Seni Budaya Beri Kedamaian dan Cegah Radikalisme
Palembang, BP

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Komunikasi Pencegahan Teroris (FKPT) Sumsel menggandeng komunitas seni dan budaya dalam mencegah paham radikalisme dan gerakan terorisme di Sumsel dalam dialog dengan tema ‘Pelibatan Komunitas Seni dan Budayawan dalam Pencegahan Terorisme’ di Hotel Aryaduta, Selasa (29/8).
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Komunikasi Pencegahan Teroris (FKPT) Sumsel menggandeng komunitas seni dan budaya dalam mencegah paham radikalisme dan gerakan terorisme di Sumsel dalam dialog dengan tema ‘Pelibatan Komunitas Seni dan Budayawan dalam Pencegahan Terorisme’ di Hotel Aryaduta, Selasa (29/8).
Sedangkan pemateri adalah seniman dan budayawan baik lokal maupun nasional. Dimana, sesion pertama akan tampil narasumber penyair nasional Adha Imran dan sastrawan nasional Joko Pinorba. Kemudian, sesion kedua menghadirkan pembicara Prof Nur Hayati, Dr Tareh Rasyid dan ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) , Vebri Alintani.
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel Drs Uzirwan Irwandi, MM yang membuka acara tersebut mengatakan, kalau Sumsel pernah menjadi persinggahan kegiatan terorisme.
“Jadi ada 11 orang itu napi terorisme ada di Sumsel, alhamdulilah sudah tujuh orang keluar yang kembali bersosialisasi dalam masyarakat,” katanya.
Pihaknya berharap, komunitas seni dan budaya di Sumsel bagaimana menciptakan seni budaya yang akan memberikan kedamaian , mencegah radikalisme di Sumsel .
“Tahun 2015 kami melakukan penelitian di perguruan tinggi besar di Sumsel, itu kekecenderungan radikal sudah diatas 50 persen tapi belum bersikap radikal,” katanya.
Selain dia berharap, kegiatan tersebut tidak habis sampai disini tapi karya yang dihasilkan bisa menciptakan kedamaian.
Sedangkan Ketua DKP, Vebri Alintani menilai, seni dan budaya dapat menembus batas dimana saja dan para seniman ketika ada bentrok politik , seniman masuk kemana-mana namun masuk ke suara-suara kedamaian.
“Fungsi kesenian seperti ini kita siarkan untuk memberikan keindahan , pencerahan pada masyarakat mengenai seni,” katanya.
Dan mulai hari ini dan kedepan bagaimana, fungsi seni itu mendamaikan semua pihak termasuk untuk meredam aksi teorisme yang ada.
Sedangkan Sastrawan nasional Joko Pinorba mengatakan, kalau sastra tersebut harus di terjemahkan didalam lagu hidup sehari-hari dan menjadi ekspresi hidup sehari-hari dalam rangka memerangi radikalisme.
“Dan kebiadaban berbahasa dalam media sosial adalah bentuk terorisme dalam bentuk yang lain , jadi yang dilakukan teman-teman sastrawan bukan memerangi terorisme dalam arti fisik tapi terorisme dalam bentuk rambu hidup, komunikasi, itulah sebetulnya ingin kita hadapi melaui jalan seni dan sastra ,” katanya.
Dan BNPT mulai tahun ini menurutnya, untuk pertama kalinya menggunakan pendekatan sosial budaya atau pendekatan sastra untuk memerangi radikalisme, kongkritnya nanti jika program ini selesai dalam satu tahun maka pihaknya memiliki sebuah buku berupa puisi-puisi karya penyair seluruh Indonesia yang berisi spirit cinta dan damai supaya menjadi contoh dan acuan seperti apakah sastra yang mengandung spirit cinta dan damai.
“ Kami berharap program BNPT ini akan berkelanjutan dan tahun depan berbeda bentuknya , buku itu nanti jika terbit bisa dijadikan materi program BNPT, “ katanya.
Sekretaris FKPT Sumsel, Dr Mgs Periansya SE MM mengatakan, pelibatan budayawan serta seniman dalam mencegah paham terorisme akan dilaksanakan dalam bentuk Dialog dengan tema ‘Pelibatan Komunitas Seni dan Budayawan dalam Pencegahan Terorisme sangat penting.
“Para seniman maupun budayawan adalah suatu komponen yang sangat penting khususnya untuk menyebarkan pesan kepada masyarakat untuk ikut serta mencegah munculnya paham terorisme,” katanya.
Dikatakan, para seniman atau budayawan, bisa memberi pesan bukan hanya melalui karyanya saja, tapi ketika melakukan kegiatan apapun. Diharapkan melalui dialog bertemakan Sastra Damai, Cegah Faham Radikal ini, dalam menghasilkan pesan-pesan yang mengandung makna untuk ikut serta mencegah. “Karena pesan-pesan yang disampaikan budayawan, para seniman akan lebih mengena dan lebih mudah untuk dipahami dibanding dengan bahasa-bahasa modern atau bahasa yang terlalu susah,” katanya.#osk