Skandal Asusila Orang Belanda di Palembang

Wanita-Wanita Eropa di Palembang tahun 1915
MESKI orang-orang Eropa dianggap sebagai orang-orang terhormat di Indonesia pada masa kolonial, namun ada juga orang berdarah Eropa yang bekerja dalam dunia prostitusi, atau setidaknya dunia yang tak mau dibicarakan oleh orang Eropa sendiri.
PROSTITUSI yang melibatkan perempuan-perempuan Indo-Belanda bukan hal baru di awal abad ke-20. Hendrik Naimeijer, dalam Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII (2012), mencatat beberapa pelacur berdarah campuran Portugis pada abad XVII. Mereka adalah Adriana Augustijn, Anna de Rommer, Dominga Metayeel, dan Lysbeth Jansz.
Ayah-ayah mereka Portugis sementara ibu mereka adalah perempuan-perempuan pribumi. Dalam bukunya Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah (2006), Sudarsono Katam menggambarkan eksistensi pekerja seks keturunan Belanda di Bandung pada era kolonial.
Pelacuran, yang mau tak mau selalu ada di Hindia Belanda, juga menjadi masalah serius. Banyak pegawai kolonial Belanda jika bicara soal perzinahan akan satu pandangan dengan Gubernur Jenderal Jan Pieterzon Coen yang sama-sama moralis yang benci pelacuran dan perzinahan. Gubernur Jenderal Coen pernah menghukum putri angkatnya, Sarah Specx atas tuduhan berzinah dengan Pieter J. Cortenhoeff, di Balai Kota Betawi di tahun 1629. Sarah Specx adalah putri dari pejabat VOC lain dari hasil hubungannya dengan seorang perempuan Jepang.
Sementara itu pejabat kolonial Belanda di Palembang juga berusaha membersihkan citra orang-orang Belanda dari prostitusi.
Di tahun 1906, Asisten Residen Palembang van Mark melaporkan kehidupan seksual seorang perempuan muda 24 tahun bernama Henriette Anderson alias Nona Jet.
Menurut catatan asisten residen, dulunya Nona Jet datang ke Plaju dan tinggal seatap dengan Sersan Nachtzijl. Mereka hidup di sebuah tangsi militer di Plaju, seberang kota Palembang. Suatu hari, Sersan itu berniat untuk menikahi Nona Jet, namun Nona Jet menolak dan minggat dari tangsi. Kemudian dia tinggal di Perkebunan Karang Ringin, Musi Ilir.
Nona Jet tinggal “di Jalan Sajangan, di kawasan 16 Ilir Palembang. Dia sudah memulai hidup cabul.
Dan lebih buruk setelah Nachtzijl pergi ke Eropa,” lapor Asisten Residen Van Mark kepada Residen Palembang pada 27 Juni 1906. Mark dan beberapa orang lainnya menilai Nona Jet melakukan prostitusi terselubung. Banyak laki-laki pernah menginap di rumahnya. Sang Nona pernah juga jadi perempuan simpanan seorang Tionghoa kaya di sekitar Palembang.
Suatu kali, Asisten Residen Palembang, Van Mark, memberi surat perintah pada Jet untuk memeriksakan diri ke dokter militer. Dia juga diberi uang untuk berobat ke Jakarta agar menjauhi Palembang. Nona Jet rupanya tersinggung dan tidak terima seolah dirinya dituduh sebagai pelacur. Maka, ia pun mengirim surat keberatannya kepada Residen Palembang.#osk
Sumber: Tirto.Id