Kelanjutan IPAL Gunakan Uang Negara

25
Rapat Persiapan Pelaksanaan Groundbreaking IPAL Sei Selayur, Kamis (26/10).

Palembang, BP — Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) skala perkotaan di Sei Selayur mendapatkan hibah Rp500 miliar dari Kedutaan Australia. Dengan total pembangunan Rp1,2 triliun itu, Pemerintah Kota Palembang akan menggunakan dana APBD dan APBN untuk menutupi kekurangannya.

 

Sekretaris Daerah Kota Palembang, Harobin Mastofa mengatakan, lahan pembangunan IPAL Sei Selayur seluas 5,7 hektar sudah ada kendala. Masyarakat yang sebelumnya tinggal di lahan pembangunan, kini sudah direkolasi ke tempat lain.

 

Sehingga diagendakan 2 November mendatang dilakukan groundbreaking yang langsung dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia. “Ini adalah murni hibah dari Kedutaan Australia bukan pinjaman. Nilainya Rp500 miliar. Karena total nilai pembangunan ini Rp1,2 triliun maka bisa menggunakan APBD dan APBN,” katanya usai rapat rencana groundbreaking di Balai Kota, Kamis (26/10).

 

Ia mengatakan, Kota Palembang cukup beruntung. Sebab, Australia memberikan hibah murni. Kedepan, Pemkot Palembang akan kembali mengajukan kawasan Sungai Musi kepada Australia. “Kita harap mereka mau berpartisipasi memajukan Kota Palembang. Selama di Palembang ini, pihak Australia akan kita layani dengan baik,” ungkapnya.

Baca Juga:  IPAL Perkotaan Segera Dibangun

 

Tahap awal ini 12 ribu sambungan dengan perkiraan pipa distribusi sepanjang 8 Km. IPAL sekala perkotaan ini untuk wilayah Palembang bagian timur yaitu Ilir Timur (IT) 1, IT 2, IT 3 dan Kalidoni. Kota Palembang terpilih karena 96,07 persen warganya telah mengakses air bersih serta memiliki komitmen tinggi dalam meningkatkan sanitasi warganya terkait dengan penanganan drainase, limbah dan sampah.

 

“Seperti dapat dilihat di sepanjang aliran Sungai Musi, sanitasi warga masih jauh dari yang diharapkan. Masih ada yang buang air besar langsung ke sungai, atau jika pun ada WC namun belum ada septitanknya,” ujarnya.

Baca Juga:  Puluhan Hotel Abaikan Izin Kepariwisataan

 

Tim Leader Construction Management Consultant KIAT, Ronald Van De Kuilland, mengatakan, target pembangunan ditentukan pada 2022, semua pengerjaan selesai. Tahap awal ini adalah pematangan lahan, kemudian 2019 baru dimulai konstruksi. “Prosesnya 2018 ini kita lakukan pelelangan pembangunan. Kemudian 2019 kita mulai konstruksi. Saat ini kita harus lakukan pematangan lokasi,” jelasnya.

 

Menurutnya, pematangan lokasi ini karena ada tanah yang amblas jadi harus ditimbun, butuh compress lahan, ini supaya maksimal. Waktu maksimal 1 tahun, tapi kalau manual 7 tahun. “Kita gunakan metode free prevented bertikal drain. Ini sudah ada digunakan di kota lain seperti semarang 25 tahun lalu,,”ujarnya.

 

Pembangunan IPAL perkotaan ini memiliki tenggang waktu yang panjang. Sebab, pihaknya harus memasang pipa sepanjang 170 Kilo meter (Km). Hal ini dinilai butuh waktu sebab pipa akan dipasang di tengah ramainya rumah-rumah penduduk.

Baca Juga:  Bacapres Anies Baswedan Dapat Tanjak dan Gelar Cek dari SMB IV 

 

Ia mengatakan, IPAL dibuat dengan kapasitas 22 ribu sambungan rumah tangga. Hanya saja untuk tahap awal 18 ribu sambungan terlebih dulu. Nantinya, limbah akan disedot dari septic tank rumah tangga. Kemudian baru diolah diinstaslasi dan alirkan ke Sungai Musi dalam bentuk air yang bersih.

 

“Jadi dialirkan ke Sungai Musi bukan limbah lagi. Tapi air dalam keadaan bersih,” jelasnya.

 

Ia mengatakan, Palembang merupakan satu-satunya kota terpilih untuk hibah Australia. Sebelumnya lima kota, yakni Cimahi, Jambi, Pekanbaru, Makssar dan Palembang. Hanya saja ada yang tidak memenuhi, seperti tidak memiliki cukup lahan dan lainnya.  “Dengan komitmen tinggi Australia maka hibah diberikan, nilainya 45 juta AUD atau sekitar Rp500 miliar,” katanya. #pit

 

Komentar Anda
Loading...