dan  pilpres. Mahasiswa lebih cerdas sehingga  mempertimbangkan rekam jejak  caleg maupun pilpres.

“Kita ingin  rekam jejak  caleg jelas, apalagi visi, misi dan programnya harus dijelaskan. Demikian juga pilpres, sehingga keberpihakan  politik itu bisa dipertanggungjawabkan,” papar Manik. #duk

Komentar Anda
Loading...