Cawapres 2019 Sangat Ditentukan Situasi Negara

Jakarta, BP–Pengamat Politik Sirojudin Abbas mengatakan, posisi calon wakil presiden (Cawapres) periode 2019-024 sangat strategis dan ditentukan dengan kondisi negara. Jika kondisi ekonomi negara belum membaik cawapres yang pas adalah dari kalangan ekonom, bila isu sara semakin kuat maka cawapres yang cocok adalah tokoh agama nasionalis dan jika situasi keamanan kurang kondusif dibutuhkan cawapres dari kalangan militer atau polisi.
“Factor usia cawapres juga bisa menentukan mengingat pemilih pemula atau dari kalangan muda cukup banyak, sekitar 37 persen. Mungkin pemilih muda udah bosan dengan cawapres dari kalangan usia di atas 50 tahun. Ada juga usia lebih dari 50 tahun namun sikap dan pola pikirnya cocok dengan kalangan muda,” ujar Sirajudin di ruangan wartawan DPR, Jakarta, Kamis (9/11) dalam diskusi bertajuk Menakar Cawapres Potensial 2019.
Menurut Sirajudin, ketika musim Pemilu 2014, Wapres Jusuf Kalla sangat tepat mendampingi Joko Widdo karena JK telah berpengalaman di pemerintahan dan kader Partai Golkar. Itulah alasan Joko Widodo memilih JK menjadi pendampingnya pada Pemilu 2014.
Siapa sosok yang dimaksud menjadi cawapres ideal pada Pemilu 2019, Sirajudin tidak menyebut nama, namun dalam beberapa lembaga survey menyebutkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Muhaimin Iskandar, dan Gatot Nurmantio masuk bursa cawapres.
Dikatakan, kriteria cawapres dan nama-nama yang disebut di atas bisa terpental bila capres 2019 memiliki elektabilitas tinggi sebagaimana dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketika itu Pada Pemilu 2009 SBY memiliki elektabilitas tinggi sehingga berhakdan leluasa menentukan sendiri siapa cawapres, tanpa kompromi dengan Parpol pengusung.
“Kemungkinan capres Joko Widodo bisa leluasa memilih cawapresnya sepanjang elekatabiltasnya tetap tinggi seperti sekarang. Jika elektabilitasnya pas-pasan harus kompromi dengan partai pengusung,” tuturnya seraya menambahkan, capres 2019 kemungkinan dua tiga pasangan calon. “Yang pasti Joko Widodo bakal maju sedangkan Prabowo belum tentu,” tambahnya.
Anggota Dewan Syuro DPP PKB, Maman Imanul Haq menilai sosok Muhaimin Iskandar sangat tepat mendampingi Joko Widodo untuk melaju pada Pilpres 2019. Sebab, Muhaimin (Ketua Umum PKB) itu dianggab mampu meredam isu sara yang mulai memanas sejak 2016. “Sangat disesalkan adanya beberapa tokoh nasional menggunakan isu sara untuk menggolkan jagoannya. Mestinya tidak ada lagi isu sara dalam Pilkada dan Pilpres agar kehidupan di tengah masyarakat bisa harmonis, rukun dan damai,” kata Maman.
Diakui Maman, Presiden Jokowi berhasil membangun infrastruktur selama memimpin Indonesia, namun membangun sumber daya manusia (SDM) masih kurang khususnya meredam isu sara yang terus digoreng menjelang Pilkada maupun Pilpres.
Karena itu kata Maman, pendamping Joko Widodo diperlukan cawapres Islam moderat, damai dan melawan radikalisme. “Kehadiran Muhaimin untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur mengenai Islam yang damai, tolerans dan komitmen terhadap PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD NRI 1945)” jelas Maman.
Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon mengatakan, elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus meningkat. Pada Maret 2017 mencapai 0,4 %, per Oktober ini tembus 14,3 % melampaui Cak Imin (1,1%), Gatot Nurmatyo dan Anies Baswedan sebagaimana disebutkan lembaga survei Pollmark.
Dengan demikian kata Jansen, elektabilitas Jokowi akan tergantung kepada Cawapres yang akan dipilih. Kalau Joko Widodo memiilih AH, elektabilitas Jokowi makin naik dan situasi keamanan nasional semakin kondusif karena AHY dari latar belakang militer yang nasionalis. #duk